Penciptaan dan Karya Penyelamatan

Dalam pengakuan iman penciptaan diakui sebagai tindakan Allah yang pertama dalam sejarah dunia. Hal itu amat jelas dalam kisah penciptaan (Kej 1-2) dan juga dinyatakan dengan jelas dalam syahadat-syahadat: “Aku percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa, Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan”. Dengan kata-kata itu terungkap bukan hanya kekuasaan dan keallahan Allah, tetapi juga dasar dan awal seluruh sejarah keselamatan.

Sejarah keselamatan adalah sejarah Allah dengan manusia. Allah menciptakan dunia, khususnya manusia, sebagai titik tolak sejarah pergaulan-Nya dengan manusia. Allah meng-ada-kan manusia sebagai teman dialog. Allah menciptakan manusia supaya dibuat menjadi sahabat-Nya. Dari kebebasan-Nya yang tak terbatas Allah mengadakan manusia sebagai subjek yang bebas juga, yang otonom, berdikari, yang mampu menjawab panggilan kasih Allah. Itulah dasar dan permulaan sejarah keselamatan. Adanya sejarah keselamatan mengandaikan bahwa ada makhluk yang oleh Allah dapat diajak masuk ke dalam kesatuan cinta dengan diri-Nya. Mengadakan manusia, dengan seluruh lingkungannya, sebagai subjek rahmat merupakan tindakan Allah yang paling dasariah. Tuhan senantiasa membuat manusia menjadi subjek yang mampu menjawab panggilan-Nya. Dalam arti itu karya penciptaan berjalan terus. Dan apa yang lazim disebut “penyelenggaraan ilahi”, sebenarnya tidak lain daripada karya penciptaan Allah yang senantiasa aktual, dan tidak pernah berhenti selama ada makhluk yang bukan Allah. “Dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis 17:28). Penciptaan adalah awal dan dasar sejarah setiap orang. Dari dirinya sendiri manusia tidak mempunyai apa-apa, sehingga St. Paulus bertanya dengan tepat: “Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?” (1Kor 4:7). Tidak ada sesuatu pun yang tidak berasal dari Allah.

Penciptaan bukanlah sesuatu yang terjadi di masa lalu, dan yang sekarang sudah selesai dan lewat. Penciptaan merupakan suatu misteri yang terulang terus-menerus, sebagai dasar seluruh sejarah dialog Allah dengan manusia. Tuhan tidak menghubungi manusia yang sudah ada. Tuhan meng-ada-kan manusia untuk dihubungi, dicintai, selalu dan di mana-mana. Ini dapat disebut kehadiran Allah dalam sejarah manusia.

Tuhan menciptakan dunia “karena kebaikan-Nya, bukan untuk menambah kebahagiaan-Nya sendiri, melainkan untuk membagikannya”; Tuhan menciptakan manusia “untuk mengikut-sertakannya dalam harta-harta ilahi” (Konsili Vatikan 1). Karya penciptaan merupakan awal dan dasar karya penyelamatan melalui Yesus Kristus, sebab “kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yoh 1:17), “yang sulung di antara banyak saudara” (Rm 8:29). Allah memberikan diri dalam sejarah, dalam pertemuan antara manusia. Kesatuan Allah dengan manusia adalah kesatuan cinta kasih, dalam pertemuan pribadi antara Tuhan dan makhluk-Nya.

Apa yang anda pikirkan?