Masalah-Masalah Baru

Perkembangan sosial dan ekonomis serta kemajuan ilmu-ilmu (khususnya ilmu kedokteran) menimbulkan banyak pertanyaan baru perihal hidup. Misalnya sehubungan dengan soal aborsi (pengguguran), orang bertanya, kapan manusia mulai hidup? Berkaitan dengan transplantasi (pemindahan organ dari satu orang kepada orang yang lain) ditanyakan, kapan hidup manusia berakhir? Bertambahnya penduduk yang pesat membuat orang bertanya: bagaimana meneruskan hidup manusia kepada generasi penerus? Karena kerusakan lingkungan, orang mulai bertanya, bagaimana kita memelihara hidup? Sementara dokter-dokter dengan obat dan alat-alat canggih menyelamatkan orang dari kematian, orang lain bertanya, apakah hidup yang tergantung pada mesin itu masih mempunyai nilai dan dapat memberi rasa nikmat serta pantas disebut “manusiawi”? Jadi, apa yang tampaknya tidak perlu diragukan (yaitu bahwa hidup amat bernilai) mulai menjadi pertanyaan

Kita bangga, bahwa (hampir) semua bayi yang lahir dapat hidup terus; bahwa karena pertanian yang canggih semua penduduk, biarpun makin bertambah banyak, mendapat makan cukup. Sementara kecanggihan ilmu kedokteran serta makanan yang di-produksi oleh industri pertanian ternyata juga dapat mengubah hidup tubuh kita, kita sadar bahwa hidup yang kita terima ini “karunia” Allah. Akan tetapi, kita mengetahui pula bahwa hidup itu ternyata dapat kita pegang dalam tangan kita dan kita ubah dengan akal budi kita. “Yang dulu oleh manusia diharapkan dari kekuatan-kekuatan atas-duniawi, sekarang diusahakannya melalui kegiatannya sendiri” (GS 33). Maka yang baru adalah pertama-tama kesadaran, bahwa kita “membuat” hidup. Oleh karena itu, larangan “jangan membunuh!” mendapat arti yang baru, serta makin membutuhkan peneguhan dan pengarahan, sebab sekarang kita bertanggung jawab atas hidup yang ada di tangan kita. Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan atas generasi penerus yang akan hidup pada masa depan.

Hidup manusia tidak sama dengan proses kimia, dan pribadi manusia tidak sama dengan fungsi lapis otak luar. Namun hidup pribadi tidak dapat dipisahkan dari hidup biologis. Dengan tubuhnya dan melalui sel-sel dan organnya, manusia membangkitkan cita-cita hidup dan membangun persaudaraan; dalam tubuh, kita mengalami kegembiraan hidup dan merasakan penderitaannya. Maka hidup biologis pun harus dipelihara, sehingga masa hidup tidak menjadi hampa.

Usaha melindungi hidup serta meningkatkan mutunya bagi semua, sering bermuara dalam konflik: misalnya konflik antara usaha meringankan rasa sakit dan penderitaan di satu pihak dan pengaruh obat yang memperpendek hidup di pihak lain; konflik antara membela keadilan dan kedaulatan bangsa dan memelihara hidup dan damai; konflik antara hidup serta kesejahteraan ibu dan nasib bayi di dalam kandungan; konflik antara keinginan untuk mempunyai anak sendiri dan hormat terhadap hidup yang tidak boleh direkayasa.

Sering kali konflik semacam itu diselesaikan dengan mempertimbangkan aneka kepentingan: jika orang terpaksa memilih, ia harus memilih kepentingan dan nilai yang paling tinggi, yakni nilai yang paling dasariah bagi hidup manusia dan paling mendesak! Namun dalam praktik makin jarang konflik menuntut pilihan seperti itu.

Berhadapan dengan situasi konflik ini ada tiga pandangan di kalangan Kristiani: pandangan yang pesimis, yang optimis, dan yang setengah-setengah. Yang pesimis berkata bahwa situasi konflik merupakan akibat dosa, maka manusia terpaksa memilih dosa: kanan salah, kiri salah, tidak ada jalan tengah dan manusia harus hidup terus. Yang “setengah-setengah” dapat disebut “pendapat bebas-mutlak”: karena toh tidak tahu apa yang harus dibuat, manusia bebas berbuat apa saja. Pandangan setengah-setengah itu menyamakan apa yang tidak salah dengan apa yang baik. Pandangan optimis adalah pandangan iman yang berani mencari pemecahan untuk setiap masalah yang muncul dengan berpedoman pada sabda Allah sebagaimana diikuti dalam jemaat Allah. Pandangan ini disebut “optimis”, bukan karena ia mengetahui jawaban atas segala pertanyaan, tetapi karena yakin bahwa iman adalah pegangan dalam usaha mencari dan bertahan dalam situasi konflik yang serba tidak jelas.