Segala Sesuatu Berasal dari Allah

Kesadaran iman ini dirumuskan dengan jelas sekali pada awal Kitab Suci, dalam dua kisah khusus. Yang pertama (Kej 1:1-2:4a) menceritakan “riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan” (2:4a). Dan yang kedua (Kej 2:4b-25) secara khusus menceritakan penciptaan Adam dan Hawa, sebagai pengantar pada kisah mengenai dosa manusia pertama (Kej 3:1-24). Kedua kisah ini merupakan perumusan iman dalam bentuk cerita, yang sedikit banyak bersifat puisi. Memang, hampir semua teks Kitab Suci mengenai penciptaan berupa puisi, misalnya Mzm 33:6-9:

“Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan,
oleh napas dari mulut-Nya segala tentaranya.
Ia mengumpulkan air laut seperti dalam bendungan,
Ia menaruh samudera raya ke dalam wadah.
Biarlah segenap bumi takut kepada Tuhan,
biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia!
Sebab Dia berfirman, maka semua jadi;
Dia memberi perintah, maka semuanya ada”
(Lih. Juga Mzm 8; 19:1-7; 104; Ayb 38:4-11; dsb.).

Kitab Suci tidak mau memberikan suatu uraian mengenai proses terjadinya dunia, melainkan mengungkapkan reaksi orang yang melihat semua itu terbentang di mukanya, “Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: Siapa yang menciptakan semua bintang itu, dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satu pun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia mahakuasa dan mahakuat” (Yes 40:26).

Oleh karena itu, tidak ada gunanya mencari tahap-tahap dalam teori evolusi yang cocok dengan enam hari yang disebut dalam Kej 1:1-2:4a. Enam hari itu hanyalah kerangka untuk melukiskan seluruh karya penciptaan, dengan puncaknya hari Sabat, ketika Allah “berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya” (Kej 2:3). Begitu juga meleset sama sekali, kalau mencoba menentukan dari tulang rusuk Adam yang ke berapa Tuhan membentuk Hawa (Kej 2:21). Ini bahasa puitis yang hendak mengungkapkan kesatuan mesra antara laki-laki dan perempuan, sebagaimana diciptakan oleh Tuhan. Sebab itu, sebetulnya juga tidak penting apakah secara ilmiah dapat dibuktikan bahwa sejarah dunia dimulai pada saat tertentu. Teori bahwa materi itu “abadi” juga tidak bertentangan dengan kisah penciptaan, yang mengatakan bahwa Tuhan adalah dasar dan asal-mula segala-galanya. Kisah penciptaan tidak berbicara mengenai sejarah penciptaan, tetapi mengenai arti penciptaan, yakni bahwa segala yang ada dan dunia seluruhnya berasal dari Allah dan tergantung pada-Nya.

Untuk menjawab pertanyaan mengenai awal alam semesta dalam ilmu astronomi ada dua pandangan: teori ledakan besar (big bang) dan teori keadaan ajek (steady state). Teori pertama untuk pertama kalinya dikemukakan pada tahun 1929 dan sekarang diikuti oleh kebanyakan ahli astronomi. Menurut teori ini sejarah alam semesta mulai dengan segumpalan materi yang amat padat dan panas, yang sekonyong-konyong mulai meluas dan karena itu mendingin. Peristiwa dahsyat ini diperkirakan terjadi antara 10.000.000.000 dan 20.000.000.000 tahun yang lampau dan secara metaforis disebut “ledakan besar”. Dalam proses pendinginan bahan-bahan materi mulai terbentuk dan lama-kelamaan terwujudlah bintang-bintang dan seluruh alam semesta. Proses meluas masih berjalan terus, sehingga dunia tidak hanya diperkirakan mempunyai awal, tetapi juga akan berakhir. Teori keadaan ajek juga mengakui bahwa alam meluas terus. Tetapi ada suatu keseimbangan dalam materi, sehingga proses ini dapat berjalan terus tanpa awal dan tanpa akhir, Materi sendiri terus-menerus menghasilkan atom-atom dan juga bintang-bintang yang baru dan “membuang” yang lama. Walaupun teori ini mau menjawab sejumlah soal yang tidak terjawab dalam teori yang pertama, pada umumnya teori ini kurang diterima. Tetapi teori-teori ini, baik yang pertama maupun yang kedua, tidak berhubungan langsung dengan iman akan penciptaan. Sebab teori astronomi ini merupakan hipotesa-hipotesa yang dibuat atas observasi alam sekarang, yang memang memperlihatkan gejala “meluas” dan berkembang. Teori-teori ini berusaha merumuskan proses-proses yang sedang bekerja dalam alam semesta. Mengenai dasar atau sumber kehidupan alam teori-teori ini tidak berbicara.

Kitab Suci berbicara mengenai hubungan manusia dengan Allah dan juga hubungan manusia dengan alam semesta. Dalam buku Kebijaksanaan, Raja Salomo berkata,

“Aku menghadap Tuhan dan berdoa kepada-Nya: ‘Allah nenek moyang dan Tuhan belas-kasihan, Dengan firman-Mu telah Kau jadikan segala sesuatu, dan dengan kebijaksanaan Kau bentuk manusia, agar ia menguasai segala mahluk yang telah Kau ciptakan, dan memerintah dunia semesta dengan suci dan adil serta memegang kekuasaan dengan tulus hati’” (Kej 9:1-3).

Dalam Kitab Suci manusia merupakan penguasa seluruh dunia: “Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kej 1:28). Ia adalah wakil Allah: “Menurut gambar Allah ia diciptakan” (Kej 1:27). Maka ia “memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan” (Kej 2:20). Manusia adalah pusat alam semesta (Sir 17: 3-10).

Kitab Suci sebagai buku iman terpusatkan pada manusia dan arah hidupnya kepada Allah. Bahkan menurut Konsili Vatikan II, “kaum beriman maupun tak beriman hampir sependapat, bahwa segala sesuatu di dunia ini harus diarahkan kepada manusia sebagai pusat dan puncaknya” (GS 12).