Roh Penolong

Pada perjamuan terakhir sampai lima kali Yesus menjanjikan Roh itu, guna meneruskan karya-Nya sendiri (lih. Yoh 14:16-17.25-26; 15:26-27; 16:7-11.12-15). Seperti Yesus sendiri disebut “Penolong” (1Yoh 2:1), begitu sesudah kebangkitan-Nya diutus oleh-Nya seorang Penolong yang lain, yang akan membantu para rasul dalam karya perutusan mereka. Dengan “mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan mengingatkan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26) Roh Kudus membuat para rasul mampu meneruskan pewartaan Yesus. Dia adalah Roh Yesus sendiri, yang tinggal bersama mereka, sejak Yesus sudah tidak kelihatan lagi. Ia “mengajarkan” (14:26), “bersaksi” (15:26), “memuliakan” (16:14): Ia tidak berdiri di samping Yesus, tetapi meneguhkan wahyu Yesus, yang sudah diterima oleh para murid. Dengan demikian Ia memuliakan Yesus, “sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya daripada-Ku” (16:14).

Kehadiran Roh berarti kehadiran Yesus yang mulia di dalam Gereja. Maka Paulus juga berkata: “Tuhan (yang mulia) adalah Roh” (2Kor 3:17). Dan Yesus sendiri sudah bersabda sebelumnya: “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah Roh dan hidup” (Yoh 6:63). Sabda yang disampaikan oleh Yesus memberikan Roh dan hidup yang tidak berkurang sesudah kebangkitan-Nya. Malah sebaliknya, “sebab Roh belum datang, selama Yesus belum dimuliakan” (Yoh 7:39). Yesus datang supaya manusia mempunyai hidup dengan selimpah-limpahnya (Yoh 10:10). Maka dikatakan bahwa “dari dalam hati-Nya akan mengalir aliran-aliran air hidup”. Aliran air hidup ialah “Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya” (Yoh 7:38-39).

Tidak mengherankan bahwa oleh Lukas kisah kenaikan Yesus diteruskan dengan kisah turunnya Roh Kudus pada hari Pentekosta. Seperti Paskah begitu juga Pentekosta sebenarnya suatu perayaan Yahudi. Pada hari Paskah dirayakan pembebasan dari Mesir, Pentekosta menjadi hari raya perjanjian dengan Tuhan, yang pertama kalinya diadakan di gunung Sinai.

Semula Pentekosta adalah pesta panen (lih. Kel 34:22; Im 23:15-21; Bil 28:26- 31; Ul 16:9-12; dan kata “Pentekosta” baru dipakai dalam Tob 2:1; 2Mak 12:32). Bisa jadi Paskah, yang juga disebut “hari raya roti tak beragi” (Kel 23:15; Ul 16:16), juga bertalian dengan awal panen. Tetapi sudah sejak Perjanjian Lama, Paskah dihubungkan dengan pembebasan dari Mesir. Sedang Pentekosta baru menjelang zaman Yesus mulai menjadi hari pembaruan perjanjian (bdk. 2Taw 15:10-12) dan lebih kemudian lagi menjadi hari raya pengenangan Perjanjian di Sinai.

Sulit mengatakan apakah Gereja perdana melihat hubungan antara pesta perjanjian dan pencurahan Roh Kudus. Yang jelas turunnya Roh Kudus digambarkan serupa dengan peristiwa Allah yang turun atas gunung Sinai. Perbedaan yang mencolok ialah, bahwa di Sinai Taurat diberikan kepada bangsa Israel saja, sedangkan Roh Kudus turun atas “semua orang yang percaya” (Kis 2:1). Orang-orang itu kemudian mulai berbicara kepada “orang-orang Yahudi dari segala bangsa di bawah kolong langit” (2:5), dan ditekankan bahwa semua orang itu “mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri” (2:11). Mukjizat bahasa itu amat ditonjolkan (lih. ay. 4.6.8.11).

St. Paulus juga menyebut karunia berkata-kata dengan bahasa-bahasa (1Kor 12:10.28; 14:2 dst.) sebagai anugerah khusus dari Roh Kudus. Dari reaksi para penonton kelihatan bahwa pengalaman Pentekosta bersifat kharismatis (lih: Kis 2:13). Pengalaman kharismatis semacam itu diceritakan Lukas sekali lagi dalam Kis 4:31, waktu Petrus dan Yohanes kembali kepada jemaat, “Ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu; dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani”. Kiranya peristiwa Pentekosta tidak lain daripada pengalaman pertama akan karya Roh Kudus di dalam jemaat. Di tengah-tengah para peziarah Yahudi jemaat perdana mulai sadar bahwa merekalah umat Allah terpilih, yang digerakkan oleh Roh Allah sendiri.

Dari kutipan Yoel 2:28-32 (dikutip Kis 2:17-21) kelihatan bahwa pengalaman Pentekosta itu dilihat sebagai kepenuhan karya penyelamatan Tuhan. Melalui nabi Yeremia Tuhan sudah bersabda: “Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda; Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yer 31:31.33; lih. juga Yeh 36:25-27). Paulus di kemudian hari akan mengomentari: “Perjanjian baru tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh; sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan” (2Kor 3:6). Dengan kedatangan Roh Kudus karya Kristus mencapai kepenuhannya, seperti sudah dikatakan oleh Yohanes Pembaptis: “Aku membaptiskan kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus” (Mrk 1:8; lih. Kis 1:5).