Sengsara, Wafat, dan Pemakaman

Pada akhir pengadilan di muka Pilatus, Markus (15:15) berkata, “Pilatus membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya, lalu diserahkannya untuk disalibkan” (lih. Mat 27:26). Yesus didera serta dimahkotai duri, dan itu sebenarnya sudah merupakan awal penyaliban-Nya. Lukas (23:25) berkata: ‘‘Yesus diserahkan kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya” (lih. Yoh 19:16). Lalu mulai jalan salib, yang oleh setiap pengarang Injil diceritakan dengan caranya sendiri. Yohanes (19:16-17) sangat singkat, Injil sinoptik (Mrk 15:21 dst.) menyebut Simon dari Kirene, dan Lukas (23:27-31) juga berbicara mengenai perjumpaan dengan wanita-wanita Yerusalem. Semua amat sederhana.

Begitu pula kisah penyaliban. Pertama-tama disebut peristiwa penyaliban sendiri di gunung Golgota (Mrk 15:22-26). Oleh Matius dan Markus secara khusus disebut “anggur bercampur empedu”, yang dimaksud sebagai semacam “obat penenang”, tetapi ditolak oleh Yesus. Permohonan ampun untuk mereka yang menyalibkan Yesus terdapat dalam kebanyakan naskah Lukas (23:34). Semua pengarang Injil berbicara mengenai pembagian pakaian Yesus, tetapi Yohanes (19:23) menegaskan bahwa jubah tidak dibagi, melainkan diundi. Semua pengarang Injil juga menyebut tulisan di atas salib, yang menurut Yoh 19:20-22 kemudian dipersoalkan oleh orang Yahudi (“Jangan menulis: Raja orang Yahudi; tetapi: Ia berkata Aku ini raja orang Yahudi”). Bahwa ada dua orang yang disalibkan bersama Yesus, dikatakan juga dalam semua Injil. Sinoptik juga berbicara mengenai olok-olok, tetapi Yohanes tidak. Semua berkata bahwa Yesus haus, tetapi Yohanes (19:28-30) memberi tekanan pada peristiwa ini. Juga hanya Yohanes (19:25-27) yang menceritakan bagaimana Yesus menyerahkan Ibunya kepada murid-Nya dan menyerahkan rasul Yohanes kepada Maria. Pengampunan penjahat yang baik hanya terdapat pada Lukas (23:39-43).

Wafat Yesus disertai kegelapan, yang hanya disebut dalam Injil sinoptik. Juga dikatakan bahwa “tabir Bait Suci terbelah dua” (Mat 27:51 dsj.) dan ada tanda-tanda lain. Dalam Injil sinoptik juga diceritakan kesaksian kepala pasukan, dalam rumusan yang agak berbeda. Begitu juga sabda terakhir Yesus sendiri dirumuskan secara lain-lain oleh masing-masing pengarang. Menurut Mrk 15:34 Yesus berkata: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”, sesuai dengan Mzm 22:2, Mat 27:46 hampir sama. Tetapi Luk 23:46 berbunyi: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Dalam Yoh 19:30 Yesus berkata, “Sudah selesai”. Jelas sekali bahwa Injil-injil tidak bermaksud “melaporkan” sabda Yesus.

Rumusan Yohanes tentu harus dihubungkan dengan Yoh 4:34: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”. Salib merupakan puncak ketaatan Yesus kepada Bapa. Hal yang sama juga mau dinyatakan oleh Injil-injil yang lain. Kepercayaan yang diungkapkan dalam Luk 23:46 juga ditunjuk oleh Matius dan Markus, yang mengutip Mzm 22, yang dalam ay. 25 berkata: “Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas”.

Sesudah wafat-Nya Yesus diturunkan dari salib dan dimakamkan. Yang memakamkan Yesus ialah Yusuf dari Arimatea, yang namanya disebut dalam semua Injil. Menurut Yoh 19:29 ia dibantu oleh Nikodemus. Beberapa wanita dari Galilea juga disebut. Sebelum Yesus diturunkan dari salib, diminta izin dahulu dari Pilatus. Menurut Mrk 15:44 “Pilatus heran bahwa Yesus sudah mati” dan minta keterangan dari kepala pasukan.

Mengenai hal itu Yohanes memberi kesaksian panjang dan sangat resmi: Hati Yesus ditikam oleh serdadu guna membuktikan kematian-Nya (Yoh 19:31-37). Kemudian jenazah Yesus dibaringkan dalam “kubur baru, yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang” (Yoh 19:41; lih. Luk 23:53). Matius (27:62-66) menambahkan, bahwa dengan persetujuan Pilatus makam itu dimeterai dan dijaga oleh orang Yahudi. Yesus dihukum mati dan disalibkan sebagai seorang “penjahat”. Memang, sesudah wafat-Nya Ia dimakamkan penuh hormat dan kesalehan oleh sahabat-sahabat-Nya, tidak bersama dengan kedua orang tersalib yang lain. Namun kehormatan sesudah wafat-Nya tetap tidak dapat menutupi kehinaan dan kerendahan kematian-Nya di kayu salib.

Yang menurut hukum dapat disalibkan sebenarnya hanyalah budak dan penjahat, yang sungguh melakukan kejahatan yang besar. Salib merupakan hukuman yang hanya dipakai terhadap orang yang dijajah. Kengerian salib begitu besar, sehingga menjadi “batu sandungan” bagi banyak orang (lih. Gal 5:11). Salib bukanlah sesuatu yang “biasa”, melainkan suatu penghinaan yang amat luar biasa. Bukan hanya karena penderitaan fisiknya, tetapi terutama karena arti sosialnya: orang yang disalibkan kehilangan segala kehormatan dan penghargaan dalam masyarakat. Adanya hukuman yang sekeras itu, menunjukkan bahwa seluruh masyarakat bersikap keras dan kurang berperikemanusiaan. Para lawan Yesus sungguh membenci-Nya dengan kebencian yang sangat bengis dan ingin membinasakan-Nya secara total, tidak hanya sebagai seorang pribadi, melainkan justru sebagai tokoh masyarakat. Penyaliban selalu mempunyai arti sosial-politik, sering juga bertujuan menakut-nakuti orang. Hanya para musuh Yesus berani memandang-Nya di kayu salib, dan mengolok-olokkan-Nya. Para Rasul dan lain-lain lari karena tidak tega. Salib merupakan tanda penolakan total terhadap Yesus.

Apa yang anda pikirkan?