Pengalaman akan Roh

Roh Kudus itu Roh Allah, maka dikatakan “tak tercipta”. Tetapi hasil karya Roh, yang disebut “rahmat”, adalah kenyataan hidup manusia. Timbul pertanyaan, “sejauh mana manusia dapat merasakan atau mengalami rahmat itu?” Atas pertanyaan sulit ini diberikan jawaban yang berbeda-beda. Pernah ada orang yang begitu menekankan perbedaan antara rahmat dan hidup manusia yang biasa (kodrat), sehingga pengalaman rahmat dianggap tidak mungkin. Dewasa ini pada umumnya rahmat dilihat sebagai sentuhan manusia oleh Roh; oleh karena itu tidak terjadi di luar pengalaman manusia. Namun pengalaman rahmat juga bukan pengalaman biasa, sebab rahmat berarti sentuhan oleh Roh Allah, yang “tak-tercipta”.

Dalam arti sesungguhnya rahmat pertama-tama adalah Allah sendiri, yang menghubungi manusia, dan manusia tentu tidak mampu “menjangkau” Allah. Namun kalau Allah memberikan diri kepada manusia dalam suatu pertemuan pribadi, Ia juga dapat dikenal dan dicintai oleh manusia. Untuk itu perlu “suatu” pengalaman akan Allah, khususnya akan Roh Allah.

Yang dialami oleh manusia sebetulnya bukan Allah sendiri atau Roh-Nya, melainkan kebahagiaan yang dianugerahkan oleh Allah. Oleh karena itu di dunia ini pengalaman itu senantiasa kurang sempurna, karena kebahagiaan belum mencapai kesempurnaannya. Yang sebenarnya dialami oleh manusia adalah kerinduannya akan Allah dan juga kenyataan pertemuan dengan Allah, yang merupakan pemenuhan diri manusia oleh Roh Allah. Allah serta Roh-Nya tetap merupakan misteri, yang tak mungkin dijangkau oleh manusia. Oleh wahyu dan iman manusia dimampukan supaya menghayati pertemuan dengan Allah secara pribadi. Dalam arti sesungguhnya manusia mengalami dan merasakan dirinya sendiri, tetapi digerakkan dan diangkat oleh Roh Allah.

Rahmat juga tidak dialami tersendiri, melainkan dalam aneka ragam kegiatan keagamaan, yang menunjuk kepada Allah dan Roh-Nya. Yang dimaksud bukan hanya sakramen, melainkan juga segala ajaran dan perwartaan Gereja mengenai Allah, dan segala kegiatan Gereja yang lain. Semua itu merupakan tanda yang memungkinkan dan membantu manusia menghayati pertemuan dengan Allah dengan lebih sadar dan lebih hidup. Namun perlu disadari bahwa kenyataan Allah dan rahmat-Nya tidak sama dengan tanda-tanda keagamaan itu. Bahkan harus dikatakan bahwa segala sesuatu, seluruh alam ciptaan, dapat menjadi tanda bagi Allah yang mencari manusia secara pribadi. Tetapi hanya dengan wahyu Allah, yang dikenal melalui Kitab Suci dan ajaran Gereja, tanda-tanda itu dapat menjadi sungguh jelas.

Selalu ada bahaya bahwa manusia, bila menafsirkan pengalaman hidupnya, tersesat oleh pengalaman itu sendiri dan menyamakan Allah dengan (pengalaman) manusia. Karena sifat ilahi rahmat, pengalaman akan rahmat dan akan Roh Allah selalu bersifat “tidak langsung”. Bisa terjadi bahwa manusia, khususnya dalam pengalaman yang disebut “mistik”, amat merasakan kedekatan Allah, seolah-olah tidak ada apa-apa lagi antara Allah dan manusia. Namun sekaligus ia mengalami bahwa itu terjadi hanya karena rahmat Tuhan, yang tidak dapat ditangkap dalam dirinya sendiri.

Apa yang anda pikirkan?