Sakramen

Semua yang dikatakan mengenai liturgi sebagai doa Gereja dalam kesatuan dengan Kristus berlaku secara istimewa untuk upacara-upacara liturgi yang disebut “sakramen”. Boleh dikatakan bahwa tujuh sakramen merupakan liturgi dalam arti yang paling padat

Konsili Vatikan II mengajarkan juga bahwa “Gereja tiada putusnya memuji Tuhan dan memohonkan keselamatan seluruh dunia bukan hanya dengan merayakan Ekaristi, melainkan dengan cara-cara lain juga, terutama dengan mendoakan Ibadat Harian” (SC 83). Artinya, liturgi tidak terbatas pada bidang sakramen saja, tetapi mencakup juga Ibadat Harian. Secara singkat dapat dikatakan bahwa liturgi terdiri dari perayaan sakramen (lengkap dan dengan segala upacara-perayaan yang menyertainya) dan Ibadat Harian. Tetapi Ibadat Harian sesungguhnya tidak “umum” di dalam Gereja. Yang wajib merayakan Ibadat Harian dalam koor (bersama-sama), ialah

  1. dewan pembantu uskup, para rahib dan rubiah, serta para imam biarawan lainnya, yang terikat pada Ibadat Harian bersama menurut hukum atau konstitusi tarekat;
  2. dewan para imam katedral atau para penasihat uskup untuk sebagian (SC 95).

“Para rohaniwan, yang tidak terikat kewajiban doa koor (bersama), bila sudah menerima tahbisan tinggi, setiap hari wajib mendoakan seluruh Ibadat Harian, entah bersama-sama, entah sendiri-sendiri” (SC 96; KHK kan. 1174).

Kekhususan sakramen kiranya dapat dimengerti dengan lebih jelas, bila dibandingkan dengan tugas pengajaran Gereja. Dikatakan bahwa “keseluruhan kaum beriman tidak dapat sesat dalam beriman” (LG 12). Ketidak-sesatan itu paling “terjamin” bila iman dirumuskan secara resmi oleh pimpinan Gereja menurut syarat-syarat tertentu. Begitu juga dengan liturgi. Liturgi senantiasa merupakan doa Gereja dalam kesatuan dengan Kristus. Dalam perayaan liturgi yang paling resmi, yakni dalam sakramen-sakramen, Kristus diimani kehadiran-Nya secara istimewa. St. Agustinus menyebut sakramen “rahmat yang tak kelihatan dalam bentuk yang kelihatan” (DS 1639).

Dalam bagian mengenai ‘rahmat‘ sudah dikatakan bahwa “rahmat” berarti kasih Allah kepada manusia. Dengan sewajarnya disebut “rahmat” atau kerahiman, karena dari pihak manusia tidak ada apa-apa yang dapat dipandang sebagai dasar atau “hak” untuk kasih Allah itu. Oleh dosanya manusia malah semakin tidak mempunyai dasar untuk mengharapkan sikap Allah yang luar biasa itu. Rahmat adalah misteri kasih pribadi Allah, yang mengatasi segala pikiran dan angan-angan manusia. Rahmat berarti manusia diterima sebagai anak dan dibuat “serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm 8:29), yaitu Yesus Kristus, dan selanjutnya bersatu-padu dengan Kristus – oleh Roh Kudus – dalam penyerahan-Nya kepada Bapa.

Justru karena merupakan kasih Allah, rahmat tidak pernah berarti paksaan, tetapi selalu mengandaikan jawaban bebas dari manusia terhadap kasih-kerahiman Allah. Jawaban manusia itu adalah iman. Maka dilihat dari sudut manusia, rahmat adalah iman. Tidak mengherankan bahwa Konsili Vatikan II memakai kata “sakramen iman”, sebab “sakramen tidak hanya mengandaikan iman, melainkan juga memupuk, meneguhkan, dan mengungkapkannya dengan kata-kata dan benda. Maka juga disebut sakramen iman” (SC 59; lih. PO 4). Entah dilihat sebagai pernyataan kasih Allah, entah sebagai pengungkapan iman manusia, sakramen selalu berarti penampakan kesatuan Kristus dengan Gereja-Nya, dengan cara yang berbeda-beda, sehingga ada tujuh sakramen. Dalam arti sesungguhnya sebenarnya hanya ada satu sakramen saja, yakni Gereja sendiri.

Gereja sebagai keseluruhan “menampilkan dan sekaligus mewujudkan misteri cinta kasih Allah kepada manusia” (GS 45). Yang disebut “tujuh sakramen” sebenarnya adalah upacara-perayaan yang di dalamnya Gereja mewujudkan diri secara khusus. Bidang liturgi pada umumnya, sakramen-sakramen pada khususnya adalah bidang penghayatan iman Gereja yang khusus (di samping bidang pewartaan dan bidang pelayanan). Gereja itu Gereja antara lain dengan mengungkapkan imannya dalam perayaan tujuh sakramen, khususnya sakramen Ekaristi.