Sakramen Pengurapan Orang Sakit

Mengenai perayaan Ekaristi St. Paulus berkata: “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26). Ekaristi merupakan “kenangan akan wafat dan kebangkitan Kristus” (SC 47), dan “kurban rohani kaum beriman mencapai kepenuhannya dalam persatuan dengan kurban Kristus itu, yang dipersembahkan secara tak berdarah dan sakramental dalam Ekaristi” (PO 2). Dalam Ekaristi, Gereja “secara tak berdarah dan sakramental” mengambil bagian dalam penyerahan Kristus kepada Bapa. Tetapi akan datang saatnya ketika orang dipanggil mengikuti jejak Kristus, bukan hanya secara sakramental, melainkan dengan sungguh menghadapai “musuh yang terakhir, ialah maut” (1Kor 15:26). Untuk itu ia perlu dikuatkan secara khusus. Sebab “jika kita mati bersama Kristus, kita juga akan hidup bersama Dia” (2Tim 2:11). Itu terjadi dengan sakramen pengurapan orang sakit.

Sejarah Perkembangannya

Pengurapan orang sakit dalam dunia Perjanjian Lama biasa sekali, dan dimaksudkan sebagai obat (lih. Yes 1:6; Yer 8:22; Luk 10:34). Maka tidak mengherankan bahwa para rasul juga “mengoles banyak orang dengan minyak dan menyembuhkan mereka” (Mrk 6:13). Belum tentu bahwa di situ terjadi mukjizat; bisa jadi bahwa itu penyembuhan biasa dengan “obat tradisional”. Tetapi perbatasan antara “yang biasa” dan “yang dikerjakan oleh Allah” tidak selalu jelas. Dan tidak jarang pengobatan seperti itu disertai doa-doa, seperti yang dikatakan dalam surat Yakobus:

Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila didoakan dengan yakin, sangat besar kuasanya (Yak 5:14-16).

Langsung kelihatan bahwa doa malah menjadi yang paling penting, bukan hanya dalam ayat-ayat ini saja, melainkan juga dalam ayat-ayat yang mendahului (ay. 13) dan yang menyusul, yang menampilkan Elia sebagai “tokoh doa” (ay.17-18). St. Yakobus berbicara mengenai daya kekuatan doa. Dalam kerangka itu ia juga berbicara mengenai doa jemaat untuk orang yang sakit. Apakah doa dengan pengurapan itu sudah merupakan suatu sakramen? Sulit ditentukan. Yang jelas bahwa ini doa resmi, sebab yang membawakannya “para penatua jemaat”, yang dipanggil secara khusus. Dan keistimewaannya, dilakukan sambil “mengoles dengan minyak dalam nama Tuhan”. Pengolesan dengan minyak bukan pengobatan biasa, sebab dilakukan “dalam nama Tuhan” dan disertai doa resmi. Semua itu sudah amat jelas menunjuk ke arah “sakramen” walaupun upacaranya belum sangat jelas. Rupa-rupanya umat perdana mengenal pengurapan orang sakit, yang bersifat keagamaan.

Tetapi apakah upacara ini berasal dari Yesus atau dikehendaki oleh Yesus? Jawaban atas pertanyaan ini ialah, bahwa dalam hal ini – sama seperti dengan Ekaristi – Yesus rupa-rupanya mengikuti adat-istiadat orang Yahudi. Dari mazmur-mazmur kentara bahwa orang Yahudi mempunyai kebiasaan berdoa kepada Tuhan, mohon penyembuhan dari sakit (lih. Sir 38:9). Mungkin dalam kerangka pemikiran yang sama. Yesus memberi perintah kepada para murid-Nya agar secara khusus memperhatikan orang sakit (Mrk 6:13). Para rasul menaati perintah Yesus itu, dalam kerangka adat-kebiasaan bangsa Yahudi. Yesus mendukung tradisi Yahudi. Sebagaimana untuk perayaan Ekaristi Ia tidak memberikan banyak petunjuk khusus, begitu juga untuk upacara pengurapan orang sakit secara Kristiani tidak ada banyak instruksi. Upacara itu berkembang lambat-laun dalam tradisi Kristen sendiri.

Praksis umat perdana dijalankan terus di dalam Gereja. Tetapi kesadaran bahwa upacara ini sebuah sakramen, baru dirumuskan dengan jelas dalam abad ke-12. Upacara liturgis juga berkembang langkah demi langkah dalam tradisi Gereja. Dalam abad kelima Paus Inosensius I mengatakan mengenai Yak 5:14-16:

Jelas sekali bahwa teks ini harus diterima dan dimengerti dalam hubungan dengan orang sakit, yang dapat diurapi dengan minyak krisma suci, yang telah dipersiapkan oleh uskup. Minyak itu boleh dipakai untuk mengurapi tidak hanya oleh para imam tetapi oleh semua orang Kristen, bila mereka sendiri atau orang sekeluarga membutuhkannya.

Tampaknya pada waktu itu yang pokok malah minyak, yang diberkati oleh uskup. Setiap orang boleh mengoleskannya, barangkali juga pada dirinya sendiri. Dalam abad ke-9 peraturan diubah lagi. Yang boleh menerimakan sakramen ini hanyalah para imam saja, dengan menggunakan minyak yang telah diberkati oleh uskup dan dengan memakai upacara dan doa-doa yang telah ditetapkan. Penerimaan sakramen juga dibatasi. Lama-kelamaan sakramen ini hanya diterimakan kepada orang yang sakit keras, hampir mati. Sejak itu orang berbicara mengenai “pengurapan terakhir”. Pada tahun 1972 upacara diubah lagi dan disebut “pengurapan orang sakit”, sebab menurut peraturan baru itu, sakramen ini diberikan kepada orang beriman “bila ia sakit berat, entah karena usia lanjut entah karena penyakit”. Kecuali itu ditambahkan penjelasan ini: “Untuk mengetahui, apakah seseorang sakit berat atau tidak, cukuplah penilaian umum dan bijaksana; dalam hal ini pertimbangan seorang dokter sering dapat menolong”. Jadi, sakit berarti “sakit berat”, tetapi tidak berarti “bahaya maut”. Dari pihak lain harus dikatakan bahwa “sakit berat” selalu mengandung bahaya maut atau setidak-tidaknya sudah dibayangi oleh kegelapan maut. Maka sebetulnya sakramen ini lebih baik disebut sakramen pengharapan, entah mengharapkan penyembuhan entah mengharapkan kekuatan untuk menghadapi maut.

Pastoral Orang Sakit

Maksud sakramen pengurapan orang sakit dijelaskan oleh Konsili Vatikan II sebagai berikut:

Melalui perminyakan suci dan doa para imam seluruh Gereja menyerahkan orang yang sakit kepada Tuhan, yang bersengsara dan telah dimuliakan, supaya Ia menyembuhkan dan menyelamatkan mereka; bahkan Gereja mendorong mereka untuk secara bebas menggabungkan diri dengan sengsara dan wafat Kristus, dan dengan demikian memberi sumbangan kesejahteraan kepada umat Allah (LG 11).

Yang pokok adalah persatuan dengan Kristus, yang dilakukan dalam iman. Oleh karena itu peraturan tahun 1972 menegaskan bahwa “orang sakit akan diselamatkan berkat imannya dan berkat iman Gereja, yang berdasarkan wafat dan kebangkitan Kristus sebagai sumber kekuatan, dan yang terarah kepada Kerajaan yang akan datang, yang dilambangkan dalam sakramen-sakramen”. Pengurapan orang sakit itu sakramen iman, bahkan menjadi sakramen pengharapan.

Oleh karena itu, Gereja menghendaki supaya sakramen pengurapan orang sakit tidak menjadi upacara lepas, melainkan merupakan bagian pastoral orang sakit. Liturgi orang sakit mulai dengan mengunjungi orang sakit dan berdoa bersama mereka. Komuni orang sakit mempunyai tempatnya di sini, sebagai bukan hanya “bekal suci” (viaticum), yakni “komuni terakhir”, melainkan jauh sebelumnya hendaknya orang sakit secara khusus dilayani dengan Ekaristi. Melalui komuni si sakit dapat mengambil bagian dalam doa Gereja dan mempersatukan diri dengan Kristus yang wafat dan bangkit. Sebagai tanda doa Gereja ia juga dapat diberi berkat khusus. Ini salah satu sakramentali yang secara khusus mewujudkan doa Gereja bagi yang sakit.

Akhirnya dalam rangkaian itu ada sakramen pengurapan orang sakit, yang dapat dilayani dengan aneka cara dan perayaan. Pelayanan sakramen itu janganlah ditunda sampai saat si sakit sudah tidak cukup kuat untuk ikut menghayatinya. Banyak orang “takut” menerima sakramen ini, karena berpendapat bahwa pengurapan orang sakit mendatangkan maut. Ini tentu pendapat yang keliru, yang perlu dikoreksi dalam suatu katekese pastoral yang sekaligus bersifat penerangan dan penghiburan. Kalau sakramen ini bisa diterima dalam keadaan yang belum “parah”, si sakit benar-benar dapat menghayatinya dan ikut merayakannya. Lalu sakramen ini juga mungkin dirayakan dengan kehadiran kelompok jemaat yang sedikit lebih besar. Bahkan liturgi membuka kemungkinan bahwa sakramen ini diberikan selama perayaan Ekaristi, khususnya bagi mereka yang sudah lanjut usia. Bagaimanapun juga, seluruh liturgi orang sakit harus memperlihatkan bahwa orang sakit tetap dipandang dan diperlakukan sebagai anggota jemaat, yang mempunyai kedudukan khusus dalam jemaat, karena kedekatan fisik dengan sengsara dan wafat Kristus. Partisipasi dalam misteri wafat dan kebangkitan Kristus merupakan panggilan seluruh Gereja. Maka anggota yang sehat, hendaknya memperlihatkan kepada si sakit bahwa ia tetap satu dari mereka, dalam mengikuti jejak Kristus.