Manusia dan Ekologi

Kesadaran manusia sebagai “gambar Allah”, “wakil Allah”, “pusat dunia” ini dapat menyeret manusia menjadi pengisap alam semesta, penguasa sewenang-wenang terhadap ciptaan lain. Kesadaran itu seharusnya mengundang manusia ikut serta mengatur, memelihara, menciptakan kembali dunianya. Manusia hanyalah bagian dari seluruh ciptaan dan hidupnya disangga oleh alam semesta. Maka dari itu perlulah “gambar Allah” tidak hanya dimengerti secara personal, melainkan juga sosial dan ekologis, dalam hubungan dan tanggung jawab terhadap kehidupan bersama dan kehidupan alam semesta. Dengan demikian manusia menjadi pelayan dalam keterarahan dunia kepada Allah. Tetapi ternyata, khususnya dalam abad ke-20 ini, manusia tidak menjalankan tugas ini dengan baik. “Keseimbangan lingkungan yang halus, dijungkirbalikkan dengan menghancurkan secara membabi buta hidup binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan atau dengan menghabiskan sumber-sumber alam secara tak bertanggungjawab,” kata Paus (Amanat bagi Hari Perdamaian Dunia, 8 Desember 1989).

“Sumber-sumber alam seperti minyak, logam, mineral, dihabiskan tanpa memikirkan masa depan, Produksi barang-barang kimia, seperti plastik, tetapi juga pestisida, meracuni alam dan memenuhi dunia dengan sampah yang bertimbun-timbun. Pencemaran oleh industri dan pupuk buatan merusak tanah, air dan juga udara. Segala macam obat untuk manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, mempunyai aneka macam akibat-samping yang tak terkendalikan. Energi atom dan terutama senjata-senjata nuklir merupakan ancaman terus-menerus bagi kehidupan dunia. Banyak tindakan manusia mengubah struktur alam, tidak hanya di tempat yang bersangkutan tetapi di seluruh dunia, bahkan sering tanpa diketahui orang. Seluruh alam semesta, sampai lapisan ozon yang meliputi dunia, telah terkena pencemaran lingkungan. Malahan, kata Paus Yohanes Paulus II, “tidak cukup menyebut hanya kerugian besar yang sudah dibuat terhadap lingkungan alam. Kita harus memberi perhatian, dan malah lebih banyak, kepada apa yang setiap hari harus diderita oleh orang-orang karena segala macam pencemaran, makanan buatan atau yang berbahaya, lalu-lintas yang tak terkendalikan yang membuat udara tidak sehat lagi” (Peringatan Rerum Nooarum, 15 Mei 1991).

Dengan tegas Paus Yohanes Paulus II meneruskan,

“Manusia, yang menemukan kemampuannya untuk mengubah dan dalam arti tertentu menciptakan dunia dengan usahanya sendiri, lupa bahwa semua itu berdasarkan karya Allah yang sebelumnya secara dasariah menyediakan semua hal yang ada, Manusia mengira bahwa ia dapat memanfaatkan dunia semaunya, dengan menundukkannya tanpa batas pada kehendaknya sendiri; seolah-olah tidak ada syarat-syarat tertentu dan tujuan yang oleh Tuhan sendiri diletakkan di dalamnya, dan yang memang dapat dikembangkan oleh manusia, tetapi tidak boleh disangkal. Manusia tidak mau memainkan peranannya dengan bekerja sama dengan Allah, tetapi mau menduduki tempat Allah sendiri dan dengan demikian malah menimbulkan semacam pemberontakan pada pihak alam, yang lebih dijajah olehnya daripada diatur” (Centesimus Annus, 2 Mei 1991).

Tentu saja bukan hanya Paus Yohanes Paulus II yang melihat masalah ini. Semua orang sadar akan bahaya yang mengancam umat manusia dewasa ini. Disadari pula secara umum, bahwa manusia bekerja dengan tidak bertanggungjawab. Tetapi juga hampir seluruh dunia tidak mengetahui bagaimana dapat keluar dari ancaman ini. “Masalah lingkungan sekarang menjadi begitu luas, sehingga tidak hanya dituntut perhatian kita yang penuh, tetapi juga keterlibatan total, baik pada taraf .ilmu maupun dalam keputusan-keputusan politik. Penemuan kembali keseimbangan dalam lingkungan hanya dapat terjadi kalau mau kembali kepada pemahaman yang benar mengenai kuasa manusia atas alam” (Sambutan Paus Yohanes Paulus II pada Kongres Internasional mengenai Ekologi, 25 Agustus 1990). Itu berarti “prioritas etika atas teknologi, prioritas pribadi manusia atas benda-benda, dan keunggulan roh atas materi’ (RR 16), Lalu, ditarik kesimpulan:

” … tidak mungkin memakai seenaknya aneka macam makhluk, entah hidup entah tidak – binatang, tumbuh-tumbuhan, bahan-bahan mentah – menurut kehendaknya sendiri, sesuai dengan kebutuhan ekonomis sendiri, Sebaliknya, harus diperhitungkan kekhususan masing-masing dan hubungan timbal-balik dalam suatu sistem tersusun, yang disebut ‘kosmos’.

Kedua, perlu disadari, bahwa sumber-sumber alam terbatas; dan ada yang tidak dapat diperbaharui lagi. Kalau dipakai seolah-olah tidak dapat habis, dengan semacam penguasaan mutlak, maka akan ada bahaya sungguh-sungguh bahwa tidak lagi tersedia, bukan hanya untuk angkatan ini, tetapi terutama untuk angkatan-angkatan yang akan datang.

Ketiga, dan ini menyangkut secara langsung akibat-akibat perkembangan mutu kehidupan dalam daerah-daerah industri: semua orang mengetahui bahwa akibat langsung atau tidak langsung dari industri, yang semakin kerap terjadi, ialah pencemaran lingkungan, dengan konsekuensi berat untuk kesehatan rakyat” (SRS 34).

Karena proses penyadaran ini harus terjadi pada taraf mondial atau global, maka di sini terdapat panggilan khusus umat beriman, yang mengakui bahwa “penguasaan yang diberikan kepada manusia oleh Sang Pencipta bukanlah suatu kuasa mutlak, dan juga tidak dapat dikatakan bahwa manusia bebas menggunakan dan menyalahgunakan atau memakai barang-barang sekehendak hatinya sendiri. Sebab jelas sekali bahwa perkembangan dan perencanaannya, serta cara memakai sumber-sumber, tidak dapat terjadi tanpa mengindahkan tuntutan moral” (SRS 34). Mewartakan dan memperlihatkan dalam praktik hidup tuntutan ini, merupakan tugas panggilan seluruh umat beriman. Untuk itu perlu juga kesatuan dan kerja sama semua orang yang taat kepada Sang Pencipta. Sebab kalau terisolasi di tempatnya sendiri manusia tidak atau kurang melihat akibat-akibat perbuatannya. Apa yang secara spontan diketahui dan diperhatikan para petani di ladang mereka sendiri, yakni bahwa tanah tidak boleh dibebani melampaui kemampuannya, tidak lagi dilihat dan disadari oleh mereka yang lahir dan dibesarkan di pusat-pusat industri atau di kota-kota besar. Globalisasi tidak hanya menyangkut masalah lingkungan, tetapi juga hubungan antara manusia. Orang bukan lagi penghuni sebuah desa atau kota saja. Sebagai penghuni dunia ia mempunyai tugas dan kewajiban terhadap dunia seluruhnya. Segala sesuatu memang diciptakan untuk manusia, tetapi tidak untuk manusia individual saja. Ia tidak lepas dari dunia sekitarnya, melainkan dalam kesatuan organik dunia dengan manusia.