Perjalanan Hidup Gereja

Gereja bukanlah “kerangka” karya Roh Kudus, melainkan boleh disebut “hasil” karya Roh itu, yang hanya dapat dimengerti dalam kerangka dan proses karya keselamatan Allah. Sejarah Gereja sudah mulai dengan Perjanjian Lama, ketika Tuhan mengumpulkan umat Israel dan membuatnya menjadi bangsa-Nya yang terpilih. Langkah yang lebih jelas ke arah pembentukan Gereja adalah kedatangan Yesus dan penampilan-Nya di tengah-tengah bangsa Israel.

Banyak orang menerima pewartaan-Nya dan menjadi pengikut-Nya. Banyak pula menolak-Nya mentah-mentah. Kendati demikian, terbentuklah suatu kelompok khusus di sekitar Yesus. Inti kelompok itu mereka yang di kemudian hari “menjadi saksi-Nya bagi umat itu” (Kis 13:32), yaitu kelompok para rasul. Secara khusus mereka dididik dan digembleng oleh Yesus, dan Petrus diangkat menjadi pemimpin mereka (Mat 16:18; Luk 22:32; Yoh 21:15-17). Itu tidak berarti bahwa Petrus dan para rasul mengambil alih tugas dan perutusan Yesus.

Dengan jelas Yesus berjanji, “Aku akan datang kembali” (Yoh 14:3.28). Dan “sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus, maka Ia mengutus Roh itu” ke dalam Gereja (Kis 2:33), sebagai tanda kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka. Maka bukan hanya hubungan historis yang mengikat Gereja kepada Yesus, melainkan terutama kehadiran Tuhan yang mulia yang membuatnya bersatu-padu dengan Kristus, sehingga Paulus menyebut Gereja “tubuh Kristus” (Rm 12:5; 1Kor 12:13.27; Ef 1:23; 4:12). Gereja itu berkembang dalam peredaran zaman. Banyak dosa melekat padanya, tetapi dalam kelemahan dan perjuangan itu Gereja tetap ditopang oleh Roh Kudus yang telah diberikan kepadanya. Roh itu pula yang membantu secara khusus mereka yang diberi tugas mempersatukan umat. Seluruh kehidupan Gereja, pewartaan, perayaan dan pelayanannya, digerakkan dan didorong oleh Roh yang sama. Struktur-struktur organisasi Gereja tidak menjamin kegiatan dan kelestariannya, tetapi di dalam struktur-struktur itu karya Allah terwujudkan dan dilaksanakan, biarpun dalam bentuk yang sangat kurang sempurna. Itulah yang dimaksudkan dengan kepercayaan akan Gereja, yaitu keyakinan bahwa Allah berkarya dalam kekurangan dan keterbatasan kegiatan sekelompok manusia, yang terbentuk dalam sejarah Allah dengan manusia, khususnya sejak Yesus Kristus hidup dan berkarya.

Namun karya Allah tidak terbatas pada Gereja, dan Kerajaan Allah tidak sama dengan Gereja. Kerajaan Allah dimaksudkan untuk seluruh dunia, khususnya untuk manusia yang melarat dan miskin, dan Gereja dipanggil untuk menjadi pewartanya. Di dalam Gereja panggilan Allah disuarakan lagi. Persekutuan umat merupakan awal dan dasar kesatuan seluruh umat manusia. Tujuan dan sasaran karya keselamatan Allah bukan Gereja melainkan dunia. Gereja hanyalah “tanda dan sarana” (LG 1). Semua itu bersama-sama ditambah dengan banyak unsur lain, membentuk yang disebut misteri Gereja. Kepercayaan akan Gereja adalah iman akan misteri itu, yang sekaligus tersembunyi dan tampak dalam tanda.