Misteri

Wahyu maupun iman bukanlah informasi atau ajaran saja. Iman bukan hanya pengetahuan, tetapi pengenalan. Karena wahyu dan iman manusia diperbolehkan mengenal Allah. Ini tidak sama dengan mengetahui Allah. Memang iman juga tidak buta. Iman mempertemukan manusia sungguh-sungguh dengan Allah. Tetapi Allah tetap Allah, dan itu berarti tetap misteri. Ia “bersemayam dalam terang yang tak terhampiri; seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (1Tim 6:16). Allah yang dapat dilihat manusia bukan Allah lagi, Maka sesudah mewahyukan diri, Allah tetap misteri. “Tak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18). Kristus mewahyukan Allah: “Barangsiapa melihat Aku, ia melihat Bapa” (Yoh 14:9). Namun demikian, Allah tetap misteri. Dalam diri Kristus pun keallahan tidak tampak. “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas, dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan ada bersama kita”, kata orang Yahudi (Mrk 6:3). Mereka mengajukan protes: “Engkau menghujat Allah; sebab Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah” (Yoh 10:33). Juga dalam diri Yesus Allah tetap tersembunyi, tetap misteri. Dalam diri Yesus dari Nazaret, Allah menyatakan kehadiran-Nya, tetapi dalam rupa seorang manusia.

Dengan kedatangan Kristus, Allah tetap tidak kelihatan, dan gambaran mengenai Allah tetap tidak sama dengan Allah sendiri. Padahal manusia selalu berhubungan dengan Allah melalui gambar dan imajinasi dalam pemikirannya. Maka ada banyak gambaran mengenai Allah, yang semuanya berasal dari manusia sendiri. Gambar-gambar itu biasanya sesuai dengan alam pikiran orang dan dipengaruhi oleh keadaan sosio-psikisnya. Gambaran mengenai Allah dari seorang anak berbeda dengan gambaran dari orang dewasa. Tetapi sering kali orang dewasapun masih menggambarkan Allah secara kekanak-kanakan. Kebudayaan dan tradisi juga memainkan peranan yang penting. Tidak jarang juga gambaran mengenai Allah dimanipulasikan demi tujuan politis atau ekonomis. Maka perlu waspada terhadap gambar-gambar mengenai Allah. Kita harus tetap membedakan antara gambaran yang dibuat manusia dan kenyataan Allah sendiri, karena Allah sendiri sesungguhnya tidak bisa digambarkan secara penuh. Keagungan dan kedahsyatan Allah sering digambarkan secara menakutkan, bahkan sebagai penguasa yang bengis. Ini tidak sesuai dengan gambaran yang diberikan Yesus. Allah mempesonakan dan juga menarik. Allah lain dari yang lain, tetapi menyatakan diri dalam Yesus sebagai sahabat kita. Allah amat luhur dan amat suci, maka harus didekati penuh hormat dan kesucian.

Gambaran kita mengenai Allah, selalu harus dihadapkan pada gambaran yang diberikan oleh Yesus. Tetapi perlu disadari bahwa Yesus pun berbicara dengan bahasa dan gambaran manusia. Sering kali Yesus mempergunakan perumpamaan, yang diambil dari hidup zaman itu. Bahasa dan kebudayaan Yesus berasal dari adat-istiadat orang Yahudi abad pertama. Maka juga gambaran dari Kitab Suci pun tidak sama dengan Allah sendiri. Di sini perlu diperhatikan apa yang dikatakan Yesus kepada perempuan Samaria: “Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam Roh dan kebenaran” (Yoh 4:24). Orang beriman harus senantiasa berpangkal pada pengalaman hidup dan waspada terhadap segala pengertian dan penggambaran yang mau mengkonkretkan Allah yang dicari. Kita “masih jauh dari Tuhan, sebab hidup kita adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2Kor 5:7). Iman adalah pergumulan terus-menerus mencari cahaya yang terang. Konsili Vatikan II menyatakan:

“Supaya orang dap at beriman diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi dan menimbulkan pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran” (DV 5).

Dalam iman orang tidak memiliki pegangan lain kecuali Allah sendiri, yang menyatakan diri dalam bentuk insani. Maka dalam iman manusia harus senantiasa mengatasi gambaran dan pandangan manusiawinya. Penghayatan hubungan dengan Allah selalu lebih penting daripada gambaran dan pengertian.

Apa yang anda pikirkan?