Penyerahan kepada Bapa

Yesus, yang sampai wafat-Nya memperjuangkan iman dan bela rasa, akhirnya dihukum mati sebagai seorang yang mau merebut kuasa. Ia datang membawa inspirasi baru bagi orang yang dikhianati oleh para pemimpin agama. Oleh karena itu, mau tidak mau, Ia menimbulkan permusuhan dan rasa benci di antara mereka. Mereka membalas dendam dengan cara yang keji, menjatuhinya hukuman mati menurut hukum Romawi, digantung pada kayu salib. Dasar kematian-Nya adalah konflik antara Kerajaan Allah yang dibawa-Nya dan agama Yahudi yang telah membeku, yang di dalamnya bukan lagi Allah yang menjadi pusat kehidupan, melainkan Taurat dan adat kebiasaan. Justru karena hubungan pribadi-Nya dengan Allah, Yesus berada dalam pertentangan dengan sistem keagamaan. Tetapi Ia “taat sampai mati, bahkan sampai mati di salib” (Flp 2:8).

Tidak diketahui dengan tepat apa kata-kata-Nya yang terakhir sebelum wafat. Dalam Injil Matius dan Markus ditulis, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46; Mrk 15:34). Tetapi dalam Luk 23:46 terbaca, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Pada Yohanes (19:30) malah “Selesailah sudah!”. Kata-kata dalam Injil Matius dan Markus adalah kutipan Mzm 22 (ay. 2), yang melatarbelakangi seluruh kisah sengsara. Mazmur itu mazmur pengharapan, yang berisi ajakan dari orang yang menderita kepada orang lain supaya tetap percaya pada Allah:

“Kamu yang takut akan Tuhan, pujilah Dia;
Hai segenap anak-cucu Yakub, muliakanlah Dia,
dan gemetarlah terhadap Dia, hai segenap anak-cucu Israel.
Sebab Ia tidak memandang hina atau merasa jijik kesengsaraan orang yang
tertindas,
dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu,
dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya”
(ay. 24-25).

Di salib pun Yesus tetap mempertahankan kesatuan-Nya dengan Allah dan taat kepada tugas yang diberikan kepada-Nya sampai selesai. Dalam saat yang mencekam itu Ia memperlihatkan pokok kehidupan-Nya, yaitu penyerahan total kepada Allah.