Simbol-Simbol mengenai Allah

Allah “bersemayam Dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (lih Im 6:16). Namun “Tuhan, Allah kita, telah berfirman kepada kita” (Ul 1:6). Tuhan telah menyatakan diri kepada manusia, baik dengan sabda maupun melalui karya. “Yang Mahakuasa, Tuhan Allah, berfirman dan memanggil bumi, dari terbitnya matahari sampai terbenamnya” (Mzm 50:1). Kita boleh mengenal Allah, namun selalu secara terbatas dan melalui simbol-simbol.

Dilihat dari sudut manusia, hubungan Allah dengan manusia digambarkan dalam dua tahap, yakni karya penciptaan dan karya penyelamatan. Sesuai dengan itu terdapat dua simbol utama bagi Allah, yakni Allah Pencipta dan Allah Penyelamat . Sesungguhnya kedua karya itu satu, Dalam penciptaan, Allah sudah mewahyukan diri; dan dalam penyelamatan, Allah semakin memberikan hidup kepada manusia. Namun, demi mudahnya, yakni supaya lebih jelas pemikirannya, biasanya kedua itu dibedakan, Kita tidak mungkin berbicara mengenai karya penciptaan Allah, lepas dari wahyu dan iman, dan mustahil pula berbicara mengenai wahyu tanpa sekaligus . mengakui Allah sebagai Pencipta. Allah dikenal sebagai Allah karena ciptaan-Nya:

“Engkau layak, ya Tuhan dan Allah kami, menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu dan karena kehendak-Mu mereka berada dan diciptakan” (Why 4:11).

Dalam kitab nabi Yesaya dikatakan,

“Beginilah firman Tuhan, Penebusmu,
yang membentuk engkau sejak dari kandungan:
Akulah Tuhan, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit,
yang menghamparkan bumi,
siapakah yang mendampingi Aku?” (Yes 44:2~).

Akan tetapi, manusia tidak puas dengan gambaran Allah yang samar-samar. Dicarinya pengertian yang lebih terinci. Bukan gambaran saja, melainkan pengetahuan. Filsafat ketuhanan mencoba menggali lebih dalam dan mengembangkan pengetahuan spontan mengenai Allah. Orang beriman pun berusaha mencari pengetahuan yang lebih lengkap dan lebih utuh mengenai Allah. Bukan karena imannya kurang, tetapi karena ia ingin mengenal Allah sebaik mungkin. Memang ada orang yang menekankan perbedaan Allah dengan manusia, Bagi mereka segala pengetahuan mengenai Allah bersifat negatif: Allah lain daripada yang lain. Orang lain justru menekankan Allah sebagai sumber segala yang ada. Oleh karena itu, mereka berkata bahwa apa saja yang ada di dunia ada juga pada Allah, tetapi dalam keadaan yang sempurna. Malah dikatakan bahwa dalam diri Allah semua itu begitu sempurna, sehingga akhirnya toh tidak dapat dibayangkan lagi bagaimana kesempurnaan Allah itu. Memang tidak mungkin membuat suatu gambaran. lengkap mengenai Allah. Bahkan pengetahuan yang 100% tepat pun kiranya juga tidak mungkin. Namun manusia dapat mencoba menegaskan secara lebih khusus dan lebih jelas apa yang dimaksudkan dengan kata “Allah”. Kecuali melalui simbol-simbol Pencipta dan Penyelamat – dan banyak simbol lain – Allah dapat digambarkan juga melalui kata-kata sifat yang dikenakan pada Allah.