Pengetahuan akan Allah

Dalam masyarakat Pancasila semua orang mengetahui mengenai Allah. Akan tetapi, harus segera dikatakan bahwa pengetahuan mereka amat berbeda-beda, menurut agama yang berbeda-beda pula. Bahkan dalam agama yang sama, misalnya dalam agama Kristen, juga ada pandangan yang berbeda-beda. Sementara itu sulit diketahui, dari mana orang mendapat pengetahuannya akan Allah. Tentu hal itu terjadi karena pengaruh lingkungan, entah keluarga, entah sekolah, entah kampung atau desa. Pengalaman hidup dan perjumpaan dengan orang lain juga mempengaruhi pengetahuan tersebut. Namun yang paling menentukan adalah sikap hati.

Bahkan harus dikatakan bahwa Allah di kepala manusia sering tidak sama dengan Allah di hatinya. Pengetahuan akan Allah tidak sama dengan pengetahuan aljabar atau teknik. Pengetahuan akan Allah adalah pengalaman hidup, yang tidak terbatas pada satu saat saja, melainkan ditentukan oleh pengalaman hidup seluruhnya. Apa yang dialami dalam perkembangan hidup dan dalam pergaulan dengan orang lain, semua itu mempunyai pengaruh pada pengetahuan seseorang akan Allah. Kiranya perlu dibedakan juga taraf pengolahan masing-masing orang. Yang satu menerima begitu saja apa yang didengar atau dibacanya, yang lain mengolahnya dalam hati, sering dalam waktu yang lama. Tentu saja perbedaan dalam pengolahan juga berarti perbedaan dalam pengetahuan. Oleh karena itu, harus dikatakan bahwa setiap orang mempunyai pengetahuan sendiri, kendatipun semua memakai kata-kata yang sama bila mereka berbicara mengenai Allah.

Orang Kristen biasanya lebih banyak berbicara mengenai Yesus daripada mengenai Allah. Banyak dari mereka malah tidak membedakan antara Yesus dan Allah. Orang Kristen percaya akan Allah Tritunggal, tetapi Yesus-lah yang paling memainkan peranan dalam hidup mereka. Yesus diakui sebagai Allah dan itu dianggap sudah cukup. Tentu Bapa dan Roh Kudus diakui juga sebagai Allah, tetapi dalam hidup sehari-hari tidak terlalu muncul. Dan ternyata paham Allah yang mahakuasa, mahaadil, mahabijaksana, dan banyak “maha” lagi memang tidak sepenting Yesus yang memperlihatkan, dan mengajarkan, kasih Allah kepada manusia. Dalam diri Yesus menjadi kentara bahwa Allah yang sungguh mahakuasa dan mahaadil ternyata amat dekat dengan manusia dan penuh pengertian terhadap kelemahan dan kedosaan orang. Dalam diri Yesus, Allah tidak menakutkan, bahkan amat dekat pada setiap saat orang merasa diri kecil dan tak berdaya.

Yesus membawa paham dan gambaran Allah yang tidak teoretis, melainkan konkret. Begitulah gambaran umum tentang pengetahuan orang Kristen mengenai Allah. Bagaimana “kerangka” itu diisi, itu tergantung pada pengolahan setiap orang. Pengolahan itu terjadi baik dengan hati maupun dengan kepala. Manusia berkembang tidak hanya dalam pikiran-nya mengenai Allah, tetapi juga dalam penghayatan sikap-nya terhadap Allah. Kedua-duanya menentukan pengetahuannya mengenai Allah. Tidak ada pengetahuan mengenai Allah yang teoretis melulu. Tetapi orang juga tidak dapat mengetahui Allah hanya dengan hati atau dari pengalaman hidup saja. Juga bila pengetahuan itu berpangkal dari pengalaman hidup, pengetahuan itu masih membutuhkan refleksi atau pemikiran mengenai pengalaman itu.

Pengalaman religius, bila dikembangkan tersendiri secara ilmiah, disebut filsafat ketuhanan. Filsafat ini tidak mempunyai hubungan langsung dengan iman, tetapi juga tidak bertentangan dengan iman. Filsafat ketuhanan adalah refleksi ilmiah manusia, yang dikembangkan tanpa secara eksplisit menyebut iman atau perumusan iman. Refleksi itu dikembangkan dalam kerangka agama, tetapi dari dirinya sendiri sebetulnya tidak mempunyai hubungan langsung dengan agama. Refleksi ilmiah filosofis tidak merupakan syarat untuk iman, sama seperti teologi sebagai refleksi ilmiah mengenai iman bukanlah syarat untuk beriman. Namun dalam rangka pertanggungjawaban iman secara rasional, filsafat ketuhanan memainkan peranan yang amat penting.

Filsafat ketuhanan, yang sering juga disebut teologi kodrati (natural theology), tidak sama dengan usaha (ilmiah) untuk menjelaskan segala sesuatu yang oleh masyarakat dianggap “ilahi” atau luar biasa. Filsafat ketuhanan membicarakan manusia dan dunianya menurut dimensi dan tujuan transendennya. Oleh karena itu filsafat ketuhanan termasuk “metafisika” dan menurut sementara orang malahan merupakan puncak metafisika. Tetapi justru karena pengalaman religius merupakan unsur hakiki dari kehidupan manusia, yang bisa disebut “puncak” tetapi juga “dasar”, maka filsafat ketuhanan sebenarnya bukanlah sesuatu yang istimewa, melainkan merupakan bagian integral dari refleksi manusia atas kehidupannya secara menyeluruh. Apa yang tinggal kabur dan samar-samar dalam pengalaman religius mau dijelaskan dan dieksplisitkan – sedapat mungkin – dalam filsafat ketuhanan. Maka filsafat ketuhanan tidak berpangkal pada paham Allah dari agama (atau dari pengetahuan umum), tetapi pada pengalaman eksistensial manusia. Yang direfleksikan adalah tempat dan nilai paham Allah dalam kehidupan manusia, baik secara pribadi maupun sosial. Oleh karena itu filsafat ketuhanan tidak hanya bersifat spekulatif, tetapi juga praktis, khususnya berhubungan dengan akhlak dan agama. Filsafat ketuhanan ingin menjelaskan eksistensi manusia sendiri, tetapi secara’ khusus dalam relasi dengan pusat transendensinya yang disebut Allah. Metode yang dipakai tidak ditentukan oleh iman atau agama, tetapi oleh kenalaran manusia sendiri dalam refleksi filosofis dan metafisik.

Namun demikian, meskipun tidak tergantung pada agama atau pandangan umum, filsafat ketuhanan tidak dapat menciptakan bahasa dan peristilahannya sendiri. Filsafat ketuhanan bermaksud berbicara mengenai kehidupan manusia yang nyata, maka filsafat harus menerima kenyataan itu secara utuh, termasuk adat bahasanya. Bagaimana pun tuntutan ilmiahnya, filsafat ketuhanan berbicara mengenai apa yang dibicarakan semua orang lain, yakni mengenai manusia menurut aspirasi dan cita-citanya yang luhur dan suci. Dengan demikian filsafat ketuhanan, walaupun mempunyai kebebasan ilmiahnya sendiri, ditentukan juga oleh tempatnya ditengah-tengah masyarakat dan agama. Akan tetapi, karena tidak mau mengikatkan diri secara eksplisit pada rumus-rumus agama, maka dengan bahasa universalnya filsafat ketuhanan dapat menjadi sarana dalam dialog antaragama dan antar-umat beragama, Hendaknya dicermati, jangan sampai filsafat ketuhanan menggantikan argumen akal budi dengan kepercayaan.

Apa yang anda pikirkan?