Para Rasul

Awal perkembangan hierarki adalah kelompok kedua belas rasul. Inilah kelompok yang sudah terbentuk waktu Yesus masih hidup bersama mereka. Yudas Iskariot, “yang akan menyerahkan Yesus, dia pun seorang di antara kedua belas murid” (Yoh 6:71). Maka kelompok yang biasanya disebut “keduabelasan” (lih. Mat 10:5; 26: 14.47; dst.) sesudah kematian Yudas disebut “kesebelasan” (Kis 1:26; 2:14; juga Mat 28:16; Mrk 16:14; Luk 24:9.33). Tetapi kata “keduabelasan” tetap terpakai juga (lih. Kis 6:2; 1Kor 15:5), tanda bahwa itu kelompok terkenal. Paulus menyebut kelompok itu “mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku” (Gal 1:17).

Paulus pun seorang rasul, sebagaimana dinyatakan dengan tegas (1Kor 9:1; 15:9; lih. juga Rm 1:1; 1Kor 1:1; 2Kor 1:1, terutama Gal 1:1) karena ia “telah melihat Yesus, Tuhan kita”. Seorang rasul adalah “saksi kebangkitan” (Kis 1:22; 10:41). Yang pertama-tama disebut rasul adalah kelompok dua belas itu, “yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem” (Kis 13:31). Tetapi Paulus pun disebut “rasul”, begitu juga Barnabas dan banyak orang lain (lih. Kis 14:14). Bahkan akhirnya semua “utusan jemaat” disebut rasul (2Kor 8:23; lih. Flp 2:25), karena kata “rasul” (apostolos) memang berarti “utusan” (lih. Luk 9:52), dan secara khusus dipakai untuk “utusan Kristus” (2Kor 5:20). Maka lama-kelamaan kelompok rasul lebih luas daripada kelompok dua belas saja (bdk. 1Kor 15:5 dan 7).

Para rasul di Yerusalem, dan lebih khusus lagi “Yakobus, Kefas (Petrus), dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat” (Gal 2:9; bdk. ay. 2 dan 6), rupa-rupanya mempunyai kedudukan dan wewenang yang khas. Sesudah bekerja lama di antara bangsa kafir Paulus merasa perlu membentangkan Injil yang diberitakannya di antara bangsa-bangsa bukan-Yahudi “dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang” itu (Gal 2:2). Dari satu pihak Paulus mempertahankan bahwa kerasulannya “bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa” (Gal 1:1). Tetapi dari pihak lain ia mencari hubungan dengan Yerusalem “supaya jangan bekerja dengan percuma” (2:2), dan berjabat tangan dengan pemimpin di Yerusalem dipandangnya sebagai “tanda persekutuan” (2:9). Ia berani berterus-terang dengan Petrus (Gal 2:14), tetapi ia juga menempatkan kesaksiannya bersama dengan pewartaan mereka (1Kor 15:11).

Dengan bangga Paulus menyebut diri “rasul untuk bangsa-bangsa bukan-Yahudi” (Rm 11:13; lih. Gal 1:16), tetapi dengan rajin ia mengumpulkan dana untuk jemaat di Yerusalem, “sebab, jika bangsa-bangsa lain beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah mereka melayani orang Yahudi dengan harta duniawi” (Rm 15:27). Yerusalem tetap dipandang sebagai pusat, demikian juga “mereka yang senantiasa datang berkumpul selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan mereka, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke surga” (Kis 1:22). Tetapi sesudah Paska, yang terpenting bukan lagi keikutsertaan dengan Yesus dalam karya-Nya di Palestina, melainkan menjadi saksi kemuliaan-Nya.

Mereka tetap “memberi kesaksian tentang Injil kasih-karunia Allah” (Kis 20:24) dan mewartakan “segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat” (Kis 1:1). Sesudah Paska tekanan ada pada Yesus sendiri, khususnya pada wafat dan kebangkitan-Nya. “Setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (Kis 5:20). Tugas pokok adalah pewartaan, dan pewartaan semakin terpusatkan pada Tuhan yang mulia. Maka dalam jemaat Korintus amat dipentingkan pengalaman akan Roh, sebab “Tuhan adalah Roh” (2Kor 3: 17) dan “tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus” (1Kor 12:3). Jemaat hidup dari pengalaman Roh itu. “Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama” (1Kor 12:7).

Di dalam jemaat masing-masing anggota mempunyai tugas dan perannya sendiri, dan untuk itu ia juga diberi karunia khusus Roh Kudus, “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing anggotanya” (1Kor 12:27). Maka “hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu, tetapi semuanya untuk membangun” (1Kor 14:26). Jemaat hidup dari karunia Roh. “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur, sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” (1Kor 14:40.33). Oleh karena itu Paulus terpaksa turun tangan, bila kesopanan dan kesatuan ternyata kurang diindahkan (lih. 1Kor 5:1-13; 7:17; 11:34; 16:1; 2Kor 2:5-11).

Prinsip kesatuan jemaat bukanlah kuasa atau wewenang Paulus, melainkan karunia Roh. Tentu saja Paulus mempunyai wibawa sebagai seorang rasul (lih. 1Kor 3:10; 4:15; 2Kor 10:8; 13:10), dan kiranya kepribadian Paulus amat berarti untuk kehidupan dan kesatuan jemaat. Tetapi Paulus tidak pernah menonjolkan diri sebagai pemimpin jemaat. Sebaliknya, ia menyebut diri hamba jemaat, “Sebab, bukan diri kami yang kami beritakan, melainkan Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus” (2Kor 4:5). Tugas pokok adalah pewartaan Injil, bukan pengurusan jemaat (lih. 1Kor 1:17; 9:16; 15:1). Mengenai kuasa serta wewenang tidak ada orang yang bertanya.

Semua itu menjadi agak lain, ketika para rasul sudah tidak ada. Dalam Kis 15:2 di samping para rasul juga disebut “penatua-penatua” (lih. juga 11:30). Tidak seluruhnya jelas fungsi dan asal-usul golongan ini, tetapi mungkin sekali bahwa di dalam jemaat Yerusalem diambil alih struktur organisasi yang lazim di kalangan Yahudi (Kis 14:23). Dengan demikian, lama-kelamaan para penatua menggantikan rasul-rasul (lih. mis. Kis 15:6; 20:17.28; 21:18). Paulus dalam suratnya yang paling tua juga berbicara mengenai “mereka yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegur kamu” (1Tes 5:12). Kurang jelas apakah mereka mempunyai tugas dan kedudukan tetap, atau hanya ditunjuk sementara. Yang jelas bahwa Ef 4:11 sudah mengenal aneka fungsi dan jabatan “rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar”.

Dalam teks ini pun tidak seluruhnya jelas apa yang dimaksudkan dengan nama-nama itu. Kiranya “rasul” dan “nabi” masih menunjuk situasi awal. Rupa-rupanya mereka kemudian diganti dengan “gembala” dan “pengajar”, yang barangkali sudah menjadi petugas tetap di dalam jemaat. Sedangkan “pemberita-pemberita Injil” mungkin tidak terikat pada satu jemaat tertentu melainkan berkeliling ke mana-mana. Dalam 1Kor 12:28, sebelum dibicarakan aneka karunia Roh, juga disebut dahulu “rasul”, “nabi” dan “pengajar” (bdk. Kis 13:1; Rm 12:6-7).

Kata episkopos (yang kemudian menjadi “uskup”) sebenarnya berarti “penilik” dan jarang dipakai dalam Kitab Suci (Kis 20:28; Flp 1:1; 1Tim 3:2; Tit 1:7). Kata itu sebetulnya sebuah istilah “profan” dari bahasa biasa, dan kurang jelas apa artinya dalam kerangka Gereja dan agama. Sama halnya dengan kata diakonos, yang sebenarnya hanya berarti “pelayan”, tetapi dalam Rm 16:1; Ef 6:21; Flp 1:1; Kol 4:7 dan terutama dalam 1Tim 3:8-13 jelas mempunyai arti gerejawi dan sudah menjadi semacam “tahbisan” (bdk. 1Tim 4:14; 5:22; 2Tim 1:6). Banyak hal yang tidak jelas dalam proses perkembangan ini. Tetapi pada akhir perkembangannya ada struktur dari Gereja St. Ignatius dari Antiokhia, yang mengenal “penilik” (episkopos), “penatua” (presbyteros) dan “pelayan” (diakonos). Struktur itu selanjutnya menjadi struktur hierarkis yang terdiri dari uskup, imam dan diakon. Yang penting bukanlah bagaimana kepemimpinan Gereja dibagi atas aneka fungsi dan peran, tetapi bahwa tugas pewartaan para rasul lama-kelamaan menjadi tugas kepemimpinan jemaat. Hal itu tidak berarti “rebutan kuasa”, tetapi perhatian yang semakin besar untuk jemaat dan urusan jemaat sendiri. Perkembangan ini tidak hanya disebabkan oleh kematian angkatan yang pertama, tetapi juga karena perhatian untuk parousia atau kedatangan Tuhan pada akhir zaman semakin berkurang. Di samping itu muncul aneka ajaran dan gerakan sesat yang merupakan ancaman bagi kehidupan Gereja. Kalau kita membandingkan surat-surat St. Paulus kepada jemaat di Korintus dengan surat-surat pastoral (1- 2Tim; Tit), ternyata aneka karunia dan fungsi makin dipusatkan dalam tangan satu atau beberapa orang saja. Bentuk organisasi Gereja makin ketat. Bersama dengan itu juga ada perkembangan bahwa bidang sakral atau kultis makin mendapat banyak perhatian.

Dalam hal ini terjadi suatu proses perkembangan yang dapat dibandingkan dengan proses terjadinya Kitab Suci Perjanjian Baru. Waktu Paulus menulis surat-suratnya kiranya ia tidak berpikir mengenai Kitab Suci. Begitu juga tulisan yang di kemudian hari akan diakui sebagai Injil, semula dianggap sebagai catatan biasa untuk katekese. Demikian pula dengan tulisan-tulisan yang lain yang dipandang sebagai sarana komunikasi di dalam jemaat. Baru di kemudian hari disadari bahwa di dalamnya iman Gereja perdana terungkap secara otentik dan asli, di bawah penerangan Roh Kudus.

Begitu juga dengan struktur hierarkis Gereja. Dalam Gereja perdana hierarki dipandang sebagai struktur organisasi dan komunikasi yang biasa. Baru kemudian disadari bahwa di dalamnya karya Roh mendapat bentuknya. Maka, menerima Gereja perdana sebagai norma Gereja sekarang tidak hanya berarti menerima Kitab Suci, tetapi juga bentuk organisasinya sebagaimana berkembang dalam periode awal itu. Justru tulisan-tulisan awal Gereja itu diakui sebagai Kitab Suci dalam kerangka jemaat yang semakin terorganisasi. Keduanya kait-mengait, yang satu tidak dapat dilepaskan dari yang lain. Bahkan harus dikatakan bahwa Kitab Suci sudah mengandaikan suatu jemaat terorganisasi yang mau menerimanya secara resmi sebagai sabda Allah.