Memahami Doa Bapa Kami

Doa ini dimulai dengan seruan “Bapa kami yang ada di surga“. Para murid diajar mengarahkan diri dan berseru kepada Bapa mereka satu-satunya (Mat 23:9). Dengan menyebut Allah sebagai Bapa, Abba, Yesus mau menunjukkan adanya hubungan yang amat dekat, akrab, dan khas antara diri-Nya dan Allah. Sapaan seperti ini biasanya digunakan oleh seorang anak yang menaruh kepercayaan penuh kepada bapaknya. Hubungan yang khas itu disebabkan oleh Bapa yang telah mengaruniakan kepada Yesus pengertian sempurna akan diri-Nya (bdk. Mat 11:27). Pada umumnya, tidak ada orang yang berani menyapa Allah dengan cara itu. Ini masih dapat kita rasakan dalam pembukaan doa Bapa Kami dalam perayaan Ekaristi yang didahului dengan kata-kata sebagai berikut: 

Atas petunjuk Penyelamat kita … maka beranilah kita berkata“. Dengan mengajarkan doa ini kepada para murid, Yesus mengundang mereka masuk ke dalam hubungan dengan Allah yang sama, bebas dari rasa takut. Dengan menyapa Allah sebagai Bapa, para murid menyatakan keyakinan dan harapan mereka bahwa Bapa selalu memberikan perhatian penuh kepada anak-anak-Nya. Bahkan, boleh dikatakan bahwa Allah Bapa hidup bagi anak-anak-Nya. Ia mencintai mereka lebih dahulu.

Keyakinan ini ditegaskan lagi dalam keterangan “yang ada di surga“. Keterangan ini tidak mau menunjukkan tempat tinggal Allah, merupakan ungkapan dalam bahasa Semit yang dipakai untuk menegaskan bahwa Allah menguasai seluruh jagat raya (= di surga) dan sekaligus dekat dengan manusia, mengasihinya dengan cinta-Nya sebagai Bapa (Bapa kami). Dalam Injil Matius sering kali kita menemukan ungkapan “Bapa-Ku yang di surga” (mis. 7:21;10:32.33; 12:50) atau “Bapamu yang di surga” (mis. 5:16.45; 7:11; 18:14).

Perlu juga diperhatikan bahwa Allah disebut Bapa kami, bukan Bapaku. Allah bukan hanya Bapa sekelompok orang saja. Bahkan dikatakan bahwa Ia “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:45). Dengan demikian, Allah Bapa adalah satu-satunya dasar: yang dapat menjadi landasan persaudaraan yang sejati.

Sesudah seruan, doa dilanjutkan dengan doa-doa permohonan bagian pertama yang terdiri dari tiga permohonan. Yang pertama, “dimuliakanlah nama-Mu“. Secara harfiah bagian ini sebenarnya harus diterjemahkan “dikuduskanlah nama-Mu“. Dalam bahasa Kitab Suci, nama Allah sama dengan diri Allah sendiri, sejauh dinyatakan kepada manusia. Allah adalah Yang Mahakudus. Ia lain dan berada di atas segala sesuatu. Oleh karena itu, bagian doa ini tidak dapat diartikan bahwa manusia dengan cara apa pun akan atau dapat menambahkan sesuatu pada kekudusan Allah. Dengan berdoa demikian, orang beriman menyatakan imannya dan memohon agar Allah menyatakan kekudusan-Nya dan agar manusia mampu mengakui, memuliakan, dan menyediakan tempat tertinggi bagi-Nya dalam segala sesuatu. Keyakinan seperti ini tampak misalnya dalam Mzm 9:11, “Orang yang mengenal nama-Mu, percaya kepada-Mu” (bdk. Mzm 20:8), Itulah yang juga didoakan oleh Yesus, “Bapa muliakanlah nama-Mu” (Yoh 12:28).

Menurut Kitab Suci, sekurang-kurangnya ada dua cara menguduskan nama Allah. Para ahli Taurat dalam nasihat-nasihat mereka biasanya mengajar orang beriman supaya menguduskan Allah dengan menaati hukum-hukum-Nya. Dengan cara ini mereka mengakui bahwa Allah benar-benar berkuasa atas seluruh hidup mereka (Im 22:31-32.; Ul 32:51; Yes 8:13; 29:13). Sementara itu, para nabi dalam nubuat-nubuat mereka mengenai keselamatan yang akan datang – menyatakan bahwa Allah akan menguduskan diri-Nya dengan tampil sebagai Hakim yang adil dan sebagai Penyelamat di hadapan segala bangsa (Yeh 20:41; 28:22-25; 36:23; Yes 5:16).

Doa “dimuliakanlah nama-Mu” disusul dengan “datanglah Kerajaan-Mu“. Datangnya Kerajaan Allah, yang adalah kerajaan “kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm 14:17) tidak dapat dijamin oleh siapa pun kecuali oleh Allah sendiri. Campur tangan dan tindakan Allah yang menyelamatkan dalam rangka datangnya Kerajaan itulah yang dimohonkan dengan doa “dimuliakanlah nama-Mu”. Hanya Allah sendiri yang dapat memuliakan atau menguduskan nama-Nya, dalam kekuasaan dan keagungan-Nya, dalam keadilan dan rahmat-Nya. Pernyataan kemuliaan Allah dan kekudusan-Nya akhirnya akan dialami oleh semua orang. Dengan berdoa “datanglah kerajaan-Mu”, orang beriman mengungkapkan kerinduan hatinya agar Kerajaan yang sudah hadir dalam diri Yesus itu dinyatakan, dikenal, dan diterima oleh semua orang. Tidak hanya itu, tetapi juga agar Kerajaan Allah menjelma dalam wujud yang dapat dilihat dan dialami dalam kehidupan di dunia ini, Misalnya, wujud Kerajaan Allah akan semakin tampak juga dalam tata kehidupan bersama yang semakin bersaudara dan adil. Kelak pada akhir zaman, “Kerajaan Allah ini akan datang dengan kuasa” (Mrk 9:1).

Bagian pertama doa Bapa Kami diakhiri dengan permohonan “Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga”. Dalam doa Yesus di taman Getsemani, setelah melalui pergumulan batin yang amat hebat, Ia akhirnya berkata, ” … bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk 22:42). Doa ini tidak mengungkapkan sikap Yesus yang sudah tidak melihat kemungkinan lain kecuali menyerah. Yang diungkapkan dalam doa itu adalah harapan agar Allah bertindak sehingga rencana penyelamatan-Nya terlaksana secara sempurna, dan Yesus dengan bebas menerima peran apa pun yang harus Ia lakukan dalam pelaksanaan rencana penyelamatan Allah itu. Sikap dan harapan itulah yang juga diungkapkan dalam bagian doa Bapa Kami ini. Diungkapkan pula keyakinan bahwa yang dapat melakukan itu hanya Allah saja. Dengan demikian, bagian doa ini berhubungan dengan bagian-bagian sebelumnya, yaitu terlaksananya kehendak Allah untuk mendatangkan Kerajaan-Nya (bdk. Yes 44:28; 46:10-11; Ef 1:5.9).

Sementara itu, harus diingat bahwa kehendak Allah itu menyangkut manusia. Oleh karena itu, kehendak ini tidak akan terjadi tanpa penerimaan dan keterlibatan manusia yang semakin lama semakin bulat. Gambaran akhir keadaan seperti ini adalah kesesuaian sempurna antara kehendak manusia dengan kehendak Allah, yang dengan amat bagus dinyatakan oleh nabi Yeremia (31:31-33) dan Yehezkiel (36:27). Dalam sejarah yang masih berjalan ini, terjadinya kehendak Allah tampak dalam ketaatan dan pelaksanaan perintah-perintah Allah (bdk. Mat 5:17-20; 6:33; 7:21; 12:50).

Kehendak Allah itu diharapkan terjadi di bumi seperti di dalam surga. Surga dimengerti sebagai Kerajaan Allah yang sempurna, sedangkan bumi diharapkan menjadi cerminannya yang semakin terang. Tidak mustahil, bagian doa “di atas bumi seperti di dalam surga” tidak hanya berkaitan dengan “jadilah kehendak-Mu”, tetapi juga dengan bagian doa sebelumnya. Kalau demikian, sebenarnya kita berdoa semoga di dunia pun nama Allah dimuliakan, Kerajaan Allah ditegakkan, dan kehendak-Nya terjadi sebagaimana dalam surga.

Bagian kedua doa Bapa kami terdiri dari empat permohonan, diawali dengan “Berilah kami rezeki pada hari ini“. Ini adalah perumusan kembali teks doa yang terdapat dalam Injil Matius dan Lukas: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mat) dan “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya” (Luk). Dengan ini Yesus mengundang para murid agar hari demi hari memohon apa saja yang mereka perlukan, dengan keyakinan bahwa Allah menyelenggarakan hidup mereka sebagaimana dulu Ia telah menyelenggarakan kehidupan umat-Nya (bdk. Kel 16). Dengan doa ini manusia mengakui bahwa hidup seluruhnya tergantung pada Tuhan. Namun, tidak hanya itu. Makanan atau rezeki harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas. Makanan atau rezeki adalah lambang telah datangnya Kerajaan Allah, zaman keselamatan yang penuh kegembiraan, damai, pengampunan, dan hubungan harmonis dalam dan dengan Allah. Dalam arti ini pun doa Bapa Kami tetap berkaitan dengan hidup sehari-hari.

Selanjutnya “Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami“. Bagian doa ini pun terjemahan bebas dari teks yang semestinya berbunyi “Lepaskanlah kami dari utang kami … “. Dalam pengertian yang lazim pada zaman Yesus, utang adalah masalah yang besar dalam tata hukum maupun perdagangan. Utang dapat menyebabkan orang kehilangan kemerdekaannya (bdk. Mat 18:23-25). Kata ini dipakai untuk menggambarkan keadaan manusia di hadapan Allah: manusia adalah pengutang yang tidak dapat membebaskan diri dari utangnya. Dengan demikian, kata itu dengan amat baik menyatakan keadaan manusia yang berdosa. Kata ini tidak dipakai dalam terjemahan bahasa modern karena arti kata “utang” dalam bahasa modern cenderung sempit, sebatas lingkup ekonomi saja. Oleh karena itu, dipakai kata “kesalahan” yang dapat dengan lebih baik mengungkapkan keadaan manusia yang malang sebagai pendosa.

Dengan doa ini kita menyadari bahwa sebenarnya kita tergantung sepenuhnya pada Allah, tetapi setiap kali kita bertindak seolah-olah kita berkuasa sendiri atas segala-galanya. Atas dasar kesadaran itu kita memohon agar Allah membebaskan kita dari utang kita kepada-Nya. Ini adalah rahmat yang amat besar, karena kita tidak mampu membebaskan diri kita sendiri dari dosa-dosa kita.

Dalam doa ini Yesus secara mendasar menghubungkan kesalahan-kesalahan kita terhadap Allah dengan kesalahan-kesalahan kita terhadap sesama. Agar dapat menerima pengampunan dari Allah, kita dituntut saling mengampuni (bdk. Mat 5:7; 6:14-15; Mrk 11:25). Meskipun demikian, pengampunan yang kita berikan kepada sesama tidak boleh dipandang sebagai syarat atau membuat kita mempunyai hak atas pengampunan Allah. Pengampunan kepada sesama, pertama-tama, merupakan tanda ketulusan dan kesungguhan kita memohon ampun kepada Allah. Pengampunan Allah sendiri adalah rahmat yang diberikan atas dasar kasih dan kesetiaan-Nya (bdk. Yes 55:6-7; Dan 9:18-19).

Sesudah memohon pengampunan, para murid diajar memohon “Jangan masukkan kami dalam pencobaan“. Yang dimaksudkan dengan pencobaan bukanlah seperti cobaan yang diberikan oleh Allah kepada Abraham (Kej 22:1) atau umat-Nya (Kel 15:25; 16:4; 20:20; Ul 8:2), melainkan cobaan di mana Setan berusaha membinasakan orang-orang yang diserangnya (1Kor 7:5; 1Tes 3:5; 1Ptr 5:5-9; Why 2:10; bdk. Luk 22:31). Menurut Perjanjian Baru, Allah tidak pernah mencobai (bdk. Yak 1:13). Sementara itu diyakini sepenuhnya bahwa tidak ada apa pun, termasuk pencobaan atau kuasa Setan, yang dapat mengalahkan kuasa Allah. Atas dasar ini semua, dapat dikatakan bahwa para murid tidak meminta kepada Allah agar mereka tidak dicobai (bdk. Mat 26:41 dst.; 1Kor 10:13) melainkan agar Allah membebaskan mereka dari cobaan yang sedemikian rupa sehingga ada risiko mereka tidak dapat bertahan. Kalau dipertimbangkan ciri ke-Semit-annya, kalimat ini dapat diterjemahkan menjadi “bantulah, agar kami tidak masuk ke dalam pencobaan”. Kalau demikian, kesulitan yang berkaitan dengan Allah yang memasukkan orang ke dalam pencobaan, dihindari.

Doa Bapa Kami ditutup dengan permohonan terakhir, “Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat“. Yang dimaksudkan dengan “yang jahat” pertama-tama adalah kekuasaan jahat. Kekuasaan jahat itu sama dengan setan yang mencobai murid Yesus. Pencobaan seperti itu pernah dialami juga oleh Yesus sendiri (bdk. Mat 4:3; 1Tes 3:5). Dalam Injil dapat dilihat bahwa Yesus menggambarkan karya-Nya sebagai perjuangan memenangkan rencana Allah berhadapan dengan kekuatan satani. Pengusiran setan menjadi tanda bahwa Kerajaan Allah telah datang dan dengan demikian rencana Allah terlaksana, “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Mat 12:28; Luk 11:20). Oleh karena itu, permohonan supaya dibebaskan dari yang jahat pun harus ditempatkan dalam kerangka kedatangan Kerajaan Allah.

Apa yang anda pikirkan?