Pembagian Sepuluh Firman Allah

Dalam Kitab Suci memang dikatakan bahwa ada sepuluh perintah atau firman Tuhan (Ul 4:13; 10:4), serta ada dua loh batu (Kel 31:18; 32:15; 34:1). Menurut tradisi Yahudi dan Kristiani yang amat kuno, sepuluh firman terbagi atas dua loh batu itu. Pada umumnya firman ke-1, ke-2, dan ke-3 dijadikan satu, karena menyangkut hubungan manusia dengan Allah; sedangkan sisanya lebih berbicara mengenai hubungan manusia dengan sesamanya. Namun harus diperhatikan bahwa hubungan dengan sesama juga ditentukan oleh sikap manusia terhadap Allah. Di sini sudah kelihatan bahwa cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama tidak bisa dipisahkan satu dari yang lain (bdk. Mrk 12:28-34). Khususnya dalam firman mengenai hari Sabat, kedua hal itu jelas bercampur baur: hari Sabat itu hari Tuhan, tetapi juga hari istirahat bagi manusia.

Dengan pembagian ini susunan masing-masing bagian belum seluruhnya jelas. Tentu perintah-perintah pertama dapat dilihat sebagai dasar untuk seluruh Dasafirman. Tetapi sebenarnya perintah-perintah itu merupakan satu perintah saja, yakni mengenai ketaatan dan kebaktian kepada Tuhan dalam kehidupan agama. Perintah mengenai nama dan patung merupakan pengkhususan perintah dasar itu. Lain halnya dengan perintah-perintah yang menyebut aneka bidang kehidupan orang. Semua perintah itu berkenaan dengan hormat terhadap hidup manusia, dan mengenai segala kondisi yang perlu supaya hidup manusia di bumi ini dapat berlangsung terus: mengenai keluarga dan masyarakat, mengenai hubungan dengan sesama yang dekat dan yang jauh, mengenai tata keadilan dan mengenai cara memakai tanah dan segala kekayaan dunia.

Ada yang berpendapat sebaiknya pembagian sepuluh Firman Allah kembali kepada pembagian dalam bahasa Ibrani, seperti ditemukan dalam Kitab Suci. Benar bahwa pembagian dari bahasa Latin berbeda, tambah lagi firman ke-10 diubah karena memalukan (istri sebagai milik suami). Berkat hasil tafsiran dan teologi Kitab Suci dewasa ini, kita bisa mempertahankan pembagian asli. Lima firman pertama menyangkut nama dan hak Allah, sedangkan lima firman kedua menyangkut harkat dan hak asasi manusia.

SEPULUH FIRMAN ALLAH
Dasasila Kemerdekaan

Hak Allah

  1. Jangan ada padamu Allah lain di hadapanmu. (Allah yang Mahaesa)
  2. Jangan membuat bagimu patung; jangan sujud menyembah kepadanya. (Allah yang Mahakudus)
  3. Jangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. (Allah yang Mahaagung)
  4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Tuhan. (Allah Sang Penebus)
  5. Hormatilah ayahmu dan ibu-mu. (Allah Mahasetia)

Allah itu Esa; Kasihilah Tuhan Allah-mu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan

Hak Manusia

  1. Jangan membunuh. (Hak hidup)
  2. Jangan berzinah. (Hak perkawinan/ keluarga)
  3. Jangan mencuri (manusia). (Hak kemerdekaan/ kebebasan)
  4. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. (Hak nama baik)
  5. Jangan mengingini rumah sesama atau apa pun yang dipunyai sesamamu. (Hak milik)

Allah itu Esa. Kasihilah sesama: manusia seperti dirimu sendiri.

Demikian pembagian mengikuti Kitab Suci yang juga dipakai oleh Gereja Reformasi. Isinya kembali kepada maksud asli dan hal ini sangat relevan dengan situasi di Indonesia. Dalam arti ini Dasafirman berbicara mengenai nilai-nilai dasar kehidupan manusia. Dasafirman itu diwahyukan sebagai undang-undang dasar umat Allah. Berdasarkan Dasafirman itu hubungan antarsesama bukanlah soal sosiologi atau politik semata-mata, Menurut Dasafirman, sesama manusia itu saudara dalam Tuhan. Hubungan dengan Tuhan menentukan relasi dengan sesama. Segala pelanggaran terencana terhadap hak-hak sesama berarti dosa di hadapan Tuhan. Segala tuntutan melangsungkan hidup sesama manusia menjadi perintah Allah, Perikemanusiaan manusia bersumber pada kasih Allah.