Sikap Dasar: Melayani, bukan Dilayani

Apakah sumbangan umat Kristen bagi masyarakat yang majemuk dan pluralistik ini? Bagaimana mungkin dapat berlangsung perjuangan bersama bagi manusia yang berbeda imannya? Sumbangannya ialah sikap hidupnya dan alasan-alasan yang dapat dikemukakan untuknya, berdasarkan pikiran yang sehat dan komunikasi yang meyakinkan. Semua orang menghadapi kenyataan hidup yang sama, dan masing-masing bertanggung jawab atas sikap yang diambilnya. Tetapi komunikasi yang wajar dapat menjadi sumber inspirasi dalam usaha bersama. Semua mencari kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.

Mengenai tujuan masyarakat, kebanyakan orang memang sepaham. Yang menjadi pertanyaan sekarang ialah bagaimana menempuh jalan ke situ, dan kebanyakan orang enggan berpikir mengenai jalannya, bahkan cenderung mengambil jalan pintas. Masyarakat tidak hanya sekadar ingin hidup makmur-sejahtera, tetapi setuju mengenai perlindungan hidup, mengenai perkembangan dan pendidikan angkatan muda, mengenai kemajuan ilmu dan teknik, mengenai hubungan baik dan ketertiban hidup bersama dan mengenai banyak hal yang lain.

Sedangkan mengenai tindakan konkret yang harus diambil tidak hanya ada perbedaan pendapat, tetapi kebanyakan orang diam saja dan menunggu sampai orang lain mengambil inisiatif. Banyak umat Kristen, yang tahu mengenai kewajiban untuk saling tolong-menolong dengan saling menanggung beban (lih. Gal 6:2), ikut menunggu sampai ada yang memulai atau datang perintah dari atas.

Bagaimana iman menjadi pendorong atau bantuan untuk bertindak? Tidak dengan cara membuat tugas mencari jalan menjadi lebih ringan. Sebab “iman membimbing akal budi manusia ke arah cara-cara memecahkan soal yang sepenuhnya manusiawi” (GS 11). Dalam cara berpikir, orang Kristen sama dengan yang lain. Tetapi dalam hal kelakuan dan tindakan umat Kristen yakin, bahwa “barangsiapa mengikuti Kristus, manusia sempurna, akan menjadi manusia yang lebih utuh” (GS 41). Iman bukan soal pengetahuan atau pandangan, melainkan soal sikap dan kesetiaan. Orang Kristen sering juga tidak menyumbang pada kesejahteraan bersama, karena belum dengan sepenuhnya menjadi pengikut Kristus. Orang hanya menjadi sungguh Kristiani dengan mengikuti jejak Kristus.

Salah satu sikap Kristus yang amat mencolok adalah penolakan-Nya terhadap feodalisme atau masyarakat yang bertingkat-tingkat dengan membedakan golongan orang. Yesus bersabda:

“Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah para bangsa memerintah rakyat mereka dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka, dan ingin disebut pelindung. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu-hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu. Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan” (Mat 20:25-28 dsj.).

Yesus mengenal struktur masyarakat feodal. Adanya kelas-kelas dan tingkat-tingkat itu, biasa dalam masyarakat. Tetapi, kata-Nya, tidaklah demikian di antara kamu. Kamu harus lain. Sikap yang Kuajarkan kepadamu adalah sikap melayani. Yesus tidak pernah menganggap orang lain lebih rendah daripada diri-Nya, Ia mengetahui bahwa sebetulnya Ia tidak sama dengan yang lain. Ia berkata, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi, jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki” (Yoh 13:13-14). “Karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mrk 10, 45). Itulah sikap yang diharapkan Yesus dari murid-murid-Nya. “Janganlah kamu disebut rabi (guru), sebab hanya satu gurumu dan kamu semua adalah saudara” (Mat 23:8).

Gereja tidak lebih pintar, sehingga harus menggurui orang lain. Semua adalah saudara, dan harus saling membantu dalam mencari jalan dan arah hidup. Paulus berkata, “Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Gal 3:28). Maksudnya, Kristus telah menghapus perbedaan suku dan ras, perbedaan tingkat sosial atau kelas, dan juga pria dan wanita sama saja di hadapan Tuhan.

Membedakan orang dan golongan tidak cocok dengan semangat Yesus. Iman (dapat) mempengaruhi pandangan orang, karena memberi pandangan baru terhadap keluhuran pribadi manusia, terhadap kesamaan dan persaudaraan semua orang, dan terhadap sikap pelayanan. Dalam pandangan Kristen melayani tidak merendahkan, melainkan mengangkat orang karena membuatnya sama dengan Kristus, Tuhan dan Guru.