Nilai-nilai Dasar Martabat Manusia dan Kehendak Allah

Setiap orang hanya dapat hidup sebagai pribadi terhormat dan mandiri, kalau ia menghayati otonominya dan dengan penuh tanggung jawab membangun serta memelihara kehidupan yang manusiawi. Maka dari zaman ke zaman orang bertanya, manakah tuntutan-tuntutan pokok yang harus dilakukan dalam hidup kita supaya benar-benar menjadi manusiawi? Dari zaman ke zaman pertanyaan itu mendapat beraneka-ragam jawaban yang bervariasi menurut lingkungan kebudayaan. Kendati segala perbedaan itu, ada satu keyakinan dasar, bahwa keputusan moral yang mandiri mesti berkiblat pada sejumlah tuntutan dasar, yakni tuntutan yang sesuai dengan ciri khas hidup manusia dan yang dikehendaki oleh Pencipta. Oleh Konsili Vatikan II dikatakan: “Injil telah membangkitkan dan masih terus membangkitkan dalam hati manusia tuntutan-tuntutan martabatnya yang tak dapat didiamkan” (GS 26). Kesadaran akan tuntutan martabat ini merupakan karya Roh, yang “menjiwai, menyucikan, dan meneguhkan keinginan-keinginan luhur umat manusia supaya membuat hidupnya menjadi lebih berperikemanusiaan”.

Oleh karena itu, kepada setiap orang Gereja mewartakan Allah beserta misteri keselamatan-Nya dalam Kristus dan dengan demikian menyingkapkan kepada manusia, siapa manusia itu. Secara khusus mesti diperhatikan segala sesuatu “yang menyembuhkan dan menjunjung tinggi martabat pribadi manusia, yang meneguhkan keterpautan masyarakat manusia dan memenuhi usaha manusia sehari-hari dengan makna dan arti yang lebih mendalam” (GS 40).

Karena itu, hormat terhadap martabat pribadi serta daya cipta manusia dan solidaritas dalam membangun paguyuban manusia dapat dipandang sebagai nilai-nilai utama dalam tradisi Kristen. Memang, tidak semua nilai sama artinya; maka nilai-nilai dapat diurutkan dalam suatu tatanan. Dari zaman ke zaman, tatanan nilai itu tidak sama dan menurut kebudayaan yang berbeda-beda diutamakan nilai-nilai yang berbeda-beda juga. Dalam lingkungan kebudayaan Indonesia dan demi harmoni universal, nilai kekeluargaan dan gotong-royong sangat dijunjung tinggi, sampai-sampai kejujuran dalam keyakinan pribadi dikurbankan demi kerukunan. Sebaliknya, di sementara lingkungan kebudayaan lain ketulusan hati yang mandiri begitu diutamakan, sampai dilupakan kepekaan terhadap pendapat orang lain. Jelaslah bahwa kedua tatanan itu harus ditanggapi kritis dan setiap tatanan nilai dari zaman ke zaman perlu ditinjau dengan jujur, supaya diutamakan nilai-nilai yang paling mendesak guna menjamin hidup manusia (yang pribadi dan bersama), biarpun mungkin dirasakan berlawanan dengan kekeluargaan; dan supaya diluhurkan nilai-nilai yang memberikan kepada hidup manusia (yang pribadi dan bersama) warna dan ciri perikemanusiaan, biarpun mungkin dirasakan berlawanan dengan hak pribadi, Dewasa ini, “demi Injil yang dipercayakan kepadanya, Gereja mempermaklumkan dengan resmi hak-hak manusia” (GS 38 dan 41), yakni hak-hak perorangan, khususnya kaum buruh, hak-hak keluarga dan pendidikan, yang berkaitan dengan tugas-kewajiban negara, dengan tata nasional dan internasional, yang menyangkut kehidupan ekonomi dan kebudayaan, damai dan perang, hormat terhadap kehidupan sejak di rahim ibu hingga saat kematian. Tidak jarang “kesepuluh perintah Allah” dipakai untuk meringkas khazanah keyakinan moral yang terkumpul dalam tradisi Kristen.

Apa yang anda pikirkan?