Pengalaman Religius

Menurut ajaran Konsili Vatikan II beriman berarti “dengan bebas menyerahkan diri seluruhnya kepada Allah” (DV 5). Inti pokok iman terdapat dalam hubungan pribadi dengan Allah, bukan dalam pengetahuan mengenai Allah. Pengetahuan dan penyerahan terjadi bersama-sama, tetapi tidak berarti bahwa pengetahuan dan penyerahan sama saja. Dalam hal ini kita dapat membedakan pengalaman religius dan iman.

Kedua-duanya, baik iman maupun pengalaman religius, menyangkut hubungan manusia dengan Allah, tetapi arahnya berbeda. Pengalaman religius berpangkal pada manusia sendiri, sedangkan iman bertolak dari sabda Allah. Pengalaman religius mulai dengan kesadaran diri manusia sebagai makhluk, yang mengakui Allah sebagai dasar dan sumber hidupnya. Sebaliknya iman berarti jawaban atas panggilan Allah. Dalam pengalaman religius manusia dalam keterbatasannya sadar bahwa ia terbuka terhadap Yang Tak Terbatas.

Pengalaman religius pada hakikatnya berarti bahwa manusia mengakui hidupnya sendiri sebagai pemberian dari Allah. Dengan mengakui hidup sebagai pemberian, ia mengakui Allah sebagai “Pemberi Hidup”. Pengalaman ini terjadi dalam kehidupan manusia di tengah-tengah dunia. Dalam pengalaman ini manusia mengalami dirinya sebagai makhluk yang sangat terbatas, yang tidak berdaya, bahkan bukan apa-apa di hadapan Yang Ilahi, Allah, yang menyentuhnya. Allah itulah segala-galanya, dasar dan sumber hidupnya, seluruh keberadaannya. Dalam keterbatasannya manusia merasa ditarik dan terpesona oleh Yang Ilahi, Yang Tak Terbatas, bahkan merasa ada ikatan dengan Yang Tak Terbatas itu, entah dalam bentuk apa.

Memandang hidup sebagai pemberian merupakan penafsiran yang secara positif mengartikan hidup sebagai sesuatu yang pantas disyukuri, sebagai anugerah yang menggembirakan. Sikap positif terhadap hidup ini adalah suatu “pilihan”, suatu sikap yang diambil manusia dengan bebas. Manusia bebas, bebas menghargai hidup dan bebas menerimanya sebagai “nasib”. Pilihan bebas ini tentu amat dipengaruhi oleh pengalaman hidup sendiri. Pengalaman yang membahagiakan kiranya lebih mudah mendorong manusia ke arah sikap positif terhadap hidup. Sedangkan pengalaman kegagalan dan kekecewaan dapat membawa orang kepada keputusasaan dan pemberontakan terhadap hidup. Namun tidak jarang terjadi bahwa justru kesulitan dan perjuangan hidup membuat orang semakin sadar akan keterbatasannya dan mengarahkan hatinya kepada Dia yang diakui sebagai sumber hidup. Juga: dalam sengsara dan penderitaan manusia tetap bebas mengambil sikap positif terhadap hidup. Sikap ini mungkin lebih religius sifatnya daripada sikap yang lahir dari kegembiraan yang dangkal, sebab hanya kalau manusia dapat menerima hidup sebagai pemberian, secara implisit ia juga mengakui Sang Pemberi hidup.

Dengan berefleksi atas pengalamannya sendiri manusia harus mengakui bahwa ia memang mempunyai hidup, tetapi ia tidak berkuasa atas hidupnya sendiri. Sering kali manusia mengalami dengan pahit sekali bahwa ia tidak dapat melakukan apa yang ingin dilakukan, entah karena kelemahan fisik atau psikis, entah juga karena ketidakberdayaan moral (seperti yang diakui Paulus dalam Rm 7:15). Banyak situasi hidup membuat manusia sadar bahwa ia tidak berkuasa atas hidupnya sendiri.

Tetapi manusia tidak hanya “menemukan” hidupnya. Ia menerimanya sebagai hidupnya sendiri. Oleh karena itu ia juga mengembangkan dan mengarahkan hidup yang diterimanya. Manusia mengembangkan diri dan dunia sekitarnya. Dalam usaha itu ia mengikuti hati nurani atau suara hati. Hati nurani itu bukanlah perintah atau peraturan untuk pekerjaan manusia. Hati nurani adalah kesadaran akan kewajiban dalam mengembangkan hidup. Manusia sadar akan kewajibannya dan akan tuntutan hidup terhadap tindakannya yang konkret. Ia terikat pada arah hidupnya dan dalam tindakan yang konkret (secara implisit) ia mengakui arah hidupnya itu. Perbuatan yang bertanggung jawab berarti per buatan yang taat kepada tuntutan hidup. Pada dasarnya, hati nurani berarti ketaatan kepada hidup sendiri, maka refleksi atas hidup tidak hanya menyangkut persoalan “dari mana” asalnya, tetapi juga “ke mana” arahnya. Keduanya menunjuk kepada sesuatu yang mengatasi diri manusia sendiri.

Kita sering berpikir bahwa dengan cinta manusia untuk istrinya, untuk anak-anaknya, untuk sahabat-sahabatnya, dan dalam arti tertentu untuk negaranya, sudah habis bentuk-bentuk cinta yang biasa. Padahal belum disebut bentuk gairah yang paling asasi, yakni cinta yang mendorong semua unsur semesta satu kepada yang lain dalam gerakan universum yang sedang menuju ke kesempurnaan. Cinta universal tidak hanya mungkin secara psikologis; ini satu-satunya cara cinta penuh dan definitif, yang membuat kita mampu saling mencintai.

Dalam bukunya, Le Milieu Diuin, Teilhard de Chardin berkata, “Melihat Allah, yang hadir di mana-mana, itu berarti suatu visi, suatu perasaan mendalam, semacam intuisi, yang terarah kepada sifat-sifat luhur kenyataan hidup. Pandangan ini tidak mungkin dicapai langsung dengan pikiran atau keterampilan manusia. Sama seperti hidup sendiri begitu juga intuisi, yang merupakan puncak pengetahuan empiris, merupakan suatu anugerah.” Dalam rahim semesta alam, setiap jiwa hidup untuk Allah, dalam Tuhan kita. Tetapi dari pihak lain, segala sesuatu – juga barang material – yang ada di sekitar kita ada untuk jiwa kita, Demikianlah, di sekitar kita segala hal yang konkret – melalui jiwa kita – terarah kepada Allah dalam Tuhan kita,

Manusia mengalami hidupnya sendiri dalam keterarahan kepada kepenuhan, yang disebut Allah. Di situ setiap orang menyadari kehadiran Allah, bukan sebagai objek, melainkan sebagai jawaban terakhir bagi hidup sendiri.