Sakramen Tobat

Dengan Pembaptisan, dan Krisma, orang menjadi anggota Gereja. Ia tidak dapat kehilangan keanggotaan itu. Tetapi bisa terjadi bahwa seseorang, karena tindakan kejahatan yang amat besar, terkena hukuman Gereja, yaitu “pengucilan” atau “ekskomunikasi“. Orang itu tetap anggota Gereja, namun ia dilarang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi serta dalam perayaan sakramen atau sakramentali yang lain, dan tidak boleh melakukan tugas gerejawi manapun (KHK kan. 1331). Larangan itu sebetulnya dikenakan pada setiap orang yang melakukan dosa besar. Orang itu pun tidak boleh menerima sakramen, kecuali sakramen baptis dan pengurapan orang sakit, karena mempunyai dosa besar. Dengan sakramen tobat tidak hanya dosanya diampuni, tetapi ia dapat lagi mengambil bagian secara penuh dalam kehidupan Gereja.

(a) Kebiasaan Gereja yang Berubah-ubah

Yohanes Pembaptis tampil dengan seruan, “Bertobatlah!” (Mat 3:2; Luk 3:3) dan awal pewartaan Yesus pun berbunyi, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Sejak itu seruan tobat bergema dalam seluruh Perjanjian Baru. Bersama dengan itu juga didengar kata-kata mengenai pengampunan. Bagi diri-Nya sendiri Yesus menuntut hak dan wewenang untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10), dan sebelum meninggalkan para rasul, kepada mereka pun Ia berkata, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya jadi diampuni” (Yoh 20:23). Tetapi tidak ada berita mengenai suatu “upacara pengampunan dosa”.

Yang ada hanyalah petunjuk tentang pengucilan, dalam Mat 18:15-20. Pokok petunjuk itu ialah jangan terlampau mudah mengucilkan seseorang: pertama tegurlah dia “di bawah empat mata” dahulu. Kalau itu tidak berhasil, sekali lagi, tetapi dengan satu atau dua saksi; jadi lebih resmi. Kalau itu pun tidak berhasil, baru dikucilkan. Wewenang untuk itu ditegaskan: “Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga, dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini, akan terlepas di surga” (ay. 18). Rupa-rupanya dalam hal pengucilan, Gereja perdana mengikuti adat-istiadat orang Yahudi. Tetapi tidak dikatakan apa-apa mengenai cara bagaimana menerima kembali orang yang dikucilkan itu. Hanya dikatakan bahwa pimpinan jemaat berwewenang mengucilkan (“mengikat”, sehingga tidak dapat mengikuti kegiatan jemaat) dan menerima kembali (“melepaskan” ikatan itu). Dalam 1Kor 5:1-13 St. Paulus rupa-rupanya juga hanya berbicara mengenai pengucilan, “Orang itu diserahkan kepada Iblis”.

Tidak dikatakan apa-apa mengenai suatu upacara penerimaan kembali, hanya diharapkan bahwa “rohnya diselamatkan pada hari Tuhan”, artinya pada hari kiamat. Apa yang terjadi dengan orang itu sekarang tidak jelas. Barangkali boleh diandaikan bahwa orang itu, kalau memperlihatkan tanda-tanda pertobatan, akan diterima kembali. Tetapi tidak ada berita mengenai peristiwa itu, apa lagi mengenai “upacara penerimaan kembali”. Kalau di sini sudah ada awal sakramen tobat, maka barangkali harus disebut “sakramen mengikat dan melepaskan”, yang hanya menyangkut dosa dan kesalahan yang merugikan jemaat, bukan kesalahan pribadi atau sengketa pribadi antara dua orang. Di situ berlaku nasihat Yesus, bahwa orang harus mengampuni “sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22), berarti tanpa batas. Maka sikap St. Paulus dalam 1Kor 5:1- 13 dan dalam 2Kor 2:5-11 lain. Pengucilan tidak dimaksudkan sebagai hukuman bagi dosa, melainkan sebagai perlindungan untuk jemaat yang adalah umat Allah yang suci.

Kebiasaan Gereja perdana diteruskan dalam Gereja kuno pada zaman para Bapa Gereja. Pada masa itu dikembangkan suatu upacara khusus, baik untuk mengucilkan seseorang maupun untuk menerimanya kembali di kalangan Gereja. Orang yang memberi sandungan karena perbuatan jahat (membunuh, merampok, zinah, dan murtad), bila mengaku dosanya di hadapan uskup, ditempatkan di kalangan orang yang menjalankan laku tapa. Mereka mempunyai tempat khusus di gedung gereja (atau di mukanya), mempunyai pakaian khusus dan diwajibkan berpuasa, berdoa, dan memberi sedekah. Mereka tidak boleh ikut serta dengan perayaan Ekaristi, dan diperlakukan sebagai “katekumen”, yakni orang yang belum dibaptis dan belum menjadi anggota Gereja.

Setelah selesai masa tobat, yang ditetapkan oleh uskup, mereka – biasanya pada Kamis Putih – diterima kembali di kalangan Gereja, oleh uskup juga. Maka jelas ada suatu upacara khusus, baik untuk pengucilan maupun untuk penerimaan kembali. Yang pokok dalam ibadat suci itu ialah tobat sendiri atau laku tapa. “Sakramen mengikat dan melepaskan” terang berkembang menjadi sakramen tobat. Yang khusus di dalamnya ialah bahwa:

  1. dilakukan secara publik dan terbuka;
  2. dipimpin oleh uskup sendiri; dan 
  3. dibatasi pada dosa-dosa yang memberi sandungan (mungkin hal itu sudah berlaku pada zaman Gereja perdana).

Masih ada satu ciri lain yang perlu diperhatikan, bahwa orang hanya satu kali saja dapat menjalani tobat seperti itu. Seandainya sesudah itu ia jatuh lagi, ia tidak diberi kesempatan kembali menjadi anggota aktif dalam Gereja. Kiranya hal itu pun sudah menjadi kebiasaan dalam Gereja perdana, sebab dalam Ibr 6:4-6 dikatakan:
“Mereka yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibarui lagi, hingga bertobat” (lih. juga 10:26-29; 12:15-17). Satu kali saja, tidak lebih. “Tobat publik” itu sungguh serius, bahkan terasa amat berat dan laku-tapa yang diwajibkan sering kali amat sulit dan lama.

Tobat seperti itu menjadi kebiasaan di daerah sekitar Laut Tengah, tempat Paulus pernah mewartakan Injil. Dari situ tersebar ke seluruh Eropa Selatan dan lebih jauh lagi. Tetapi di Inggris dan Irlandia orang mempunyai kebiasaan lain. Di situ pokok sakramen tobat juga laku tapa, tetapi yang menetapkan laku tapa itu, dan yang sesudahnya menerima kembali dalam Gereja, bukanlah uskup melainkan seorang imam biasa. Laku tapa tidak dilakukan secara terbuka lagi (walaupun biasanya orang mengetahui juga, karena beratnya laku tapa yang harus dilakukan). Karena tidak lagi bersifat publik secara penuh, laku tapa dilakukan juga untuk dosa (berat) pribadi dan boleh diulangi. Kebiasaan yang cukup berbeda ini, kiranya harus diterangkan dari sifat khusus Gereja di Inggris dan Irlandia yang berkembang di sekitar biara-biara. Dalam biara sedari semula orang biasa menjalani laku tapa, juga untuk dosa yang tidak memberi sandungan, bahkan yang tidak diketahui umum. Tobat dan laku tapa itu dibimbing oleh seorang rahib lain bukan oleh uskup. Praktik tobat yang juga dilakukan di luar tembok biara, di antara umat yang biasa, kemudian oleh para misionaris Inggris dan Irlandia dibawa ke Eropa Utara. Dengan demikian ada dua macam sakramen tobat. Karena tobat publik makin terasa terlalu berat, akhirnya tobat privat menjadi umum.

(b) Tobat Publik dan Tobat Privat

Pada pokoknya “tobat privat” tetap sakramen tobat, yang inti pokoknya adalah laku tapa. Semula laku tapa dalam tobat privat tidak kalah berat dengan tobat publik. Yang istimewa hanyalah, bahwa sakramen itu dilayani oleh seorang imam, untuk dosa pribadi juga (tidak hanya untuk yang memberi sandungan), dan boleh diterima lebih dari satu kali. Untuk menghindari kesewenangan dalam menentukan laku tapa, ditetapkan “tarip” yang berlaku untuk seluruh daerah: untuk dosa ini, laku tapanya itu. Orang bertanggung jawab sendiri untuk pelaksanaan laku tapanya. Tetapi bila selesai, sering kali sulit menemukan kembali imam yang menetapkannya. Maka lama kelamaan orang langsung diterima kembali secara “bersyarat”, yakni kalau sudah menyelesaikan laku tapanya. Bahkan lebih kemudian lagi, sudah cukup kalau dia berjanji dan mempunyai niat sungguh untuk melakukan dendanya itu. Pada waktu itu laku tapa sudah bukan pokok lagi, melainkan syarat. Dengan demikian, sebenarnya sakramen tobat sudah berubah menjadi sakramen pengampunan dosa.

Langkah berikutnya ialah bahwa laku tapa atau denda juga tidak lagi seberat zaman dahulu, biasanya berupa doa saja, sebab mengaku dosa sendiri sudah dianggap cukup berat. Sejak itu orang berbicara mengenai sakramen pengakuan dosa. Dari pihak orang yang menerima sakramen, yang pokok adalah pengakuan, sebab yang dipandang sebagai “pelaku utama” bukan lagi orang yang bertobat, tetapi imam yang memberi absolusi sebagai tanda pengampunan dosa. Hanya saja, supaya dapat memberikan denda yang sesuai, imam harus tahu dosanya. Untuk itu perlu pengakuan. Titik berat tergeserkan dari tobat kepada pengakuan, dan dari orang yang bertobat kepada imam yang memberikan pengampunan.

(c) Ajaran Gereja tentang Sakramen Tobat

Konsili Vatikan II meninjau kembali sakramen tobat. Pertama-tama, Konsili memakai lagi istilah “sakramen tobat”. Sebab yang terpenting memang tobat dan “orang beriman yang bertobat” (LG 28). Hubungan dengan Gereja juga ditekankan, “Mereka yang menerima sakramen tobat memperoleh pengampunan dari Allah dan sekaligus didamaikan dengan Gereja” (LG 11). Oleh karena itu, Konsili juga menghendaki supaya “upacara dan rumus untuk Sakramen Tobat ditinjau kembali” (SC 72). Itu dilakukan pada tahun 1973.

Dalam pengantar buku “Liturgi Tobat” yang baru itu antara lain dikatakan bahwa orang yang datang ke Sakramen Tobat “pertama-tama harus berpaling kepada Allah dengan segenap hati. Pertobatan batiniah ini dinyatakan lewat pengakuan kepada Gereja, pelaksanaan penitensi (denda) yang ditetapkan dan pembaruan hidup”. Yang pokok adalah tobat. Pengakuan serta denda tidak lain daripada pernyataan sikap tobat itu. Dari pihak lain, “lewat tanda absolusi Allah memberikan ampun kepada si pendosa, yang dengan pengakuan sakramental menyatakan pertobatannya kepada pelayan Gereja”. Tetapi ditegaskan, bahwa “yang paling penting adalah apa yang dilakukan oleh orang beriman sendiri, selaku pentobat” dan “bersama dengan imam ia merayakan liturgi Gereja, yang terus-menerus membarui diri”. Maka sakramen ini tidak lagi disebut “sakramen pengampunan”, tetapi sakramen tobat.

Yang harus dilakukan oleh pentobat dalam sakramen tobat dua hal: pengakuan dan penitensi (denda). Tetapi hendaknya ia juga menyatakan tobatnya dengan laku-tapa dan matiraga sukarela. Dalam hal ini ia dapat dibantu oleh indulgensi, yakni penghapusan dari hukuman-hukuman sementara karena jasa-jasa anggota Gereja yang lain, khususnya para santo dan santa, bahkan juga karena karya Tuhan Yesus sendiri. Supaya orang dapat mengambil bagian dari khazanah rohani Gereja itu, ditetapkan syarat-syarat tertentu, yang biasanya bersifat doa.

Sakramen tobat tetap terarah kepada penerimaan kembali oleh Allah di dalam Gereja. Tetapi ditekankan bahwa “perayaan Sakramen Tobat selalu merupakan pengakuan iman Gereja”. Sakramen tobat itu “sakramen iman”, di dalamnya secara khusus terungkapkan iman orang berdosa. Ini sebenarnya tidak berbeda total dengan pandangan sebelum Konsili, sebab Gereja selalu sudah yakin, bahwa tobat sungguh merupakan anugerah Allah dan dorongan Roh Kudus.

Oleh rahmat Allah orang sadar akan kemalangannya sendiri, dan menyatakan kelemahannya di hadapan Allah. Allah sendiri menarik orang berdosa. Dengan mengaku diri orang berdosa, maka manusia menyerahkan diri lagi kepada Allah yang maharahim. Apa yang disebut “pengakuan dosa”, sebetulnya tidak lain daripada mengaku diri orang berdosa. Yang pokok bukan dosa-dosa, melainkan diri orang yang sebagai pendosa mohon belaskasihan Tuhan. Allah senantiasa menawarkan rahmat-Nya kepada pendosa, tetapi manusia harus mau menerimanya. Itu terjadi dalam sakramen tobat. Iman dan tobat tidak dapat dipisahkan. Tobat itu iman orang berdosa. Dan walaupun “Gereja adalah suci, namun sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaruan” (LG 8).

Oleh karena itu, iman Gereja selalu berupa tobat. Kalaupun orang tidak selalu terpisah dari Allah karena dosa-dosa yang besar, dosa kecil pun memperlihatkan kedosaan manusia. Maka dengan sewajarnya manusia terus-menerus mengembangkan sikap tobat dalam dirinya, karena dengan demikian ia makin sadar bahwa “karena kasih karunia ia diselamatkan, oleh iman; itu bukan hasil usaha manusia sendiri, tetapi pemberian Allah. Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus” (Ef 2:8-10). Pokok sakramen tobat ialah pengakuan iman terhadap belas kasihan Tuhan. Di samping itu, praktik kehidupan sakramen tobat juga merupakan kesempatan baik untuk meminta bimbingan dan pengarahan dalam menjalankan hidup Kristiani.