Maria Perawan

Maria mengajukan keberatan karena ia “belum bersuami”. Malaikat menjawab, “Roh Kudus akan turun atasmu”. Ini tidak berarti bahwa Roh Kudus akan menjadi suami Maria, tetapi bahwa kelahiran Yesus akan menjadi karya Allah. Lalu bagaimana dengan Maria yang tidak bersuami? Menurut syahadat, Yesus “dilahirkan oleh Perawan Maria”. Dasar pernyataan ini adalah kisah Lukas tersebut di atas, sedangkan penjelasan lebih lanjut dapat dilihat dalam Mat 1:18-25. Tulisan Perjanjian Baru yang lain tidak pernah berbicara mengenai hal itu. Dalam Rm 1:3-4 memang ditegaskan bahwa Yesus “diperanakkan dari keturunan Daud” (walaupun itu “menurut daging”), sedang sebutan “Anak Allah” juga dihubungkan dengan “Roh kekudusan”. Tetapi yang terakhir itu terang menyangkut “kebangkitan-Nya dari antara orang mati”.

Rupa-rupanya dalam Gereja perdana berkembanglah kesadaran, bahwa apa yang dinyatakan dalam kebangkitan sudah ada sejak kelahiran. Semua itu mengungkapkan iman Gereja akan kekhasan Yesus dalam hubungan-Nya dengan Allah. Mungkin juga kisah mengenai kelahiran dari seorang perawan mempunyai maksud dan tujuan yang sama. Dalam hal ini tidak jelas, apakah keperawanan Maria hanya dimaksudkan untuk mengungkapkan keluhuran Yesus sebagai Anak Allah atau sungguh mau dinyatakan sebagai fakta historis. Ternyata Luk 2:48 dan Mat 13:55 berbicara mengenai Yusuf sebagai ayah Yesus (bdk. Luk 2:41.43; Yoh 6;42; juga 3:23 dan Mat 1: 16), namun keperawanan Maria seharusnya diartikan secara teologis. Di sini jelas bahwa Yusuf tidak dapat menjadi ayah Yesus, karena – hanya Allahlah ayah Yesus. Kata “ayah” tidak dapat dipakai dengan arti yang sama untuk Yusuf dan untuk Allah. Kalau Yusuf dikatakan ayah Yesus, itu mempunyai arti manusiawi melulu. Sebaliknya dengan menyatakan Allah sebagai Bapa Yesus, diungkapkan misteri kepribadian Yesus. Keperawanan Maria, baik dalam arti historis, maupun teologis, menyatakan bahwa Yesus bukan manusia biasa.