Sakramen Tahbisan

Ekaristi merupakan pusat dan puncak seluruh kehidupan sakramental-liturgis Gereja. Sakramen-sakramen lain, dengan cara dan dasar yang berbeda-beda, merupakan syarat untuk dapat ikut serta dalam perayaan Ekaristi. Pemimpin perayaan itu diangkat dengan sakramen tahbisan. Tanpa imam sebagai pemimpin, kebaktian umat tidak diakui sebagai perayaan resmi Gereja. Bukan dalam arti bahwa imamlah yang membuat Ekaristi, tetapi imam itu pemimpin umat yang membuat pertemuan menjadi resmi. Dengan demikian perayaan Ekaristi juga menjadi ibadat resmi Gereja atau sakramen.

Tahbisan Uskup, Imam, dan Diakon: Satu atau Tiga?

Dalam masa yang lampau sakramen tahbisan, yang dulu sering disebut “sakramen imamat”; terlampau dibatasi pada tugas dalam Ekaristi. Dikatakan bahwa dengan tahbisan, imam diberi kuasa membuat roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, mempersembahkan kurban Kristus kepada Allah, dan untuk memberi absolusi dalam sakramen tobat. Ini kurang tepat. Sakramen tahbisan itu “sakramen wisuda”. Dengan tahbisan seseorang menjadi pemimpin dalam Gereja, bukan hanya dalam perayaan Ekaristi atau dalam pelayanan sakramen lainnya, melainkan dalam seluruh kehidupan dan kegiatan Gereja (termasuk tentu juga sakramen-sakramen). Dengan sakramen tahbisan orang “diangkat untuk menggembalakan Gereja dengan sabda dan rahmat Allah” (LG 11).

Maka dari itu sakramen tahbisan itu pertama-tama tahbisan uskup. Sebab “dengan tahbisan uskup diterimakan kepenuhan sakramen imamat, yang biasanya disebut imamat tertinggi atau keseluruhan pelayanan suci” (LG 21). Adapun para imam biasa, kendatipun “tidak menerima puncak imamat, dan dalam melaksanakan kuasa mereka tergantung dari para uskup, namun mereka sama-sama imam seperti para uskup; dan berdasarkan sakramen tahbisan mereka pun dikhususkan untuk mewartakan Injil serta menggembalakan umat beriman, dan untuk merayakan ibadat ilahi, sebagai imam sejati Perjanjian Baru” (LG 28). Akhirnya, masih ada para diakon, yang juga “ditumpangi tangan, tetapi bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan” (LG 29). Ada tiga macam sakramen tahbisan: tahbisan uskup, tahbisan imam, dan tahbisan diakon. Jadi, ada tiga sakramen ataukah satu?

Di atas telah dikatakan bahwa imam dan diakon itu pembantu uskup, oleh karena itu juga ditahbiskan sebagai pembantu uskup, oleh uskup mereka sendiri. Pemimpin umat yang sesungguhnya ialah uskup, tetapi bukan dalam arti bahwa uskup berdiri sendiri. Yang memimpin Gereja itu dewan para uskup, dan masing-masing uskup di tempatnya sendiri sebagai anggota dewan para uskup. Itulah sebabnya uskup ditahbiskan oleh paling sedikit tiga uskup. Sebab “adalah wewenang para uskup untuk dengan sakramen tahbisan mengangkat orang terpilih baru ke dalam dewan para uskup” (LG 21).

Itu tidak berarti bahwa tahbisan imam dan diakon bukan sungguh tahbisan. Mereka pun diangkat menjadi anggota hierarki atau pimpinan Gereja, biarpun sebagai pembantu saja. Maka dapat dibedakan antara uskup dan imam/diakon sebagai pemimpin dan pembantu pemimpin. Dapat dibedakan lagi antara imam dan diakon sebagai pembantu umum dan pembantu khusus. Kalau ditekankan perbedaan itu, maka harus disimpulkan bahwa ada tiga sakramen tahbisan. Akan tetapi, kalau melihat bahwa dengan sakramen tahbisan seseorang menjadi anggota hierarki guna menggembalakan umat, biarpun dengan pembagian tugas tersendiri, harus dikatakan bahwa ada satu sakramen tahbisan saja. Satu atau tiga tahbisan itu serupa dengan satu atau dua inisiasi. Kalau semua dikhususkan, maka ada sembilan sakramen, Kalau baik inisiasi maupun tahbisan dianggap satu, maka ada enam.

Struktur Sakramental

Yang penting bukan jumlah enam atau sembilan, melainkan hubungan antara sakramen atau “struktur sakramental” Gereja. Konsili Vatikan II berulang kali berkata bahwa Ekaristi adalah “pusat dan puncak” (CD 30; AG 9; lih. LG 11; PO 5). Boleh dikatakan bahwa Ekaristi itu pelaksanaan diri Gereja di bidang liturgis-sakramental. Semua sakramen lain adalah syarat atau lanjutan. “Syarat” entah untuk dapat berpartisipasi entah untuk membuat perayaan ini menjadi sah. Supaya perayaan sah, perlu ada pemimpin yang sah, yang diangkat dengan tahbisan, menurut tingkatan sendiri-sendiri.

Syarat untuk boleh ikut juga berbeda-beda: inisiasi merupakan syarat umum. Dengan pembaptisan dan krisma, orang menjadi anggota Gereja dan karena itu “berhak” ikut serta dalam perayaan Ekaristi. Haknya itu tidak bisa dipergunakan, kalau ia mempunyai dosa besar atau bahkan diekskomunikasi (dikucilkan). Dengan sakramen tobat semua halangan itu dihapus dan orang dapat berpartisipasi penuh lagi. Tetapi halangan tidak hanya datang dari tindakan moral seseorang. Ia juga harus dilantik di dalam Gereja menurut status sosialnya. Dengan hidup berkeluarga status sosialnya berubah. Maka keanggotaan Gereja harus “disesuaikan”. Itulah fungsi sakramen perkawinan. Akhirnya, dengan sakramen pengurapan orang sakit orang dipersiapkan supaya bersatu dengan sengsara dan wafat Kristus, bukan hanya secara sakramental (dalam Ekaristi) melainkan juga secara eksistensial dengan mengalaminya sendiri.

Semua sakramen itu tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan satu sama lain, dan bersama-sama membentuk struktur sakramental Gereja, yang dapat digambarkan sebagai berikut.

Struktur Sakramen
Struktur Sakramen

Dalam struktur ini jelas, bahwa inisiasi (dan juga tobat dan nikah) benar-benar terarah kepada Ekaristi sebagai “pusat dan puncak”-nya, Begitu juga para imam harus sadar, bahwa “tugas suci mereka laksanakan terutama dalam ibadat Ekaristi atau pertemuan (synaxis)” (LG 28). Dan mereka yang dipersatukan dengan sengsara Kristus hendaknya yakin, bahwa “kita adalah warga surga, dari mana kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia” (Flp 3:20-21).

Upacara Tahbisan

Seperti dalam banyak sakramen lain, begitu juga upacara sakramen tahbisan tidak ditentukan dalam Kitab Suci. Dalam Kis 13:2- 3 diceriterakan bahwa Barnabas dan Paulus ditumpangi tangan, lalu diutus oleh jemaat sebagai pewarta Injil. Penumpangan tangan merupakan tanda berkat, dan mungkin juga penyerahan kuasa (lih. juga Kis 20:28; 1Tim 4:14; 5:22; 2Tim 1:6). Tetapi tidak jelas adakah itu dimaksudkan sebagai upacara sakramen tahbisan, yang baru ditetapkan pada pertengahan abad ke-3. Sejak itu inti pokok upacara pentahbisan ialah penumpangan tangan disertai doa, yang dalam tahbisan imam berbunyi:

“Berikanlah, kami mohon, Bapa yang Mahakuasa
kepada hamba-hamba-Mu ini martabat imamat;
perbaruilah dalam hati mereka Roh kekudusan;
semoga mereka diberi tugas derajat kedua,
yang diterima daripada-Mu, ya Allah, dan
mengajarkan kewajiban moral dengan teladan hidup mereka.”

Dengan demikian, terungkap bahwa mereka sungguh menjadi imam, tetapi sekaligus bahwa mereka hanya pembantu saja. Juga: kepemimpinan mereka tidak hanya h   arus dijalankan dengan kata, tetapi terutama dengan “teladan hidup”.

Apa yang anda pikirkan?