Pada Hari yang Ketiga

Rumus bangkit “pada hari yang ketiga” terdapat banyak kali dalam Perjanjian Baru (kendati pun dalam bahasa Yunani ada tiga perumusan yang sedikit berbeda-beda; yang persis sama dengan 1Kor 15:4 hanyalah Luk 18:33). Murid-murid dari Emaus dengan setengah protes berkata kepada Yesus: “Kini sudah hari ketiga sejak semua itu berlalu” (Luk 24:21). Itu adalah hari Paska (lih. ay. 13), yakni “hari pertama dalam minggu” (ay. 1 = Yoh 20:1; bdk. Mat 28:1). Yesus wafat dan dimakamkan pada hari Jum’at (bdk. Yoh 19:31; Luk 23:56). Maka, khususnya menurut perhitungan orang Yahudi, hari Minggu itu bisa disebut “hari yang ketiga” (dan rumus “sesudah tiga hari”: Mrk 8:31; 9:31; 10:34, masih bisa diterima). Tetapi kiranya bukan hanya itulah arti “hari yang ketiga”.

Kalau kita memperhatikan Perjanjian Lama dan tulisan Yahudi, “hari yang ketiga” juga mempunyai arti keselamatan. Banyak teks dalam Perjanjian Lama memperlihatkan “hari ketiga” sebagai hari keselamatan.

Dalam tradisi Yahudi, “pada hari ketiga” disebut secara khusus dalam peristiwa-peristiwa Abraham yang mau mengurbankan Ishak (Kej 22:4), pembebasan saudara-saudara Yusuf (Kej 42:18), penampakan Tuhan di Sinai (Kel 19:11), Israel yang memasuki Kanaan (Yos 1:11), janji Yesaya kepada Hizkia (2Raj 20:5), pembangunan Yerusalem di bawah Ezra (Ezr 8:31), kisah Ester (Est 5:1), Yunus (Yun 1:1), dan terutama nubuat nabi Hosea yang menyatakan bahwa “Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga. Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya”.

Sebetulnya harus dikatakan bahwa banyak teks lain juga berbicara mengenai hari yang ketiga, yang tidak langsung berhubungan dengan keselamatan Tuhan. Tetapi dalam tradisi Yahudi, “hari ketiga” secara khusus dihubungkan dengan penyelamatan. Oleh karena itu kebangkitan Kristus “pada hari yang ketiga” kiranya pertama-tama harus dihubungkan dengan fakta penampakan (kepada Petrus) pada hari Minggu. Tetapi kemudian, karena latar belakang Yahudi, dengan kata-kata itu juga ditonjolkan arti keselamatan kebangkitan Kristus. Bangkit “pada hari yang ketiga” tidak hanya mempunyai arti simbolis saja, tetapi juga tidak terbatas pada arti historis melulu. Dengan kata-kata itu diungkapkan suatu peristiwa yang unik, yang khas untuk pengalaman iman umat Kristen, yaitu keselamatan yang terlaksana dalam wafat dan kebangkitan Kristus.

Syahadat pendek dengan tegas mengatakan “bangkit dari antara orang mati“. Kata-kata itu kiranya juga berasal dari Kitab Suci, yang amat kerap memakai kata-kata itu. Yang mau dikatakan bahwa Kristus sungguh bangkit dari alam maut. Kitab Suci dan ajaran Gereja selalu menandaskan bahwa Kristus sungguh-sungguh mati. Tidak dibedakan antara kemanusiaan-Nya yang mati dan keallahan-Nya yang tetap hidup. Kristus mati, seluruhnya. Dalam syahadat pendek hal itu dinyatakan dalam pasal yang mendahului, dengan istilah “turun ke tempat penantian”. Dalam teks asli sebetulnya dikatakan “ke tempat yang paling bawah”. Apa yang dimaksudkan kiranya menjadi jelas dari Ef 4:9, “Kristus telah turun ke bagian bumi yang paling bawah” (bdk. Mat 12:40, “rahim bumi”; Kis 2:31: “dunia orang mati”). 1Ptr 4:6 menjelaskan: “Injil diberitakan juga kepada orang-orang mati”, atau dengan kata lain: “Kristus pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang ada di dalam penjara” (3:19). Dengan semua itu mau dikatakan bahwa Kristus betul-betul masuk ke dalam dunia orang mati, bahwa Ia benar-benar mati. Itu pula yang dimaksudkan dengan “bangkit dari antara orang mati”. Kebangkitan Kristus tidak berarti bahwa Ia sesungguhnya tidak mati. Sebaliknya, kebangkitan berarti kemenangan atas maut, dan atas seluruh dunia maut.

Kebangkitan Kristus juga tidak berarti bahwa Kristus hidup kembali. Kebangkitan Kristus tidak seperti Lazarus (Yoh 11:44) atau pemuda dari Nain (Luk 7:14-15) ataupun anak Yairus (Mrk 5:41- 42). Mereka semua dikembalikan kepada hidup yang fana ini (dan beberapa waktu kemudian akan mati lagi). Tidak demikian halnya dengan Yesus. Dengan kebangkitan-Nya Ia masuk ke dalam kemuliaan Bapa-Nya, “Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia! (Rm 6:9). Oleh karena itu kebangkitan dalam Kitab Suci sering disebut “peninggian” (lih. Fil 2:9; Kis 2:33; 5:31). Yang pokok bahwa Yesus sekarang hidup dalam kehidupan ilahi, “duduk di sebelah kanan Allah” (Rm 8:34; lih. 1Kor 15:25; Ef 1:20; Kol 3:1). Kebangkitan berarti pemuliaan, peninggian kepada kemuliaan ilahi.