Seks dan Hidup

Aturan itu perlu tapi tidak cukup. Yang lebih diperlukan daripada aturan ialah kesaksian seksualitas yang manusiawi. Dalam hal ini perlu dipancarkan keyakinan bahwa seks harus dihormati sebagai sesuatu yang manusiawi. Seks bukan barang yang dapat diperjualbelikan. Menjual seks, dengan pornografi atau pelacuran, berarti menjual manusia. Seks juga bukan naluri alam yang harus mendapat pelepasan, melainkan bagian hidup yang pantas dibina, dididik, dan dikembangkan, penuh nilai dan kasih. Seks pun bukan urusan yang diserahkan kepada kehendak orang perorangan. Seks menuntut tanggung jawab sosial. Oleh karenanya, dalam semua soal moral seks pertama-tama harus ditanyakan, bagaimana dapat ditingkatkan kemampuan memberi dan menerima kasih?

Dalam seks yang manusiawi, kasih dialami secara istimewa. Sebab seksualitas menyangkut segala emosi dan menggerakkan seluruh hayat, sampai orang “melupakan diri”. Pengalaman seks yang manusiawi dapat mematahkan belenggu kepentingan diri. Orang dapat menjadi merdeka dalam perhatian bagi kekasih. Hubungan seperti itu dapat menjadi dasar dan awal bagi hubungan yang tunggal dan eksklusif, dalam kesetiaan lestari. Ikatan kesetiaan tidak dibuat oleh alam, seolah-olah ikatan itu otomatis dan begitu saja terjadi. Karena itu, keberanian mengikat diri harus dikembangkan dengan menaklukkan ketakutan-ketakutan hati. Kesetiaan satu sama lain harus dibela dengan menolak tawaran yang menjanjikan kenikmatan saja. Jelaslah bahwa kelakuan seksual tidak dapat diatur dengan sejumlah larangan atau dengan “boleh” atau “tidak boleh”. Bahkan mendasarkan seks pada kesopanan umum juga tidak cukup. Penilaian moral mengenai perilaku seksual harus mencakup semua dimensi hidup manusia, sebab kelakuan seksual menyangkut pergaulan antara manusia dan penghayatan hidup manusiawi. Karena itu juga penilaian moral seks mesti peka terhadap maksud perbuatan itu. Orang tidak boleh mengutuk suatu perbuatan (mis. masturbasi), hanya karena tidak sesuai dengan tata alam. Tetapi tindakan itu juga tidak dapat dibenarkan hanya karena cocok dengan dorongan tubuh yang mesti diikuti.

Kelakuan seksual menyangkut hubungan antarmanusia. Maka nilai perilaku seksual pertama-tama menyangkut hubungan hati. Hubungan seksual tidak dibenarkan hanya atas dasar hak (suami atau istri). Perilaku seksual pertama-tama harus sesuai dengan hubungan personal. Orang makin menyadari bahwa hubungan pribadi itu membutuhkan perkembangan, maka hubungan seksual antara dua partner membutuhkan perkembangan. Oleh karena itu, tidaklah cukup bila moral seksual hanya melarang agar orang tidak menyentuh seseorang yang belum menjadi “hak” dan “miliknya”. Moral seksual itu harus makin peka terhadap kesatuan pribadi. Hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan terungkap dengan banyak cara, dengan tanda-tanda afeksi yang intim dan secara khusus dalam perbuatan sanggama. Menurut ajaran moral Katolik, perbuatan sanggama mendapat tempatnya yang tepat dan wajar dalam perkawinan, sebab hanya dalam hubungan mantap dan pribadi antara suami dan istri hubungan sanggama dapat menjadi ungkapan jujur bagi kasih dan penyerahan. Dan sebaliknya dalam perkawinan, hubungan pribadi dikuatkan dan dikembangkan oleh perbuatan sanggama dalam kasih dan penyerahan. Hubungan intim dan pribadi adalah nilai utama dalam seksualitas dan dalam semua perbuatan seksual. Dan semua perbuatan seksual patut dinilai, pertama-tama, sejauh mana mengungkapkan kasih terhadap partner dan mengungkapkan serta meneguhkan kesatuan hati yang mantap. Karena dalam seksualitas diteruskan hidup manusia, ajaran moral Gereja menegaskan juga supaya hubungan seksual harus terbuka bagi keturunan. Sebab di samping nilai pribadi dalam hubungan, seksualitas mengandung nilai sosial, karena merupakan daya pengikat perkawinan dan turut melangsungkan hidup.

Karena punya arti pribadi dan sosial, masyarakat ikut mengatur seksualitas dengan pelbagai aturan. Aturan-aturan masyarakat patut diperhatikan karena dan sejauh membina hormat dan kesatuan, dan pantas dikritik kalau melanggar kebebasan orang dalam mengikat perkawinan.

Homoseksualitas, yakni hubungan seksual antara pria dengan pria atau antara wanita dengan wanita, dipandang oleh ajaran moral gerejawi berlawanan dengan nilai-nilai pokok dalam seksualitas; homoseksualitas tidak sejajar dengan heteroseksualitas. Namun diperdebatkan, apakah homoseksualitas harus dipandang sebagai penyelewengan atau sebagai kelainan yang pantas ditolong, entah dengan bantuan pengobatan atau dengan pengertian dan dukungan hidup. Demikian juga pandangan tentang masturbasi, yakni usaha untuk mendapat kenikmatan seksual pada diri sendiri, sebab seksualitas mengarahkan orang pada sesama. Namun penilaian ha¬nya tepat, kalau diperhatikan konteks hidup yang konkret. Sebab sehubungan dengan masturbasi, secara khusus kentara ciri dasar seksualitas: seksualitas bukan semacam keadaan alamiah melainkan sebagian dari hidup, yang pribadi, sosial, dan bersejarah.