Peristiwa-peristiwa yang menyatakan Keistimewaan Yesus

Menurut kesaksian Injil penampilan Yesus mengejutkan. “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mukjizat-mukjizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?” (Mrk 6:2-3). Orang merasa heran akan ajaran Yesus dan juga akan perbuatan-Nya.

a. Yesus Pembawa Berita Gembira
b. Penyerahan kepada Bapa
c. Menyapa Allah: Abba
d. Kebangkitan
e. Menyebut Diri-Nya Utusan Allah
f. Disebut Anak Allah yang Mahatinggi
g. Hubungan Yesus dengan Allah

A. Yesus Pembawa Berita Gembira

“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil (= Kabar gembira)” (Mrk 1:15).

Sebelum ada Injil mengenai Yesus, telah diwartakan Injil oleh Yesus, yakni kabar gembira mengenai Kerajaan Allah yang akan datang dengan segera. Yesus tidak hanya mengatakan hal itu, Ia juga mulai melaksanakannya: “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Mat 12:28).

Mukjizat Yesus adalah pewartaan nyata bahwa Kerajaan Allah telah datang. Dalam arti sesungguhnya mukjizat bukanlah “bukti” untuk mendukung pewartaan Yesus. Ketika kaum Farisi minta bukti yang nyata, Yesus malah menolak membuat mukjizat (lih. Mrk 8:11 dsj.), Yesus juga tidak pernah melakukan mukjizat demi diri-Nya sendiri (perhatikanlah ejekan musuh-musuh-Nya di bawah salib: Mat 27:42-23 dsj. Dan juga jawaban Yesus kepada setan di padang gurun: Mat 4:1-11 dsj.). Mukjizat itu tanda Kerajaan Allah, bukan bukti yang harus mendasari wibawa Yesus. Kerajaan Allah berarti turun-tangan Allah, tidak untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan. Maka dalam mukjizat Yesus, khususnya dalam mukjizat penyembuhan, kasih dan perhatian Allah itu ternyatakan.

Oleh karena itu dalam Injil, mukjizat amat kerap dihubungkan dengan iman. Sering kali Yesus bersabda, “Imanmu telah menyelamatkan engkau” (lih. Mrk 5:34 dsj.; 10:52 dsj.; Mat 9:29; Luk 17:19). Ini tidak berarti bahwa iman adalah syarat untuk mukjizat, sebab Yesus mengatakan itu sesudah menyembuhkan orang. Dari pihak lain, kalau tidak ada iman, “Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun” (Mrk 6:5 dsj.).

Dalam iman, orang mempersatukan diri dengan Yesus dan itu berarti bahwa Kerajaan Allah mulai berkuasa di dalam dirinya. Maka yang penting di sini adalah iman Yesus sendiri, sebagaimana tampak dari Mrk 9:22-23: Atas pertanyaan orang adakah Yesus “dapat berbuat sesuatu”, Yesus menjawab bahwa “tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” dan yang dimaksud adalah diri-Nya sendiri (lih. juga Ibr 12:2). Oleh karena itu Ia senantiasa mendorong orang supaya percaya, “Jangan takut, percaya saja!” (Mrk 5:36 dsj.). Yesus berkeliling untuk memberikan iman kepada orang. Iman tersebut berkaitan dengan pengharapan dan berlawanan dengan fatalisme (nasib). Iman yang berarti kekuatan, karena percaya akan kebaikan Allah.

Yesus bersikap optimis dan menafsirkan tanda-tanda zaman (yang serba menakutkan pada waktu itu, lih. Luk 3:7-9 dsj) sebagai tanda kedatangan Kerajaan Allah (lih. Mat 11:4-5). Yesus percaya akan kedatangan Kerajaan Allah, Ia percaya akan Allah yang datang untuk menyelamatkan. Allah yang diimani Yesus ialah Bapa yang mempunyai “bela rasa” (lih. Luk 15:11-20). Maka Yesus dapat memastikan bahwa Kerajaan Allah akan datang, bahwa manusia akan percaya terhadap kebaikan Allah, dan dengan demikian kebaikan akan menang atas kejahatan. Sebagai ganti kehancuran, Kerajaan Allah akan datang. Allah akan menampakkan kebaikan-Nya, kalau manusia mau menerima-Nya.

Yesus mengajak orang supaya percaya akan kebaikan Allah, untuk beriman dan berbela rasa. “Segala sesuatu mungkin bagi Allah” kata Yesus (Mrk 10:27). Karena itu juga “segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya” (Mrk 9:23). Yesus mau menularkan iman-Nya yang percaya akan daya kekuatan Kerajaan Allah, dan sekaligus mengajak orang meneladan Allah dalam bela rasa-Nya: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati” (Luk 6:36).

Yesus mencita-citakan masyarakat yang tidak berdasarkan kuasa. Ia mengharapkan supaya Kerajaan Allah bisa menjadi daya kekuatan Allah dalam hidup sosial, melalui iman dan bela rasa, khususnya dengan menghapuskan penindasan terhadap orang kecil (baik oleh orang asing maupun oleh para penguasa bangsa Yahudi sendiri). Dua kali Yesus menolak menerima kuasa politik (Yoh 6:15 dan Mrk 8:32 dsj.). Ia berpegang pada prinsip bahwa dunia baru harus datang dengan iman dan bela rasa. Untuk itu Ia memberi kesaksian sampai mati. Ia tidak hanya menolak kuasa politik, tetapi sama sekali tidak pernah mau memakai atau menuntut wewenang atas dasar kekuatan manapun. Ia mau menjadi senasib dengan orang kebanyakan, dan oleh karena itu Ia selalu tampil sebagai manusia biasa saja.

Wibawa Yesus tidak tergantung pada gelar atau kedudukan tertentu, melainkan pada pribadi-Nya, pada cara Ia bertindak dan berbicara. Yesus itu orang yang bebas-berani. Ia tidak tergantung pada siapa pun dan tidak mau menyesuaikan diri begitu saja. Ia juga tidak mau menerima gelar kehormatan. Ia hanya menuntut bahwa orang taat kepada kebenaran Allah, sama seperti Dia sendiri taat kepada sabda dan perintah Bapa. Oleh karena itu Yesus tidak pernah membela diri, tetapi selalu mengkonfrontasikan orang dengan kebenaran yang dibawa oleh-Nya.

B. Penyerahan kepada Bapa

Yesus, yang sampai wafat-Nya memperjuangkan iman dan bela rasa, akhirnya dihukum mati sebagai seorang yang mau merebut kuasa. Ia datang membawa inspirasi baru bagi orang yang dikhianati oleh para pemimpin agama. Oleh karena itu, mau tidak mau, Ia menimbulkan permusuhan dan rasa benci di antara mereka. Mereka membalas dendam dengan cara yang keji, menjatuhinya hukuman mati menurut hukum Romawi, digantung pada kayu salib. Dasar kematian-Nya adalah konflik antara Kerajaan Allah yang dibawa-Nya dan agama Yahudi yang telah membeku, yang di dalamnya bukan lagi Allah yang menjadi pusat kehidupan, melainkan Taurat dan adat kebiasaan. Justru karena hubungan pribadi-Nya dengan Allah, Yesus berada dalam pertentangan dengan sistem keagamaan. Tetapi Ia “taat sampai mati, bahkan sampai mati di salib” (Flp 2:8).

Tidak diketahui dengan tepat apa kata-kata-Nya yang terakhir sebelum wafat. Dalam Injil Matius dan Markus ditulis, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46; Mrk 15:34). Tetapi dalam Luk 23:46 terbaca, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Pada Yohanes (19:30) malah “Selesailah sudah!”. Kata-kata dalam Injil Matius dan Markus adalah kutipan Mzm 22 (ay. 2), yang melatarbelakangi seluruh kisah sengsara. Mazmur itu mazmur pengharapan, yang berisi ajakan dari orang yang menderita kepada orang lain supaya tetap percaya pada Allah:

“Kamu yang takut akan Tuhan, pujilah Dia;
Hai segenap anak-cucu Yakub, muliakanlah Dia,
dan gemetarlah terhadap Dia, hai segenap anak-cucu Israel.
Sebab Ia tidak memandang hina atau merasa jijik kesengsaraan orang yang
tertindas,
dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu,
dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya”
(ay. 24-25).

Di salib pun Yesus tetap mempertahankan kesatuan-Nya dengan Allah dan taat kepada tugas yang diberikan kepada-Nya sampai selesai. Dalam saat yang mencekam itu Ia memperlihatkan pokok kehidupan-Nya, yaitu penyerahan total kepada Allah.

C. Menyapa Allah “Abba”

Hubungan istimewa Yesus dengan Allah terungkap antara lain dengan sebutan “Abba”, yang berarti Bapa tercinta. Kata itu memang menyatakan suatu hubungan istimewa. Dalam Kitab Suci (Mrk 14:36; Gal 4:6; Rm 8:15) kata itu dinyatakan dalam bentuk bahasa Aram, bahasa ibu Yesus (dan tidak diterjemahkan dalam bahasa Yunani, bahasa Perjanjian Baru). Hal itu memperlihatkan, betapa Yesus akrab dengan bahasa doa itu. Kata itu mempunyai arti khusus bagi jemaat perdana, karena dilihat sebagai kata yang khusus bagi Yesus. Di dalamnya terungkap suatu relasi kekeluargaan. Hubungan istimewa itu tampak juga dalam kata-kata yang lain (mis. Mat 11:25- 30 dsj.). Seluruh penampilan Yesus memperlihatkan relasi khusus itu.

Yesus bukan ahli Taurat dan juga bukan orang Farisi, melainkan Ia tampil sebagai orang yang bijaksana, yang berhikmah. Oleh karena itu, ajaran-Nya selalu berbobot dan amat mendalam (lih. Mat 5:39.42; 6:2.17-18; Mrk 9:49-50; Luk 16:8-12.15). Lebih daripada itu, Yesus tampil sebagai orang suci yang hidup bersatu dengan Allah, yang disebut Bapa-Nya. Doa “Bapa kami” merupakan rangkuman hubungan-Nya dengan Allah. Nasihat yang diberi-Nya kepada orang lain merupakan kenyataan hidup bagi diri-Nya sendiri: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Luk 11:9).

Kepercayaan kepada Allah tidak dapat dipatahkan, juga tidak oleh penderitaan di salib. Secara resmi Yesus bukan seorang “guru di Israel” (Yoh 3:10). Namun begitu, “banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya; juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya” (Mrk 3:7-8). Mereka tertarik, karena “belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu” (Yoh 7:46). Ia diakui sebagai “seorang nabi besar” (Luk 7:16).

Yesus sungguh tampil sebagai seorang nabi (lih. Mrk 6:15 dsj.; 8:27 dsj.; Mat 21:11.46; Luk 7:16.39; 24:19; juga Yoh 4:19; 6:14; 7:40.52; 9:7). Tetapi perbandingan dengan Salomo dan Yunus memperlihatkan bahwa Ia lebih daripada seorang nabi (Luk 11:31-32 dsj.; bdk. Luk 10:23-24 dsj.). Dalam seluruh penampilan dan kepribadian-Nya Yesus memperlihatkan dengan jelas ciri-ciri seorang nabi, dan karena pewartaan-Nya mengenai Kerajaan Allah yang akan datang dengan segera, ia diakui sebagai “nabi yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 6:14; bdk. Ul 18:15-18). Yesus tidak hanya meramalkan kedatangan Kerajaan Allah. Ia juga menegaskan bahwa Kerajaan Allah dalam karya dan pewartaan-Nya sudah datang. Dengan kata lain, dalam diri Yesus sendiri Kerajaan itu telah datang dan menampakkan diri. Di situ juga kelihatan hubungan khusus Yesus dengan Allah.

Dalam rangka pewartaan Kerajaan Allah, Yesus itu “wakil” Allah. Yesus tampil sebagai pengantara antara Allah dan manusia. Ia terlibat secara pribadi dalam kedatangan Allah di dunia, khususnya kepada manusia malang dan miskin. Justru karena itu “pembagian iman” Yesus dengan rakyat jelata menjadi suatu gerakan massal (lih. Mrk 11:18). Keterlibatan-Nya dalam karya Allah itu sekaligus mengkonfrontasikan Dia dengan mereka yang tidak mau menerima kedatangan Allah yang tidak disangka-sangka. Konfrontasi ini berakhir dengan wafat Yesus di kayu salib. Tetapi itu pun bukan yang terakhir. “Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati” (Rm 10:9).

D. Kebangkitan

Arti kebangkitan bagi para rasul menjadi jelas dari amanat Petrus kepada orang Yahudi pada hari Pentekosta.

“Seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36)

Kebangkitan tidak hanya berarti bahwa “Allah melepaskan Dia dari sengsara maut” (Kis 2:24). Dengan kebangkitan “Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama” (Flp 2:9). Nama itu gelar kehormatan dan mengungkapkan kebesaran dan keluhuran Yesus yang mulia.

Sebaiknya gelar itu (dalam bahasa Yunani Kyrios) diterjemahkan dengan “Tuan yang mulia” (serupa dengan “Yang dipertuan-agung”). Sesungguhnya tidak ada arti ilahi pada gelar itu. Dalam Septuaginta (terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) kata Kyrios dipakai sebagai ganti nama YaHWeh. Tetapi itu baru ditemukan dalam naskah yang lebih kemudian. Maka praktik menyebut Yesus Kyrios barangkali mendahului pemakaian gelar itu dalam Septuaginta (walaupun di kalangan Yahudi sudah lama ada kebiasaan mengucapkan “Tu(h)an”, di mana sebetulnya dibaca YaHWeh).

Gelar kyrios adalah khas Yunani. Di samping itu juga dipakai gelar yang lain untuk Yesus, yang berasal dari kalangan Yahudi, yaitu khristos. Gelar itu juga bahasa Yunani, tetapi menerjemahkan sebuah gelar Yahudi, yaitu MaSYiaKH (Ibrani) atau MeSYiHa (Aram). Secara harfiah kata itu berarti “(yang) diurapi”, dan dipakai sebagai gelar untuk raja dan imam, sebab di kalangan Yahudi orang dilantik sebagai imam atau raja dengan upacara pengurapan (misalnya Daud, 1Sam 16:13). Tetapi pada zaman Yesus sudah tidak ada raja (bangsa Yahudi dijajah oleh orang Roma, dan Herodes bukan raja Yahudi yang sah). Namun mereka tetap mengharapkan seorang raja, bahkan raja yang ideal. Sebab kepada Daud Tuhan telah menjanjikan, bahwa kerajaannya tidak akan berakhir (bdk. 2Sam 7:11- 16; 1Raj 2:3-4).

Dengan demikian, sejak zaman para nabi, bangsa Yahudi berpegang teguh pada harapan akan seorang raja yang ideal. Maka pada zaman Yesus gelar MaSYiaKH, atau seperti lazim dikatakan Mesias (ataupun dengan rumusan Arab, al-Masih), menjadi gelar untuk raja ideal yang dinanti-nantikan. Ternyata sesudah kebangkitan gelar itu dikenakan pada Yesus. Mengapa?

Tidak ada keterangan yang jelas dalam Kitab Suci sendiri. Perlu diperhatikan bahwa biasanya gelar “Kristus” dihubungkan tidak hanya dengan kebangkitan, tetapi juga dengan wafat Yesus (lihmis. 1Kor 15:3-5). Menurut Mrk 15:28, “alasan mengapa Ia dihukum, disebutkan pada sebuah tulisan yang terpasang di salib: Raja orang Yahudi”.

Pilatus, sebagai orang asing, memakai kata “Raja” dan “orang Yahudi”, Tetapi dalam ay. 32 berbicaralah orang Yahudi asli, dan berkata “Kristus, Raja Israel”. Maka kiranya pemakaian kata “Kristus” berasal dari tulisan yang dipasang di atas salib. Menurut Mrk 8:29 dsj. Petrus sebetulnya sudah mengakui Yesus sebagai Kristus di Kaisarea Filipi. Tetapi tidak mustahil bahwa Markus, di kemudian hari, mempergunakan gelar Kristus (yang sebetulnya baru dipakai sejak kebangkitan) untuk merumuskan dengan jelas pengakuan iman Petrus.

Pilatus memakai gelar “Raja” barangkali sebagai ejekan untuk seorang “pemberontak”. Sesudah kebangkitan Yesus para murid-Nya mengubah gelar ejekan ini menjadi nama kehormatan, yang mengandung arti keselamatan juga.

Untuk raja Israel tidak hanya dipakai gelar “MaSYiaKH” (Yunani: khristos), melainkan juga kata “Anak Allah”, sebagaimana tampak dalam Yoh 1:49; Luk 4:41; Kis 9:20-22:

Yoh 1:49: Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel.
Luk 4:41 Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak:
“Engkau adalah Anak Allah”.
Lalu Ia menghardik mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.
Kis 9:20 Ia [Paulus] memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.
Saulus … membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias.

Memang orang Yahudi sudah menyebut raja mereka “anak Allah” (lihmis. 2Sam 7:14; Mzm 2:7; 89:28). Pada zaman Yesus sebutan itu sebetulnya sudah tidak lazim, tetapi dari Kis 13:32-33 kelihatan bagaimana murid-murid Yesus memakai Mzm 2 untuk mengungkapkan kemuliaan Yesus yang telah dibangkitkan.

Kiranya sebutan “Anak Allah” dalam Luk 1:32.35 juga masih mempunyai arti mesianis dan dihubungkan dengan janji-janji kepada Daud. Sama halnya dengan kisah penggodaan Yesus (Mat 4:1-11), yang juga berhubungan langsung dengan kisah pembaptisan, ketika Ia “dilantik” sebagai utusan Allah. Tidak hanya pada penggodaan, juga pada banyak kesempatan lain setan menyapa Yesus dengan sebutan itu (lih. Mrk 3:11 dsj.; 5:7). Pertanyaan imam agung pada waktu pengadilan juga menyangkut kedudukan Yesus sebagai Mesias (lih. Mat 26:63; Mrk 14:61; Luk 22:70), dan ejekan di bawah salib (yang menyalahgunakan Mzm 22) mempunyai latar belakang yang sama.

Dari pengakuan kepala pasukan di bahwa salib (Mrk 15:39 dsj.) kelihatan bahwa bagi Gereja perdana “Anak Allah” tidak tepat sama dengan gelar “Kristus”. Hal itu lebih jelas lagi dari Rm 1:3-4:

“tentang Anak-Nya, yang
menurut daging diperanakan dari keturunan Daud, dan
menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.”

Dari teks di atas tampak bahwa “keturunan Daud” sebagai keadaan “menurut daging” dilawankan dengan “Anak Allah” sebagai hidup “menurut Roh kekudusan”. Kiranya perlu diingat bahwa dalam surat-surat Paulus, Yesus disebut “Anak Allah” kalau Dia dilihat dari sudut Allah. Kata “Anak Allah” bukan hanya gelar, tetapi mengungkapkan hubungan pribadi Allah dengan Yesus, sesuai dengan pembicaraan Yesus sendiri mengenai Allah sebagai Bapa-Nya.

E. Menyebut Diri-Nya Utusan Allah

Untuk memahami arti sebutan ini dengan sepenuhnya, kiranya perlu diperhatikan juga Rm 8:3; Gal 4:4; Yoh 3:16-17 dan 1Yoh 4:9 (bdk. Mrk 12:6), yang mengatakan bahwa “Allah mengutus Anak-Nya“. Mengakui Yesus sebagai “Anak Allah” berarti mengakui Dia sebagai utusan Allah dalam arti yang penuh. Khususnya St. Yohanes banyak berbicara mengenai Yesus sebagai utusan Allah. Tidak hanya dikatakan bahwa “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia” (3:17), tetapi Allah sendiri disebut “Dia yang mengutus Aku” (4:34) dan Yesus “Dia yang diutus-Nya” (5:38). Maka cocok sekali pada akhir hidup-Nya Yesus berdoa, “supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang mengutus Aku” (17:21; lih. juga ay. 8.23.25). Dan kalau Yohanes biasanya menyebut Yesus “Anak”, kiranya ia mau menonjolkan hubungan pribadi Yesus dengan Allah yang mengutus-Nya. Secara konkret perutusan Yesus digambarkan dengan jelas dalam Luk 4:18-19 (yang mengutip nabi Yesaya):

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia mengurapi Aku,
untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin;
Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan
pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan
penglihatan bagi orang-orang buta,
untuk membebaskan orang yang tertindas,
untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Yesus tampil sebagai pembawa kabar gembira, bahwa Tuhan telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya. Yesus merupakan tawaran rahmat Allah yang definitif. “Berbahagialah orang yang tidak dikecewakan dalam diri-Ku” (Luk 7:23 dsj.). Yesus berkeliling untuk memberi harapan dan iman kepercayaan kepada orang-orang. Iman itu mengangkat orang di atas kekuatannya sendiri, karena mempersatukannya dengan Allah.

Yang paling mengesankan adalah kebebasan-Nya, Yesus tidak tergantung pada siapa pun. Para rabi pada zaman Yesus selalu mencari dukungan bagi ajaran mereka pada ajaran orang lain dari zaman dahulu. Yesus tidak. Malah sebaliknya, “Kamu telah mendengar apa yang difirmankan kepada nenek-moyang kita …, tetapi Aku berkata kepadamu” (Mat 5:21.27.31.33.38.43). Yesus tidak hanya berani melawan ajaran turun-temurun, tetapi juga apa yang diimani sebagai ketetapan Allah sendiri. Terhadap tradisi manusiawi Ia lebih tegas lagi: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat-istiadatmu sendiri” (Mrk 7:9).

Pegangan hidup Yesus bukanlah adat-istiadat atau ajaran tradisional agama, melainkan kesatuan pribadi-Nya dengan Allah. Hal itu secara paling tegas dirumuskan di dalam injil Yohanes, “Kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat. Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga” (Yoh 3:13). Maka, ketika diminta pertanggungjawaban oleh orang Yahudi tentang perbuatan-Nya di dalam kenisah, dengan tenang saja Yesus menjawab: “Aku tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu” (Mrk 11:33).

Yesus tidak merasa wajib mempertanggungjawabkan hidup dan pekerjaan-Nya di hadapan manusia. Apa yang dikatakan kepada orang lain mengungkapkan sikap-Nya sendiri, “Jangan takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi” (Luk 12:4). Yesus hidup dalam dunia lain, bukan dalam dunia yang dikuasai oleh manusia. Maka kalau ada orang yang mendorong Dia melarikan diri dari Herodes, Yesus menjawab: “Pergilah dan katakanlah kepada serigala itu: ‘Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku'” (Luk 13:32-33). Perjalanan Yesus tidak ditentukan oleh Herodes atau manusia yang lain, bahkan tidak oleh kehendak-Nya sendiri, “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 5:30).

Hidup Yesus ditentukan seluruh-Nya oleh kehendak Allah, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34). Begitulah gambaran yang oleh Injil-Injil diberikan mengenai Yesus. “Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah”, kata Yesus, “sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk 4:43). Yesus adalah utusan Allah, itulah dasar, pegangan dan pedoman hidup-Nya.

F. Disebut Anak Allah Yang Mahatinggi

Dalam Injil diceritakan bahwa orang “takjub mendengar pengajaran-Nya” dan menyaksikan perbuatan-Nya, sampai berkata: “Yang begini ini belum pernah kita lihat” (Mrk 1:22; 2:12). Bahkan sampai bertanya: “Apa ini? Suatu ajaran baru! Ia berkata-kata dengan kuasa, roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya”; “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 1:27; 4:41). Rasa kagum dan heran tidak sampai di situ saja. Pengalaman Paska lebih lagi memenuhi mereka dengan rasa takjub, mulai dengan para wanita yang “lari meninggalkan kubur, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka” (Mrk 16:8) sampai Paulus yang berjumpa dengan Tuhan yang mulia pada perjalanan ke Damsyik (Damaskus). Dari rasa heran serta kagum itu mereka menulis mengenai Yesus, yang diimani sebagai orang yang datang dari Allah.

Memang tidak semua orang percaya akan hal itu; orang Yahudi mendiskusikannya antara mereka. Ada yang berkata: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat”. Tetapi orang yang disembuhkan oleh Yesus itu menjawab, “Jikalau orang ini tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 9:16.33). Dan begitu terus, tidak pernah ada “bukti”. Hanya kalau orang melihat Yesus, pasti akan timbul pertanyaan: “Apa pendapatmu tentang Kristus?” (Mat 22:42). Jawabannya dirumuskan dengan berbeda-beda dalam Perjanjian Baru. Namun pokok jawaban selalu jelas, “Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia” (Kis 10:38).

Paulus merumuskan keyakinan itu sebagai berikut:
“Allah, dengan perantaraan Kristus, mendamaikan kita dengan diri-Nya; Ia mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus” (2Kol 5:18-19).

Kesatuan Kristus dengan Allah merupakan pokok dan inti iman Paulus akan Kristus. Guna mengungkapkan iman ini ia juga memakai kata “Anak Allah”. Dengan kata itu mau dinyatakan bahwa dalam diri Yesus, Allah mewahyukan diri secara konkret kepada Paulus, “Allah berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku” (Gal 1:16); “kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya” (Rm 5:10). Kesatuan antara Allah dan Kristus begitu erat bagi Paulus, sehingga ia dapat berkata bahwa “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus mati untuk kita” (Rm 5:8). Bagi Paulus, wafat Kristus merupakan tanda kasih Allah, dan kalau dikatakan bahwa “Allah memanggil kamu menjadi satu dengan Anak-Nya” (1Kor 1:9; bdk. Rm 8:29), jelaslah bahwa yang pokok bukan kesatuan Kristus dengan Allah, melainkan kesatuan Allah dengan kita dalam dan oleh Kristus.

Sejak pertemuan dengan Kristus pada perjalanan ke Damsyik Paulus hanya dapat “menantikan kedatangan Anak (Allah) dari surga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang” (1Tes 1:10). Yesus disebut “Anak Allah” karena menghubungkan kita dengan Allah, karena menjadi pengantara antara Allah dan manusia. Dengan nama “Anak Allah” dinyatakan bahwa Yesus yang mulia, yang bangkit dari antara orang mati, merupakan titik temu kita dengan Allah.

Yohanes merumuskan hal yang sama dengan cara yang lain. Dengan mudah perkembangan pikiran Yohanes dapat diikuti dalam pernyataan pada awal Injilnya.

“Pada mulanya ada Firman,
dan Firman itu pada Allah,
dan Allah-lah Firman itu;
Ia pada mulanya ada pada Allah.
Segala sesuatu terjadi oleh Dia,
dan tanpa Dia tidak terjadi apa-apa” (Yoh 1:1-2).

Yohanes berbicara mengenai Firman, mengenai Sabda, tetapi yang dimaksudkan adalah Yesus. Hal itu jelas dari awal suratnya yang pertama, di dalamnya ia mengatakan:

“Apa yang ada sejak semula, yang kami dengar,
yang kami lihat dengan mata kepala sendiri,
yang kami saksikan, dan
yang diraba tangan kami
tentang Firman kehidupan,
(itulah yang kami tuliskan kepadamu].
Apa yang kami lihat,
dan kami dengar,
kami beritakan kepada kamu juga,
supaya kamu pun memiliki persekutuan dengan kami.
Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa
dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus” (1Yoh 1:1.3).

Sabda, yang sejak semula bersama dengan Bapa, itulah Yesus. Mengenai pribadi Yesus, yang dilihat dan didengar itu, dikatakan bahwa Ia sudah ada “pada mulanya”, mendahului segala-galanya. Belum ada apa-apa, kecuali Allah sendiri. Maka dikatakan bahwa Sabda ada “pada Allah”, artinya bersama-sama dengan Allah. Kalau Sabda sudah sejak segala abad bersama dengan Allah, Ia sama abadi dengan Allah. Dengan perkataan lain, Allah-lah Firman itu. Tetapi itu tidak berarti bahwa Sang Sabda dan Allah sama saja. “Ia ada pada Allah” artinya sekaligus setingkat, sama-sama abadi, namun terbedakan juga, sebagai Bapa dan Anak. Dalam Injil Yohanes Yesus bersabda, “Bapa lebih besar daripada Aku” (Yoh 14:28).

“Aku datang dari Bapa
dan Aku datang ke dalam dunia;
Aku meninggalkan dunia lagi,
dan Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 16:28).

Hidup Yesus tidak lain daripada “datang dari Bapa dan pergi kepada Bapa”. Karena Ia datang dari Bapa, maka Ia terbedakan dari Bapa; tetapi karena pergi kepada Bapa, Ia juga tidak terpisah dari Bapa. Dilihat dari sudut dunia, semua itu sulit dimengerti: “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari surga?” (Yoh 6:42).

Kesulitan yang dirasakan oleh Yohanes sendiri, diletakkan dalam mulut orang Yahudi, “Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah” (Yoh 10:33). Yesus memang seorang manusia, tetapi bukan hanya manusia saja. Ia lebih daripada seorang manusia. Ia mengenal Allah lebih daripada semua orang lain. Kelebihan itu diungkapkan dalam kata-kata-Nya, bahwa Ia berasal dari Allah, bahwa Ia Anak Allah, bahwa Ia sudah ada sebelum segala abad (lih. Yoh 8:58).

Bertemu dengan Yesus berarti bertemu dengan Allah: “Barangsiapa melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9). Dalam diri Yesus, Allah mewahyukan diri: “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada pada pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18).

Yesus tidak hanya disebut “Anak”, juga “Firman”, “Cahaya” dan “Hidup”, sebab Ia adalah sabda Allah kepada manusia, cahaya abadi yang menerangi dunia dan kehidupan kekal bagi kaum beriman. Nama-nama itu tidak mengungkapkan “kodrat” Yesus, melainkan lebih menunjukkan fungsi-Nya, peranan-Nya bagi kita, manusia biasa. Dengan cara yang berbeda-beda nama-nama itu menyatakan bahwa “Dialah benar-benar Penyelamat dunia” (Yoh 4:42).

G. Hubungan Yesus dengan Allah

Bukan hanya Paulus (dalam 1Kor 8:6) yang membedakan antara Kristus Tuhan dan Allah Bapa. Yesus sendiri dalam Injil menyatakan perbedaan itu. Kepada seseorang yang menyebut-Nya “Guru yang baik” Yesus menjawab: “Tak seorang pun yang baik, selain Allah saja” (Mrk 10:18). Begitu juga kepada para Rasul Ia berkata, “Tentang hari (kiamat) itu, tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja” (Mrk 13:32). Maka sudah sewajarnya bahwa Gereja para Rasul pun dengan jelas membedakan antara Yesus dan Allah. Allah disebut “Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2Kor 1:3; Ef 1:3; 1Ptr 1:3). Itu berarti bahwa Ia “Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia” (Ef 1:17), sebab “Allah itu esa dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1Tim 2:5). Tetapi justru karena Dia pengantara, ia berhubungan dengan kedua-duanya sebab “seorang pengantara tidak mewakili satu pihak saja, sedangkan Allah adalah satu” (Gal 3:20).

Kristus mempertemukan keduanya dalam diri-Nya. Maka dalam doa pada perjamuan terakhir Ia juga berkata, “Inilah hidup yang kekal, mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar, dan [mengenal] Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh 17 :3). Gereja menghadap Allah “dengan perantaraan Yesus Kristus” (Rm 1:8; 5:1; 16:27; 2Kor 1:20; Ef 2:18; Ibr 7:25; 10:19-22; 13:15; 1Ptr 2:5; 4:11). Kristus membawa Allah kepada manusia dan membawa manusia kepada Allah. Di dalam Kristus manusia bertemu dengan Allah dan Allah bertemu dengan manusia. Allah adalah “Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani” (Ef 1:3). “Dalam Dia berdiam seluruh: kepenuhan keallahan secara badaniah” (Kol 2:9), tetapi supaya kita pun “dipenuhi di dalam Dia” (ay. 10; lih. Ef 3:19; 4:10; Flp 2:6-7).

Kristus bersatu dengan Allah dengan cara yang lain daripada semua manusia atau makhluk yang lain. Oleh karena itu kesatuan Kristus dengan Allah sebenarnya tak dapat dirumuskan atau dipahami oleh manusia. Yang dapat dinyatakan hanyalah perbedaannya. Manusia biasa, kalau masuk dalam dirinya sendiri, juga menemukan dirinya sendiri. Dari dirinya sendiri ia kemudian dapat mengarahkan hatinya kepada Allah.

Lain halnya dengan Yesus. Kalau Yesus masuk dalam diri-Nya sendiri, Ia langsung menemukan Allah dalam kesatuan dengan diri-Nya. Seluruh kepribadian-Nya ditentukan oleh kesatuan dengan Allah, Bapa-Nya. Pertemuan antara Allah dan manusia, yang berpangkal pada Allah, mengangkat manusia ke dalam kesatuan dengan Allah. Proses itu mulai dalam diri Yesus, yang merupakan pertemuan itu sendiri. Maka sebetulnya proses itu juga tidak mulai di dunia, tetapi mulai sebelum segala abad. Pertemuan Allah dengan manusia termasuk rencana keselamatan Allah yang abadi. Oleh karena itu Yohanes juga dapat berkata: “Pada mulanya adalah Firman” (Yoh 1:1).

Dari satu pihak Kristus sepenuh-penuhnya seorang manusia, yang bersatu-padu dengan seluruh umat keturunan Adam. Dari pihak lain, Ia juga merupakan jalan kepada Allah dan dari Allah. Ia juga dengan sepenuh-penuhnya bersatu-padu dengan Allah guna mempertemukan manusia dengan Allah. Allah ada di dalam diri-Nya, bukan untuk dimiliki sendiri melainkan untuk dipertemukan dengan semua orang. Ia adalah benar-benar Allah untuk manusia.