Rahmat

Maka harus disimpulkan bahwa karya Roh tidak lain daripada yang lazim disebut “rahmat”, sebab memang dengan “rahmat” atau “kasih-karunia” sebetulnya dimaksudkan kasih Allah kepada manusia, yang tanpa jasa, tanpa hak, menerima kasih itu. Oleh kasih Allah itu manusia diajak dan dimampukan guna mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri. Karena kasih Allah itu, manusia makin menyadari ketidakpantasannya dan sekaligus berani membuka diri untuk kebaikan dan kekudusan Allah itu. “Rahmat” berarti bahwa “kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita”; mengakui bahwa “Allah adalah kasih” (1Yoh 4:16), dan bahwa “kasih Allah itu telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Kasih itu disebut “rahmat”, karena merupakan pemberian diri Allah yang bebas dan berdaulat. Ini bukan kebaikan Allah pada umumnya.

Rahmat berarti kasih pribadi Allah bagi seorang manusia. Dengan sewajarnya itu disebut “rahmat” atau kerahiman, karena dari pihak manusia tidak ada apa-apa yang dapat dipandang sebagai dasar atau “hak” atas kasih Allah itu. Bahkan harus dikatakan bahwa oleh dosanya manusia semakin tidak mempunyai dasar mengharapkan sikap Allah yang luar biasa itu. Rahmat adalah kasih Allah yang sungguh tidak disangka-sangka dan tidak diduga-duga. Bahkan rahmat itu, sebagai misteri kasih pribadi Allah, mengatasi segala pikiran dan angan-angan manusia.

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!
Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya
dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?
Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?
Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia
harus menggantikannya?” (Rm 11:33-35).

Yang paling sulit ditangkap ialah, bahwa Allah tetap Allah namun sungguh bersatu dengan manusia. Manusia kena oleh kasih Allah, dan karenanya juga berubah. Manusia “bukan lagi hamba, melainkan anak; dan oleh karena itu juga ahli-waris, oleh Allah” (Gal 4:7). Anak dan ahli-waris, melulu oleh karena kasih dan kerahiman Allah. Maka hubungan rahmat berbeda dan lebih akrab daripada hubungan makhluk dengan Penciptanya. Rahmat berarti bahwa Pencipta mau menjadi Bapa bagi makhluk, yang diterima sebagai anak dan dibuat “serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm 8:29), yaitu Yesus Kristus.

Dengan demikian, sudah sewajarnya Roh Kudus disebut “rahmat tak-tercipta”. Roh Kudus itu Roh Allah (Rm 8:9) dan oleh karena itu bukan makhluk, melainkan “tak-tercipta”. Roh Kudus itu diberikan kepada kita. Dan “semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah” (Rm 8: 14). Kehadiran Roh mengubah kita menjadi anak Allah, maka Roh itu adalah sumber rahmat dan pantas disebut “rahmat dasar”. Karena karya Roh, rahmat menjadi kenyataan manusiawi, dialami, diwujudkan dan dihayati bersama.

Rahmat berarti hidup manusia, seluruh hidup manusia dengan segala segi dan aspeknya, yang diterima dari Allah. Itu berarti bahwa rahmat tidak pernah berarti paksaan, tetapi selalu mengandaikan jawaban bebas dari manusia terhadap kasih-kerahiman Allah. Memang, manusia tidak pernah bebas seluruhnya, melainkan selalu tergantung pada situasi dan kondisi kehidupannya. Tetapi karena ia dipanggil secara pribadi oleh Allah, maka ia juga harus menjawab secara pribadi dan itu berarti secara bebas-merdeka, tidak lepas dari situasi dunia sekitarnya juga. Ia tidak hanya terikat pada dunia itu, tetapi juga bertanggung jawab untuknya. Manusia menghadap Allah, juga dalam rahmat, dalam kesatuan dengan sesama manusia dan seluruh dunia sekitarnya.

Aneka ragam kata dipakai dalam Kitab Suci untuk “rahmat”. Biasanya dikatakan “kasih karunia” (lih. mis. Luk 1:30; Rm 1:5). Itu memang tepat, sebab dari satu pihak rahmat adalah “kasih” Allah, dan dari pihak lain merupakan “karunia” yang diberikan dengan cuma-cuma, tanpa hak apa pun dari pihak kita. Dipakai juga kata “karunia” saja (mis. Kis 6:8; Rm 5:15), dan itu pun tepat, asal tidak dimengerti semata-mata sebagai “hadiah” atau “pemberian”, lepas dari Allah sendiri. Yang dikaruniakan oleh Allah adalah Roh-Nya sendiri. Rahmat itu sikap Allah (“kasihan” kata 1Ptr 5:5). Oleh karena itu dipakai beberapa kata kiasan juga untuk rahmat, khususnya oleh Paulus.

Paulus melukiskan rahmat dengan tiga metafor atau kata kiasan: gambaran “perdamaian”, yang dikembangkan terutama dalam Rm 5:10-11 dan 2Kor 5:18-20. Dalam Rm 3:25 gambaran itu dihubungkan dengan tema “pembenaran”. Di situ juga disebut metafor yang ketiga, yakni “penebusan” (lih. terutama Rm 3:24; 8:23; 1Kor 1:30). Perdamaian, pembenaran, dan penebusan adalah kiasan, perbandingan yang kalau diteliti sungguh sebetulnya tidak seratus persen tepat. Dikatakan bahwa “Allah dengan perantaraan Kristus mendamaikan kita dengan diri-Nya” (2Kor 5:18), padahal yang salah kita. Jadi seharusnya yang “berdamai” kita. Tetapi ternyata yang menawarkan perdamaian justru yang tidak salah, yaitu Allah sendiri.

Dalam metafor “penebusan” tekanan ada pada Kristus dan Paulus jarang memakai kata penebusan. Tetapi dalam Mrk 10:45 (lih. Mat 20:28) dikatakan bahwa Kristus “memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan” (lih. juga 1Tim 2:6). Memberikan nyawanya kepada siapa? Seharusnya dikatakan: kepada setan. Tetapi itu tentu tidak mungkin. Maka jelaslah bahwa ini bahasa kiasan saja, yang mau menyatakan bahwa Kristus membebaskan kita dari dosa (lih. Ef 1:7.14; Kol 1:14; Why 1:5). Kata terakhir, “pembenaran” melihat rahmat sebagai perubahan dalam hidup manusia. Kata ini pun bersifat kiasan, sebab kata “pembenaran” berasal dari dunia kehakiman dan membenarkan berarti “menyatakan siapa yang benar dan siapa yang, salah” (Ul 25:1). Tentu saja dari si hakim diharapkan bahwa yang bersalah akan dinyatakan salah, dan yang tidak bersalah dinyatakan benar. Tetapi Allah “membenarkan orang durhaka” (Rm 4:5). Inilah inti pokok rahmat: orang berdosa dan orang durhaka diterima oleh Allah sebagai anak-Nya dan dengan demikian dinyatakan “benar”. Oleh Allah manusia berdosa “dibenarkan dengan cuma-cuma oleh kasih karunia karena penebusan dalam Kristus” (Rm 3:24), sebab Allah “membenarkan orang yang percaya kepada Yesus” (3:26).

Mengenai “pembenaran” ini pernah ada perbedaan pendapat besar antara orang Katolik dan orang Protestan. Kata “membenarkan” adalah sebuah kata yang khas untuk bahasa Kitab Suci. Dalam bahasa Indonesia yang biasa, kata “membenarkan” berarti:

  1. membuat supaya benar; meluruskan, melencangkan;
  2. membetulkan; memperbaiki;
  3. mengatakan benar;
  4. mengiyakan; mengakui;
  5. menyetujui; menganggap benar (baik);
  6. mengizinkan; meluluskan,

Semua arti kata itu tidak ada yang berhubungan dengan pengadilan. Padahal dalam Kitab Suci arti pokok “membenarkan” ialah menyatakan benar seorang terdakwa yang ternyata tidak salah. Di atas sudah dikatakan bahwa pengetrapan kala itu pada Allah agak khusus, sebab Allah menyatakan benar orang yang sebetulnya salah. Tetapi bagaimanapun juga, arti dasar kata itu tetap sama: menyatakan benar. Pada zaman Reformasi, (abad ke-16) terjadi pertengkaran yang hebat mengenai arti kata itu dalam Kitab Suci. Menurut orang Protestan (zaman itu) “menyatakan benar” berarti bahwa sebetulnya orang itu tetap pendosa, tetapi oleh Allah dianggap benar. Orang Katolik mempunyai pendapat lain. Kalau seseorang oleh Allah dinyatakan benar, maka itu berarti bahwa dengan pernyataan itu orang itu juga menjadi benar (dan bukan pendosa lagi). Menurut ajaran Martin Luther kebenaran tidak pernah menjadi milik manusia, tetapi selalu tinggal “kebenaran di luar kita”, yakni kebenaran Kristus yang oleh Allah dikenakan pada manusia pendosa. Dengan demikian, orang’ itu “sekaligus benar dan pendosa” (simus justus et peccator). Lama sekali perbedaan pendapat ini menjadi pertentangan dasariah antara Protestan dan Katolik. Sementara ini pemahaman dari kedua belah pihak telah berkembang. Bukan dalam arti bahwa yang satu mengambil alih pandangan dari yang lain, tetapi bahwa semua menyadari bahwa pembenaran dan rahmat bukanlah sesuatu yang satu kali jadi selesai. Pembenaran merupakan suatu proses. Manusia sedang dalam perjalanan menuju pertemuan definitif dengan Tuhan, pada akhir hidup dan pada akhir zaman. Dalam proses ini ia tidak hanya pasif saja (seperti dahulu tampaknya dikatakan oleh orang Protestan). Ia juga tidak dapat membanggakan pembenaran yang telah diberikan kepadanya (seperti lama sekali diyakini oleh orang Katolik). Dalam ketaatan kepada Roh Allah dalam dirinya manusia mencoba semakin membuka.diri bagi rahmat Allah. Iman sebetulnya tidak lain daripada menerima bahwa diterima (oleh Allah).

“Pembenaran”, seperti juga “perdamaian” dan “penebusan”, merangkum seluruh proses pendekatan Allah kepada manusia dalam Kristus oleh Roh Kudus. Maka sulit sekali merumuskan arti kata itu dengan singkat, sebab kata-kata ini sudah merupakan semacam “singkatan” untuk seluruh tindakan penyelamatan Allah. Kalau orang berbicara mengenai “pembenaran” (dan juga mengenai “rahmat”) ia tidak boleh melupakan wafat dan kebangkitan Kristus, dosa Adam dan kedosaan setiap orang, iman, tobat dan doa, dan terutama karya Roh dalam hati orang, yang mengarahkan orang beriman kepada kerahiman Allah. Sebab kata “perdamaian” menekankan rahmat dan pengudusan manusia sebagai tindakan Allah, sebagai kasih Allah bagi manusia. Sedangkan proses yang sama, kalau dilihat dari sudut manusia disebut “pembenaran”, dan kalau mau ditekankan karya Kristus, dipakai kata “penebusan”.

Apa yang anda pikirkan?