Menyapa Allah “Abba”

Hubungan istimewa Yesus dengan Allah terungkap antara lain dengan sebutan “Abba”, yang berarti Bapa tercinta. Kata itu memang menyatakan suatu hubungan istimewa. Dalam Kitab Suci (Mrk 14:36; Gal 4:6; Rm 8:15) kata itu dinyatakan dalam bentuk bahasa Aram, bahasa ibu Yesus (dan tidak diterjemahkan dalam bahasa Yunani, bahasa Perjanjian Baru). Hal itu memperlihatkan, betapa Yesus akrab dengan bahasa doa itu. Kata itu mempunyai arti khusus bagi jemaat perdana, karena dilihat sebagai kata yang khusus bagi Yesus. Di dalamnya terungkap suatu relasi kekeluargaan. Hubungan istimewa itu tampak juga dalam kata-kata yang lain (mis. Mat 11:25- 30 dsj.). Seluruh penampilan Yesus memperlihatkan relasi khusus itu.

Yesus bukan ahli Taurat dan juga bukan orang Farisi, melainkan Ia tampil sebagai orang yang bijaksana, yang berhikmah. Oleh karena itu, ajaran-Nya selalu berbobot dan amat mendalam (lih. Mat 5:39.42; 6:2.17-18; Mrk 9:49-50; Luk 16:8-12.15). Lebih daripada itu, Yesus tampil sebagai orang suci yang hidup bersatu dengan Allah, yang disebut Bapa-Nya. Doa “Bapa kami” merupakan rangkuman hubungan-Nya dengan Allah. Nasihat yang diberi-Nya kepada orang lain merupakan kenyataan hidup bagi diri-Nya sendiri: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Luk 11:9).

Kepercayaan kepada Allah tidak dapat dipatahkan, juga tidak oleh penderitaan di salib. Secara resmi Yesus bukan seorang “guru di Israel” (Yoh 3:10). Namun begitu, “banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya; juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya” (Mrk 3:7-8). Mereka tertarik, karena “belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu” (Yoh 7:46). Ia diakui sebagai “seorang nabi besar” (Luk 7:16).

Yesus sungguh tampil sebagai seorang nabi (lih. Mrk 6:15 dsj.; 8:27 dsj.; Mat 21:11.46; Luk 7:16.39; 24:19; juga Yoh 4:19; 6:14; 7:40.52; 9:7). Tetapi perbandingan dengan Salomo dan Yunus memperlihatkan bahwa Ia lebih daripada seorang nabi (Luk 11:31-32 dsj.; bdk. Luk 10:23-24 dsj.). Dalam seluruh penampilan dan kepribadian-Nya Yesus memperlihatkan dengan jelas ciri-ciri seorang nabi, dan karena pewartaan-Nya mengenai Kerajaan Allah yang akan datang dengan segera, ia diakui sebagai “nabi yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 6:14; bdk. Ul 18:15-18). Yesus tidak hanya meramalkan kedatangan Kerajaan Allah. Ia juga menegaskan bahwa Kerajaan Allah dalam karya dan pewartaan-Nya sudah datang. Dengan kata lain, dalam diri Yesus sendiri Kerajaan itu telah datang dan menampakkan diri. Di situ juga kelihatan hubungan khusus Yesus dengan Allah.

Dalam rangka pewartaan Kerajaan Allah, Yesus itu “wakil” Allah. Yesus tampil sebagai pengantara antara Allah dan manusia. Ia terlibat secara pribadi dalam kedatangan Allah di dunia, khususnya kepada manusia malang dan miskin. Justru karena itu “pembagian iman” Yesus dengan rakyat jelata menjadi suatu gerakan massal (lih. Mrk 11:18). Keterlibatan-Nya dalam karya Allah itu sekaligus mengkonfrontasikan Dia dengan mereka yang tidak mau menerima kedatangan Allah yang tidak disangka-sangka. Konfrontasi ini berakhir dengan wafat Yesus di kayu salib. Tetapi itu pun bukan yang terakhir. “Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati” (Rm 10:9).

Apa yang anda pikirkan?