Perkawinan: Hubungan Personal dan Tanggung Jawab Personal

Kini pandangan mengenai perkawinan pun mengalami banyak perubahan, juga dalam lingkungan kebudayaan kita. Manusia dewasa ini menghayati perkawinan sebagai hubungan personal yang melebihi urusan keluarga semata-mata. Dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, Konsili Vatikan menekankan bahwa perkawinan bersifat personal. Konsili melihat perkawinan sebagai “persekutuan hidup dan kasih suami-istri yang mesra, yang diadakan oleh Sang Pencipta dan dikukuhkan dengan hukum-hukum-Nya, dibangun oleh janji pernikahan atau persetujuan pribadi yang tak dapat ditarik kembali” (GS 48). Konsili menekankan bahwa perkawinan bersifat pribadi dan berarti “saling menyerahkan diri dan saling menerima antara suami dan istri”. Sifat sosial perkawinan berarti mewujudkan “suatu lembaga yang mendapat keteguhannya … juga bagi masyarakat”. Perkawinan juga bersifat tetap, sesuai dengan kehendak Pencipta, dan terus-menerus berkembang, karena “pria dan wanita, yang karena janji perkawinan ‘bukan lagi dua, melainkan satu daging’ (Mat 19:6), saling membantu dan melayani berdasarkan ikatan mesra antar pribadi dan kerja sama; mereka mengalami dan dari hari ke hari makin memperdalam rasa kesatuan mereka” (GS 48).

Ciri-ciri perkawinan macam ini amat luhur, tetapi juga dapat menimbulkan banyak pertanyaan. Pertama-tama, dengan tekanan baru ini orang mengalami ketegangan antara sifat perkawinan yang personal dan intim di satu pihak dan kepentingan masyarakat di pihak lain. Makin ditekankan hubungan pribadi antar-suami-istri, makin kurang disadari bahwa perkawinan merupakan suatu relasi sosial antara pria dan wanita yang mantap dan lestari karena dibentuk dalam kerangka tata hukum. Juga makin kurang dirasakan manfaat dari peneguhan sosial dan pengarahan masyarakat untuk perkawinan.

Dalam masyarakat tradisional yang masih ada di pelbagai pelosok tanah air kita, keluargalah yang menikahkan anak-anak. Dalam masyarakat industri, yang makin meluas ke desa-desa juga, laki-laki dan perempuan sendiri nikah karena saling cinta. Pada pokoknya perkawinan adalah “hubungan suami- istri”, yang berdiri sendiri di tengah-tengah kehidupan sosial. Istri dan suami makin (harus) memainkan peranan mereka masing-masing secara mandiri, dalam keluarga sama seperti juga dalam dunia kerja dan di lingkungan sosial-politik. Mereka bersama (harus) memikul tanggung jawab atas kelahiran dan pendidikan anak. Dalam masyarakat kita yang majemuk terdapat pandangan hidup yang beraneka-ragam. Maka dalam perkawinan makin dibutuhkan kesatuan keyakinan dalam mengambil sikap. Juga makin banyak orang dari agama yang berlain-lainan hidup berdampingan. Sering kurang disadari betapa menguntungkan, kalau agama yang sama mendukung kesatuan dalam perkawinan. Perkawinan sebagai usaha kesatuan untuk seumur hidup oleh banyak orang dirasakan sebagai suatu risiko, sebab belum tentu bahwa usaha untuk membangun kesatuan hati dan hidup akhirnya berhasil.