Mengapa Yesus dihukum Mati ?

“Yesus berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia”, kata Kitab Suci (Kis 10:38). Namun Ia disalibkan sekitar umur 30 tahun sebagai seorang “pemberontak” dan “perampok”. Padahal, Yesus tidak pernah mencita-citakan kekuasaan politik (lih. Yoh 6:15; Mrk 8:29-30). Maka perlu ditanyakan bagaimana mungkin Yesus dihukum mati sebagai tahanan politik? Untuk itu perlu diperhatikan pengadilan Yesus sendiri dan apa yang dituduhkan terhadap Yesus.

Adakah pertemuan Mahkamah Agung merupakan sidang resmi atau tidak, kurang jelas. Dalam Mat 26:3-4 dikatakan, “Pada waktu itu berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di istana Imam Besar yang bernama Kayafas, dan mereka merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia” (lih. juga Mrk 14:1; Luk 22:2). Pertemuan yang terjadi beberapa waktu sebelum Yesus dihukum mati ini rupanya bersifat tidak resmi. Namun mengenai perundingan itu Yohanes (11:47) sudah berkata: “Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul”. Sebetulnya orang Farisi tidak berhak ikut Mahkamah Agung. Maka barangkali Yohanes tidak terlalu membedakan antara sidang resmi dan tidak resmi. Begitu juga sidang berikut yang disebut oleh Injil sinoptik (Mat 26:57, Mrk 14:53, Luk 22:66) belum tentu sidang resmi.

Rumus Mat 26:57, Mrk 14:55, “imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agung”, agak kabur; dan sidang resmi pada malam hari (lih. Mat 26:20, Mrk 14:17; Mat 27:11 Mrk 15:1) tidak sah. Maka Lukas (22:66) memindahkannya ke siang hari. Kemungkinan besar bahwa “sidang Mahkamah Agung” tidak lain daripada pertemuan beberapa orang (penting) saja di tempat Kayafas (menurut Yohanes, 18:13-24, “mula-mula kepada Hanas”, sesudah itu “Hanas mengirim Dia terbelenggu kepada Kayafas”). Sifat tidak resmi mungkin dapat disimpulkan juga dari jawaban orang Yahudi kepada Pilatus: “Kami tidak diperbolehkan membunuh orang” (Yoh 18:31). Maksudnya mungkin: Kami tidak diperbolehkan menyalibkan orang. Hukuman mati cara Yahudi berarti rajam. Mungkin juga, bahwa Pilatus mau mengontrol hukuman mati. Pendek kata, kemungkinan besar bahwa sidang orang Yahudi bersifat “sementara” saja.

Sama halnya dengan sidang di hadapan Pilatus. Terhadap seorang terdakwa yang bukan warga-negara Roma, Pilatus bisa bertindak menurut kebijakannya sendiri, tidak perlu banyak prosedur. Kalau Pilatus berpendapat bahwa tuduhan terhadap Yesus mempunyai dasar, ia dapat menjatuhkan hukuman. Dari papan di atas salib, jelaslah bahwa Yesus memang dihukum mati oleh Pilatus, dan bahwa alasan yang dibawakan bersifat politik “Raja orang Yahudi”.

Bagaimana Yesus dapat dihukum mati atas tuduhan politik, kalau Ia sendiri menolak segala kehormatan dan kegiatan politik? Kiranya jawaban terdapat dalam pertanyaan imam agung: “Apakah Engkau Mesias?” (Mat 26:63 dst.), artinya “raja Israel” (Mrk 15:30). Gelar “Mesias” mempunyai arti ganda, arti keagamaan dan arti politik. Hal itu ditunjukkan oleh jawaban Yesus kepada Pilatus dalam Injil Yohanes (18:34). Tetapi apa alasan imam agung bertanya kepada Yesus perihal Mesias, itu tidak jelas.

Sebagai suatu hipotesis, mungkin dapat diberikan keterangan yang berikut ini: Yesus mengusir orang dari kenisah (Mrk 11:15-17 dst.; lihat juga Yoh 2:13-17). Hal itu diketahui oleh Pilatus (yang mempunyai istana tepat di samping kenisah). Karena perayaan Paska, yang mengenangkan pembebasan Israel dari Mesir, adalah “hari kemerdekaan” orang Yahudi, maka tidak jarang terjadi unjuk rasa pada hari itu. Bisa jadi bahwa huru-hara di kenisah, yang disebabkan oleh kelompok orang Galilea itu, yakni Yesus dan para rasul-Nya, memberi kesan bahwa ada unjuk rasa atau bahkan pemberontakan. Waktu itu ada suatu persetujuan antara para penjajah dan orang Yahudi, bahwa orang Roma (yang najis dalam pandangan Yahudi) tidak akan menginjak tempat suci. Maka wewenang atas kenisah atau bait Allah telah diserahkan kepada imam agung. Oleh karena itu mungkin sekali bahwa Pilatus minta pertanggung-jawaban dari Kayafas atas huru-hara yang terjadi di kenisah. Kalau demikian, maka pertemuan Kayafas dan kawan-kawannya (Yoh 11:47-50; juga Mrk 11:18 dst.) dimaksudkan untuk membicarakan masalah ini. Mereka mengambil keputusan menyerahkan Yesus kepada Pilatus, sebab sudah lama “mereka berusaha menangkap Yesus, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak menganggap Dia nabi” (Mat 21:46 dst.). Sekarang ada kesempatan: Tentara Pilatus telah menangkap seorang pemberontak, yang namanya Barabas. Mereka minta (barangkali diam-diam) “supaya Barabas dibebaskan” (Mat 27:20 dst.), dan sebagai ganti Barabas mereka menyerahkan Yesus. Mungkin sekali bahwa tuduhan di atas salib semula dimaksudkan untuk Barabas, dan kemudian dikenakan kepada Yesus karena permainan orang Yahudi. Alasannya adalah pembersihan kenisah. Tuduhan-tuduhan yang diajukan terhadap Yesus serta pertanyaan imam agung sebenarnya berhubungan dengan perlawanan yang sudah lama ada antara Yesus dan para pemimpin Yahudi.

Akhirnya harus dikatakan bahwa Yesus menjadi kurban kebencian dan permusuhan para pemimpin agama Yahudi. Yesus disingkirkan atas nama hukum Allah. Pembunuhan terhadap Yesus adalah pembunuhan keagamaan. Mungkin alasan konkret bertindak melawan Yesus adalah pembersihan kenisah (lih. Mrk 11:28 dst.). Tetapi dasar yang sesungguhnya ialah pewartaan Yesus yang dianggap berbahaya bagi kedudukan dan kuasa para pemimpin agama Yahudi.

Baca juga : Mesias yang memimpin pertikaian bersenjata? atau dengan kasih, ketaatan, dan menyerahkan hidupnya