Sebelum Yesus Tampil; Persiapan, dan Yesus dibaptis

Dikatakan bahwa ketika Yesus mulai tampil di depan umum, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun (Luk 3:23). Sebelumnya Ia hidup tersembunyi di Nazaret dan mencari nafkahnya sebagai tukang (Mrk 6:3), sama seperti ayah-Nya (Mat 13: 55).

1. Persiapan

Mengenai masa pendidikan-Nya Injil tidak mengatakan apa-apa selain peristiwa di kenisah, waktu Ia berusia dua belas tahun. Maka boleh diandaikan bahwa Yesus mendapat pendidikan yang lazim untuk anak-anak pada zaman itu. Pendidikan itu pertama-tama tugas orangtua (lih. Ams 1:8). Demikian pula kiranya yang pertama-tama mendidik Yesus adalah Maria, lebih-lebih pada masa kanak-kanak Yesus, dan Yusuf, ketika Ia sudah menjadi lebih besar. Ayah harus mendidik anaknya, mengajarinya cara membawakan diri dalam masyarakat; dan kalau dia anak laki-laki juga cara mencari nafkah. Anak perempuan dididik dalam pekerjaan rumah tangga oleh ibunya. Pendidikan keagamaan diberikan oleh orangtua. Ayah harus menceritakan sejarah Israel kepada anak-anaknya (Kel 10:2; 13:8; Ul 4:9; 32:7). Dalam Talmud dikatakan:

“Pada umur lima tahun, anak siap mempelajari Kitab Suci;
pada umur sepuluh tahun, siap untuk Mishnah (peraturan);
pada umur tiga belas, untuk perintah-perintah;
pada umur lima belas, untuk Talmud (tradisi);
pada umur delapan belas, siap untuk kamar pengantin;
pada umur dua puluh, siap untuk profesi;
pada umur tiga puluh, ia siap tampil ke depan.”

Anak tidak hanya belajar di rumah. Waktu perayaan atau ziarah ia mendapat banyak instruksi (dari imam-imam atau petugas yang lain), dan pada hari Sabat biasanya ada semacam “kuliah subuh” di sinagoga (rumah ibadat). Setiap anak harus menghafalkan mazmur-mazmur dan bagian-bagian lain Kitab Suci (lih. Mzm 78:1-3). Pada zaman Yesus juga sudah ada sekolah, namun berbeda dengan sekolah zaman sekarang. Biasanya hanya ada satu guru saja (sering kali seorang Farisi, mungkin ahli Taurat), yang mengumpulkan anak-anak untuk mengajarkan kepada mereka segala macam pengetahuan, khususnya mengenai agama. Mereka berkumpul di tempat yang umum dan terbuka, atau (sebagian dari) sinagoga. Tujuan pokok adalah kemampuan membaca (dan menghafalkan) Kitab Suci. Murid yang pintar dan mampu dapat meneruskan studi mereka dengan belajar hukum. Untuk itu anak biasanya harus pergi ke kota (Yerusalem). Sejak zaman para nabi juga ada “kelompok studi”, yang tidak dimaksudkan untuk pendidikan anak kecil, tetapi untuk mempelajari Kitab Suci dan hukum adat bersama-sama. Yohanes Pembaptis dan Yesus sendiri membentuk kelompok-kelompok seperti itu.

Dalam Injil Yesus sering disebut rabi (bahasa Aram dan Ibrani), khususnya oleh para murid (mis. Mrk 9:5; 10:51; 11:21; 14:45), yang berarti guru (lih, Yoh 1:38; 20:16). Dan memang sebutan “guru” (dalam bahasa Yunani) juga dipakai, malah lebih sering (mis. Mrk 4:38; 9:17.38; 10:17.20.35; 12:14.19.32; 13:1). Dengan sebutan itu pertama-tama diungkapkan kehormatan terhadap Yesus, dan ternyata Yesus “mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat” (Mrk 1:22). Akan tetapi para pengikut-Nya tetap disebut “murid”, walaupun tidak dikatakan bahwa mereka “belajar”, melainkan “mengikuti Dia”.

“Murid” berarti pengikut Yesus. Mereka itu orang yang dipanggil oleh Yesus sendiri (lih. Mrk 1:17; 2:14; bdk. 10:17-27; Luk 9:57-60) dan berasal dari daerah Yesus. Petrus dan Andreas kakak-beradik, begitu juga Yakobus dan Yohanes. Simon termasuk kelompok “zelot”, yakni kaum nasionalis; dan Lewi pemungut bea, yang bersekongkol dengan penjajah. Kebanyakan adalah nelayan dari Tiberias. Dalam Luk 8:1-3 juga disebut beberapa wanita (lih. Mrk 15:40-41).

Yang mencolok adalah tuntutan Yesus bahwa mereka harus meninggalkan segala-galanya, termasuk sanak-saudara (lih. Mrk 8:34 dsj.; Luk 14:26 dsj.). Menjadi murid Yesus berarti “menyertai Dia” (Mrk 3:14), dengan segala konsekuensinya (lih. Mrk 8:34; 10:39). Tekanan ada pada hubungan pribadi, bukan pada ajaran atau pengetahuan. Mereka mengambil bagian dalam tugas dan perutusan Yesus (lih. Mrk 1:17) dan “diutus-Nya memberitakan Injil” (Mrk 3:14; Mat 10:7 dsj.). Maka di antara para murid dalam arti yang luas ada dua belas orang yang secara istimewa dipilih oleh Yesus menjadi murid-Nya. Merekalah yang diutus oleh-Nya dan di kemudian hari juga menjadi “saksi kebangkitan” (Kis 1:22). Biasanya mereka disebut “dua belas rasul”.

Kelompok murid Yesus, khususnya kelompok dua belas, serupa dengan kelompok-kelompok Yahudi lainnya yang berkumpul di bawah seorang guru, Namun kelompok murid Yesus itu juga khas. Kekhasan kelompok ini berakar dalam keistimewaan Yesus sendiri. Dasar kesatuan kelompok Yesus adalah iman akan Yesus dan perutusan-Nya yang berkembang dalam pergaulan dengan Yesus.

2. Yesus Dibaptis

Kehidupan Yesus di depan umum dimulai dengan berita, “Ia meninggalkan Nazaret dan berdiam di Kapernaum, di tepi danau; sejak saat itulah Yesus memberitakan: Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat 4:13.17). Yesus meninggalkan ketenangan hidup keluarga di Nazaret dan mulai hidup mengembara. Ia “berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa, memberitakan Injil Kerajaan Allah” (Luk 8:1). Awal perubahan hidup ini adalah pembaptisan oleh Yohanes. Matius menceritakan, “Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes supaya dibaptis olehnya” (Mat 3:13). Mrk 1:9 memberitakan peristiwa itu dengan kata-kata yang hampir sama. Tetapi Lukas menguraikannya lebih luas dan memperlihatkan maknanya:

“Ketika seluruh umat dibaptis,
dan ketika Yesus pun dibaptis dan sedang berdoa,
maka terbukalah langit
dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya;
dan terdengarlah suara dari langit:
Engkaulah Anak yang Kukasihi,
kepada-Mulah Aku berkenan (Luk 3:21-22)”

Pertama-tama, dikatakan bahwa bukan hanya Yesus yang dibaptis, melainkan seluruh umat. “Datanglah kepada Yohanes orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan” (Mrk 1:5). Baptis Yohanes merupakan pembaptisan pertobatan (lih. Mrk 1:4; Luk 3:3; Kis 13:24; 19:4). Maksudnya, orang minta dibaptis oleh Yohanes sebagai tanda tobat.

Timbullah pertanyaan, bagaimana Yesus “yang tidak mengenal dosa” (2Kor 5:21) dapat minta dibaptis oleh Yohanes. Rupa-rupanya pertanyaan ini sudah timbul di kalangan Gereja perdana sendiri. Markus masih menceritakan pembaptisan Yesus tanpa keterangan lebih lanjut (Mrk 1:9). Tetapi dalam Injil Matius, Yohanes seolah-olah protes: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” (Mat 3:14). Lukas menyebut pembaptisan sepintas saja; tekanan ada pada apa yang terjadi sesudahnya. Injil Yohanes malah sama sekali tidak berbicara mengenai pembaptisan Yesus oleh Yohanes (lih. Yoh 1:19-34). Padahal jelaslah bahwa pembaptisan itu dipandang sebagai awal karya Yesus (lih. Kis 1:22; 10:37 -38). Kiranya sedari semula Gereja sudah bertanya-tanya, mengapa Yesus mau dibaptis? Padahal “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu-daya tidak ada dalam mulut-Nya” (1Ptr 2:22; lih. 1Yoh 3:9).

Kiranya tidak ada jawaban lain kecuali yang satu ini, “Ia akan terhitung di antara orang-orang durhaka” (Luk 22:37; lih. Mrk 15:28). “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” (1Tim 1:15). Oleh karena itu Ia selalu mencari orang berdosa. Ia dilecehkan sebagai “sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Luk 7:34), sebab Ia biasa “makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu” (Mrk 2:16; lih. Mat 9:11; Luk 5:30; 15:1.2). Ia mempersatukan orang berdosa dengan diri-Nya, menghadap Bapa. Memang Ia tidak membutuhkan ampun dari Bapa. Tetapi “Ia memimpin kita dalam iman” (Ibr 12:2). Dan iman adalah intisari tobat, sebab “tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah” (Ibr 11:6).

Yesus menghadap Bapa, bersama orang berdosa. Sabda Bapa, yang dikatakan kepada Yesus, ditujukan kepada semua orang yang bersatu dengan Yesus: “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”. Dalam pembaptisan Yohanes, Yesus diakui oleh Bapa sebagai pemimpin dan penebus semua orang berdosa. Pembaptisan adalah bagaikan “pelantikan” Yesus ke dalam tugas perutusan-Nya. Segera sesudah pembaptisan, Yesus akan “memberitakan Injil Allah: Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Dengan pembaptisan-Nya, Yesus sekaligus menyatakan kesatuan dengan orang berdosa dan penyerahan total dan radikal kepada kehendak Bapa. Dengan pembaptisan, Ia tampil sebagai “pengantara antara Allah dan manusia” (1Tim 2:4). Semua Injil mengatakan bahwa Roh Kudus turun atas-Nya. Selanjutnya ‘‘Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun”. Sesudah itu “dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu” (Luk 4:1-2.14). Sesudah pembaptisan, Yesus tampil sebagai orang yang “diurapi oleh Allah dengan Roh Kudus dan kuat kuasa” (Kis 10:38). Ia tampil sebagai ‘‘Yang terurapi”, Ia dilantik sebagai Kristus. “Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit” (Luk 5:17). Yesus sekarang tampil, bukan lagi sebagai tukang kayu, tetapi benar-benar sebagai seorang nabi. Maka semua orang heran dan bertanya: “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan ada bersama kita? Mukjizat-mukjizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?” (Mrk 6:2-3). Sesudah pembaptisan-Nya Yesus kelihatan lain, sampai orang sekampung tidak lagi mengenal-Nya. “Lalu mereka kecewa dan menolak Dia”.

Apa yang anda pikirkan?