Moral Perkawinan

Dengan tekanan pada sifat personal, muncullah satu permasalahan lain lagi, yakni komunikasi dalam perkawinan. Suami dan istri masing-masing mempunyai cita-cita, keinginan, impian yang berbeda-beda dan kecemasan serta keprihatinan lain-lainnya. Semua itu tidak hanya muncul dari hati mereka sendiri. Suami, karena lingkungan kerja, mempunyai aneka relasi: kenalan, sahabat, teman kerja, atasan dan bawahan, klien, dan langganan. Sering kali istri juga mempunyai lingkungan sendiri di luar lingkungan keluarga atau sanak-saudara, entah karena kariernya, entah karena keterlibatannya dalam aneka kelompok dan organisasi masyarakat. Dengan demikian, suami dan istri tidak hanya mempunyai alam pikiran yang berbeda-beda, tetapi juga lingkup kehidupan sosial yang tidak sama. Semua itu dibawa masuk ke dalam keluarga dan belum tentu cocok satu sama lain. Tidak jarang terjadi bahwa dengan demikian dalam perkawinan mereka masuk “pria lain” atau “wanita lain”. Perkawinan lalu dapat menjadi suatu medan konflik dan konflik yang tidak diolah dapat menjadi sumber “penyelewengan”.

Karena itu, moral perkawinan modern pertama-tama perlu menjadi suatu moral komunikasi. Maksudnya, orang diharapkan mulai mengembangkan dan memperhatikan kemampuan berkomunikasi, serta saling membesarkan hati supaya membuka diri, juga bila ada kesulitan kecurigaan dan kecemburuan. Perlu dijaga, jangan sampai “inisiatif bicara” dilumpuhkan oleh ketakutan akan salah tangkap atau sakit hati. Moral komunikasi itu juga menuntut sejumlah keutamaan yang baru, seperti kemampuan dan kebijaksanaan menentukan mana saat berbicara dan mana saat diam. Juga dituntut kemampuan saling mengasihi tanpa memaksa, dengan mengakui dan menghormati kebebasan masing-masing. Moral komunikasi juga menuntut agar orang mampu menantang dan menegur, dan pada waktu yang sama senantiasa siap mengampuni. Terutama dituntut kemampuan dan keberanian untuk membangun suatu relasi cinta yang senantiasa baru dan terbuka, sebab perubahan dalam relasi suami-istri, “model keluarga” yang diwariskan dari orangtua sudah tidak ada lagi. Berpangkal pada hubungan pribadi yang baru harus dibentuk suatu model keluarga yang baru pula.

Apa yang anda pikirkan?