Pembaruan Kharismatik

Kiranya Pembaruan Kharismatik mempunyai hubungan langsung dengan soal pengalaman rahmat atau pengalaman Roh. Lebih khusus hal itu berhubungan dengan Baptis dalam Roh, yang sekarang biasanya disebut Pencurahan Roh (bdk. Kis 1:5). Dalam surat gembala KWI 30 November 1993 dikatakan bahwa “Gereja sekarang memahami ‘Baptis dalam Roh’ sebagai doa permohonan iman yang sungguh-sungguh agar berkat rahmat baptis dan krisma, hidup umat digairahkan dan dipenuhi dengan kekuasaan Roh Kudus”. Doa permohonan itu diucapkan dengan penumpangan tangan sebagai tanda cinta persaudaraan. Dan “dalam peristiwa tersebut orang dapat betul-betul mengalami kasih Allah secara mendalam sekali”. Itulah sebabnya sejak semula “Baptis dalam Roh” – bersama dengan pengalaman rahmat yang menyertainya – mendapat banyak perhatian dalam gerakan kharismatik.

Dalam gerakan kharismatik dapat dibedakan tiga “gelombang”:

  1. Gerakan Pentekosta, yang dimulai, oleh Charles F. Parham bersama beberapa mahasiswa di Kansas, pada tahun 1901 sebagai “gerakan kesucian” (Holiness Movement) di kalangan Gereja Metodis, yang didirikan oleh John Wesley (1703-1791);
  2. Gerakan Kharismatik, yang sejak 1918 amat mementingkan “Baptis dalam Roh” dan menjadi suatu gerakan tersendiri, yang berpusat pada pengalaman Roh;
  3. Gerakan pembaruan yang bersifat kharismatik di kalangan Gereja Protestan dan Katolik; Pembaruan Kharismatik Katolik mulai pada tahun 1967 dan pada tgl. 30 November 1990 Takhta Suci mengakui “Persaudaraan Katolik Jemaat dan Kumpulan Persekutuan Kharismatik” (The Catholic Fraternity of Charismatic Covenant Communities and Fellowships) sebagai kumpulan orang beriman Kristen Katolik yang resmi. Pada tgl. 14 September 1993 Kongregasi Kepausan untuk kaum awam juga mengakui ICCRS (International Catholic Charismatic Renewal Services), yang berkedudukan di Roma, sebagai badan untuk memajukan Pembaruan Kharismatik Katolik.>

Jelaslah bahwa gerakan kharismatik dalam sejarahnya dari Gerakan Pentekosta sampai Pembaruan Kharismatik Katolik mengalami perubahan yang amat berarti. Namun inspirasi semula tetap menjadi pendorong utama, yakni mencari pengalaman akan daya kekuatan Roh. Ajaran John Wesley masih jelas bercorak Protestan, yakni bahwa dalam hidup seorang Kristen harus dibedakan dua tahap: Tahap pembenaran dan tahap pengudusan. Dalam fase pertama orang sudah diterima oleh Allah, walaupun ia belum “baik”. Maka fase kedua berarti bahwa oleh rahmat Allah ia betul-betul diubah menjadi orang suci. Pandangan itu kemudian berkembang menjadi “gerakan kesucian”, di mana orang mencari pengalaman pertobatan mendalam ini, yang kemudian disebut “Baptis dalam Roh” (yang oleh banyak orang waktu itu dibedakan dari “Baptis dengan air”, yakni sakramen inisiasi Kristen).

Kekhasan gelombang kedua, yakni “gerakan kharismatik”, ialah bahwa pengalaman “Baptis dalam Roh” dihubungkan erat-erat dengan kharisma-kharisma, khususnya dengan “bahasa Roh”, yakni bahasa irasional (tidak masuk akal), namun yang merupakan ucapan seperti bahasa, guna mengungkapkan kasih dan devosi kepada Allah.

Pembaruan Kharismatik Katolik mulai, pada tahun 1967, dengan dua mahasiswa yang menerima “Baptis dalam Roh” dalam suatu pertemuan doa Pentekosta. Mereka membagikan pengalaman itu dengan teman-teman Katolik, dan dengan demikian mulailah gerakan kharismatik Katolik.

Konsili Vatikan II sudah mengemukakan ajaran tentang kharisma-kharisma itu, yang tidak seluruhnya sama dengan anugerah Roh, yang disebut “rahmat”,

“Kharisma-kharisma itu, entah yang amat mencolok, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja; maka hendaklah diterima dengan rasa syukur dan gembira. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan dari padanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya kharisma-kharisma itu, begitu pula tentang pengamalannya secara teratur, termasuk wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja” (LG 12).

Oleh karena itu, perlu diperhatikan pula apa yang dikatakan dalam Surat Gembala KWI mengenai Pembaruan Kharismatik Katolik pada 30 November 1993:

“Kharisma itu anugerah cuma-cuma, tanda bahwa Roh mencintai umat. Maka karunia itu tidak dapat dikejar atau kita rebut, seakan-akan sebagai hasil jerih payah kita dan untuk selama-lamanya boleh kita miliki. Misalnya, “bahasa lidah” adalah karunia Roh yang sering tidak tergantung pada emosi dan berupa doa pujian atau permohonan pribadi serta disadari oleh pendoanya . … Lebih lanjut “karunia nubuat” dianugerahkan demi pengutusan Allah, yang biasanya berupa hiburan untuk meneguhkan atau untuk mendorong orang lebih berbakti dalam jemaat. … “Karunia penyembuhan” sering dikaitkan dengan pengutusan Tuhan seyogyanya kita tidak menciptakan kebiasaan mencari penyembuhan demi penyembuhan; sebaliknya baiklah kita lebih menegaskan penyerahan kepada kehendak Tuhan serta tidak mudah menandai orang yang tidak disembuhkan sebagai “tidak beriman” (no. 16-21).

Yang pokok dari kharisma-kharisma bukanlah pengalaman yang luar biasa, melainkan pertemuan dengan Tuhan yang lebih mendalam, pengenalan akan Kristus, yang sungguh berarti suatu hubungan pribadi yang membahagiakan. Pengalaman itu akan mendorong ke arah hidup yang lebih Kristiani, baik dalam kesungguhan hati maupun terutama dalam kerelaan membantu sesama dalam pembangunan Gereja dan masyarakat. Roh Kudus diberikan kepada manusia, juga dengan cara yang tidak biasa, “supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu” (DV 5), entah secara pribadi entah bersama-sama dalam Gereja.

Kendati disebut “kharismatik” namun perhatian untuk kharisma-kharisma bukanlah satu-satunya ciri khusus gerakan ini. Dua aspek lain perlu disebut: Doa-pujian dan kesaksian, Kedua-duanya memang berhubungan erat dengan “Baptis dalam Roh” serta anugerah “bahasa Roh” (atau bahasa lidah). Dalam kelompok doa kharismatik tekanan ada pada doa pujian, yang sering kali diucapkan dengan banyak ekspresi badan, seperti gerakan tangan dan sebagainya. Doa ekspresif ini dapat membantu orang membuka diri bagi kharisma Roh. Namun janganlah doa itu sendiri dilihat sebagai hasil karya Roh langsung. Di sini pun perlu dibedakan antara rahmat dan tanda atau sarana rahmat. Bahkan bisa terjadi bahwa doa ekspresif ini juga terungkap dalam bentuk doa yang serupa dengan “bahasa Roh”, tetapi sebenarnya merupakan cetusan emosi saja. Sama halnya dengan kesaksian. Kesaksian hendaknya berupa anjuran dan dorongan membantu sesama dalam pembentukan jemaat dan bukan ungkapan kesombongan sampai memandang rendah saudara yang lain, yang oleh Tuhan diberi anugerah Roh yang lain. Segala kesaksian akhirnya harus menunjuk kepada Yesus, bukan kepada diri penyaksi sendiri. Anugerah Roh diberikan supaya orang “dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan” (1Kor 12:3).