Pluralisme Pandangan mengenai Allah

Allah dipahami secara berbeda-beda, tidak hanya menurut perbedaan agama. Dalam agama yang sama, misalnya dalam agama Kristen, terdapat pandangan yang berbeda-beda. Terdapat banyak sekali cara mendekati dan memahami misteri Allah.

Konsili Vatikan II menyatakan bahwa sudah sejak dahulu kala hingga sekarang ini di antara pelbagai bangsa terdapat suatu kesadaran tentang daya-kekuatan yang gaib, yang hadir pada perjalanan sejarah dan peristiwa-peristiwa hidup manusia; bahkan kadang-kadang ada pengakuan terhadap Kuasa ilahi yang tertinggi atau pun Bapa. Kesadaran dan pengakuan tadi meresapi kehidupan bangsa-bangsa itu dengan semangat religius yang mendalam. Ada-pun agama-agama, yang terikat pada perkembangan kebudayaan, berusaha menanggapi masalah-masalah tadi dengan faham-faham yang lebih rumit dan bahasa yang lebih terkembangkan (NA 2).

Dengan jelas Konsili membedakan antara pengalaman dan pemahaman serta perumusan. Perbedaan pengalaman, pemahaman dan perumusan menyebabkan perbedaan antara agama. Perjumpaan yang mendalam dengan saudara-saudari beriman lain, entah dari aliran kepercayaan atau pun saudara-saudari beragama lain akan memperkaya kehidupan beriman dan beragama kita. Dari saudara-saudari muslim kita bisa belajar perhatian mereka terhadap doa dan penyerahan total kepada Allah yang rahman dan rahim. Saudara-saudari Hindu meneguhkan kita agar mengusahakan kehidupan religius yang mendalam dan juga mengingatkan kita akan perjuangan tanpa kekerasan sebagai pesan Injil, Saudara-saudari Budha mengajari kita sikap lepas bebas tanpa pamrih seraya menghormati segala macam bentuk kehidupan yang ada di dunia ini. Praktik kepercayaan mendorong untuk selalu mencari apa yang terpenting dalam kehidupan kita, yakni kesatuan dengan Allah. Banyak praktik religius rakyat juga mengundang kita kepada rasa hormat terhadap misteri kehidupan yang dialami melalui macam-macam hal dan peristiwa kehidupan. Iman kita akan Kristus seharusnya membuat kita semakin terbuka untuk menemukan semangat Kristus di mana pun Ia tampil. Kita mengingat pesan Konsili Vatikan II agar

” … dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup Kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya” (NA 2).