Pewartaan Para Rasul sebagai Daya yang Membangun Gereja

Dasar eksistensi Gereja adalah Yesus Kristus sebagai Sabda Allah yang menyelamatkan. Tetapi secara empiris-historis Gereja dibangun oleh para rasul dalam kuasa Roh Kudus. Mereka mendirikan Gereja menurut kehendak Allah berdasarkan peristiwa penyelamatan dalam diri Yesus Kristus. Karena itu mereka juga disebut dasar Gereja. Sabda yang disampaikan kepada mereka supaya diteruskan dalam pewartaan ialah bagian asasi karya pendirian Gereja.

Memang dalam arti tertentu Gereja sebagai hasil karya penyelamatan Kristus telah ada sebelum para rasul. Bahkan mereka sendiri adalah Gereja. Tetapi mereka mempunyai peranan fundamental dalam proses pengembangan Gereja yang pada intinya sudah ada sebelumnya. Hubungan mereka dengan Yesus Kristus dan dengan Gereja menyebabkan pewartaan/sabda para rasul menjadi sangat fundamental bagi pembangunan Gereja. Yesus Kristus itu sabda sejati. Gereja merupakan gema sabda itu dalam rupa-rupa bentuk. Salah satu bentuk yang paling fundamental dari antaranya adalah sabda rasul yang mengembangkan dan membangun Gereja. Bentuk historis Kristus-Sabda sebagai dasar Gereja adalah sabda rasul-rasul. Bahkan kita mengenal Kristus, Sang Sabda, hanya melalui kesaksian – kesaksian mereka.

Sabda para rasul itu bukan sekedar memberi keterangan, melainkan berdaya guna karena Kristus sendiri hadir dan bekerja di dalamnya. Sabda itu merupakan sabda Allah dalam sabda manusia dan tetap melaksanakan apa yang diungkapkan. Hal ini dimungkinkan, karena sama seperti seorang nabi, seorang rasul pun hidup dalam suatu panggilan khusus dan diberi kuasa khusus mewartakan Sabda Allah secara berwenang. Berdasarkan panggilan khusus ini, Roh Kudus menjamin kebenaran dan daya guna pewartaan rasul-rasul. Dengan demikian, menjadi pewarta resmi tidak berarti bisa menguasai Sabda melainkan menempatkan Sabda sebagai tuan atasnya. Sabda tetap berkuasa atas pewarta, dan pewarta tidak bisa lebih daripada menjadi pelayan Sabda. Bahkan seluruh eksistensinya dituntut oleh tugas pewartaan.

Sebagai dasar Gereja, sabda rasul-rasul membawa suatu konsekuensi lain lagi. Sabda rasul harus dipertahankan Gereja sebagai norma dan sumber hidup. Hal ini hendaknya dilihat dalam kerangka perkembangan jabatan gerejawi di dalam fungsinya mempertahankan ajaran yang benar. Soal ini muncul karena de facto, pewartaan Gereja sesudah rasul-rasul bercorak lain dari pewartaan para rasul. Pewartaan otoritatif dari kesaksian para rasul ditafsirkan dan disaksikan kembali oleh Gereja sekarang, tetapi daya guna Sabda Allah dalam pewartaan Gereja tidak kurang daripada dalam pewartaan para rasul. Daya guna itu dijamin oleh Roh Kudus yang hidup di dalam Gereja dan yang tetap sama.