Panteisme

Bentuk-bentuk ateisme berbeda-beda. Tidak semua secara prinsip mengingkari Allah. Tetapi semua, tanpa kecuali, menempatkan Allah begitu jauh di luar dunia, sehingga sudah tidak berarti lagi bagi manusia. Kalaupun mungkin ada, toh tidak dapat dikenal dan dihubungi oleh manusia. Maka dalam praktik Allah tidak memainkan peranan apa-apa dalam kehidupan manusia. Bahkan dapat terjadi bagi orang yang percaya akan Allah, dalam praktik hidup seolah-olah tidak ada Allah. Kebalikan dari semua itu adalah panteisme yang melihat kehadiran Allah di mana-mana dan mungkin kurang membedakan Allah dari dunia. Tidak jelas perbedaan antara Allah Pencipta, dunia, dan makhluk ciptaan-Nya. Dunia sebagai keseluruhan nampaknya sama dengan Allah. Sebetulnya panteisme bukanlah suatu sistem pemikiran lengkap, melainkan lebih merupakan suatu sikap dasar yang kurang memperhatikan keistimewaan dan keunggulan Tuhan, atau terlalu mengilahikan dunia.

Dalam pembicaraan terlampau ditonjolkan, bahkan dimutlakkan, pengalaman akan kehadiran Allah dalam makhluk-makhluk-Nya. Itulah sebabnya banyak karangan mistik, termasuk yang Kristiani, yang mencoba menggambarkan pengalaman langsung akan Allah, dapat memberi kesan bernada panteistis. Hal itu juga hampir tidak dapat dihindari. Kalau dalam pertemuan dengan Allah ditekankan kesatuan, mudah diberi kesan seolah-olah tiada lagi perbedaan; sebaliknya, kalau ditegaskan perbedaan antara Allah dan manusia, kelihatan seolah-olah Allah hanyalah khayalan manusia. Padahal kebenarannya ialah bahwa Allah yang sungguh berbeda total dengan manusia, dalam wahyu dan iman menjadi satu dengannya, sehingga manusia dapat mengalami kehadiran-Nya, Dari satu pihak orang beriman dapat menemukan Allah di mana-mana; dari pihak lain tidak dapat dikatakan bahwa seluruh dunia adalah suatu penampakan Allah. Kehadiran Allah sungguh nyata, tetapi seluruhnya bersifat misteri. Allah hadir di dalam makhluk-makhluk-Nya bukan secara “makhluk”, tetapi secara “Allah”.