Makna Kematian Yesus

Dalam 1Kor 15:3-5 terdapat suatu rumusan iman Kristen yang singkat sekali, yang mungkin oleh Paulus diambil alih dari katekese umat. Sebagai ringkasan Injil, ia menyebutkan:

bahwa Kristus mati karena dosa-dosa kita,
sesuai dengan kitab-kitab suci,
bahwa Ia dimakamkan,
bahwa Ia dibangkitkan pada hari yang ketiga,
sesuai dengan kitab-kitab suci,

bahwa Ia tampak kepada Kefas,
lalu kepada Kedua belas (rasul),
lalu tampak kepada lima ratus saudara lebih (kebanyakan dari mereka
masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa telah meninggal),
lalu tampak kepada Yakobus,
lalu kepada semua rasul,
terakhir dari semua Ia juga tampak kepada saya, bagaikan kepada anak
yang lahir sebelum waktunya.

Pokok Injil kecil ini adalah empat peristiwa besar, yaitu kematian, pemakaman, kebangkitan, dan penampakan. Yang mengesankan adalah bahwa hanya mengenai wafat dan kebangkitan dikatakan “sesuai dengan Kitab-kitab Suci”. Paulus tidak berkata “sesuai dengan Kitab Suci” lalu mengutip ayat tertentu. Dengan “Kitab-kitab Suci” dimaksudkan seluruh Kitab Suci. Maka “sesuai dengan Kitab-kitab Suci” sama dengan sesuai dengan karya atau rencana keselamatan Allah. Khususnya mengenai wafat dan kebangkitan Kristus dikatakan bahwa di dalamnya karya keselamatan Allah terlaksana. Pemakaman dan penampakan ialah tanda bagi manusia: Pemakaman tanda kematian; Pilatus baru memberi izin pemakaman, ketika terbukti bahwa Yesus sudah mati. Penampakan tanda kebangkitan; maka satu demi satu disebutkan orang-orang yang mengalami penampakan. Masih disebut satu keterangan lain lagi mengenai wafat Yesus “karena dosa-dosa kita”, Dalam 1Tes 2:15 dikatakan, bahwa “orang Yahudi membunuh Tuhan Yesus”. Dari kisah Injil kelihatan bahwa itu memang tepat. Dilihat dari sudut sejarah, wafat Yesus harus disebut pembunuhan. Tetapi dilihat dari sudut karya Allah, artinya dengan pandangan iman, Paulus mengartikannya sebagai wafat “karena dosa-dosa kita” (lihat Gal 1:4; Rm 8:3; juga 2Kor 5:21) atau lebih biasa: “karena” atau “untuk” kita (1Tes 5:10; lihat Rm 5:6.8; 8:32; 14:15; dst.). Biasanya dikatakan bahwa dengan kata-kata itu dimaksudkan wafat Kristus sebagai kurban untuk melunasi dosa-dosa kita. Tetapi Paulus tidak pernah memakai kata “kurban” untuk kematian Yesus. Hanya surat Ibrani (9:23-10:18) berbicara mengenai kurban Kristus, tetapi dalam perbandingan dengan kurban-kurban Perjanjian Lama; jadi hanya dalam arti kiasan.

Mrk 10:45 mengatakan, “Anak Manusia datang untuk memberikan nyawa-Nya (sebagai) tebusan bagi banyak orang”. Ini juga bahasa kiasan. Sebab “(uang) tebusan” adalah istilah yang sebetulnya berasal dari dunia pegadaian. Di dalam Perjanjian Lama juga dipakai sebagai uang pembebasan bagi seorang budak. Ada hukum di Israel, bahwa orang selalu wajib membebaskan – dengan membayar “uang tebusan” – saudaranya yang jatuh dalam perbudakan (lih. Im 25:47-55). Secara kiasan juga Allah sendiri disebut “penebus”, karena membebaskan Israel dari perbudakan Mesir. Kiasan itu kemudian juga dipakai untuk menunjuk pada pembebasan dari perbudakan dosa. Di sini perlu diperhatikan bahwa ini hanya kiasan, sebab oleh dosanya manusia menjadi budak setan. Kalau Kristus disebut “uang tebusan”, ini tidak berarti bahwa Ia diserahkan kepada setan. Dengan istilah itu diungkapkan bahwa manusia dibebaskan dari kuasa setan oleh Kristus. Untuk itu kadang-kadang juga dipakai kata “membeli” (mis. 1Kor 6:20; 7:23; dst.) atau “membebaskan” (Rm 6:18.22; dst.), “pengampunan” (Ef 1:7; Kol 1:14; dst.),

Masih ada dua kata kiasan lain yang sering dipakai, yakni “mendamaikan” dan “membenarkan”. Kata mendamaikan tentu mau menyatakan bahwa hubungan dengan Allah dipulihkan kembali, Tetapi anehnya, walaupun manusia yang merusak hubungan itu, yang mendamaikan adalah Allah sendiri (lih. Rm 5:10; 2Kor 5:18.19.20). “Membenarkan” sebetulnya berarti “menyatakan benar”, khususnya dalam pengadilan. Maksudnya, orang yang benar harus dinyatakan benar oleh hakim, dan yang salah harus dinyatakan salah. Tetapi Allah “membenarkan orang durhaka” (mis. Rm 4:5). Maka semua istilah itu hanya secara simbolis menyatakan bahwa manusia berdosa diterima oleh Allah. Bagaimana penebusan atau perdamaian atau pembenaran itu terjadi, tidak dijelaskan oleh istilah-istilah itu.

Yang dimaksud Paulus dengan “karena kita” atau “karena dosa-dosa kita”, kiranya dapat menjadi jelas, kalau 1Kor 15:5 dibandingkan dengan Rm 8:3.

1Kor 15:5

Rm 8:3

Kristus telah mati karena dosa-dosa kita. Allah mengutus Anak-Nya dalam daging karena dosa.

Dalam Rm 8:3 “karena dosa” tidak dihubungkan dengan wafat Kristus, tetapi dengan kedatangan-Nya di dunia, dengan kelahiran-Nya. Seperti yang dikatakan dalam syahadat panjang: “Ia turun dari surga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita”. Dengan cara yang lain lagi hal itu dirumuskan Paulus dalam Flp 2:6-8:

“Kristus Yesus,
walaupun serupa dengan Allah,
tak menganggap perlu tampil sebagai Allah,
tetapi menghampakan diri, mengambil rupa seorang hamba;
dalam kesamaan-Nya dengan manusia
– dan secara lahiriah kelihatan seperti manusia –
Ia merendahkan diri, menjadi taat sampai mati, mati di salib.”

Kristus, yang diakui “Allah benar dari Allah benar”, di dunia ini tampil bukan sebagai Allah melainkan sebagai manusia. Dalam segala hal Ia “sama dengan kita, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15; lih. 2:14). Bahkan dalam 2Kor 5:21 Paulus sampai berkata:

“Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi dosa karena kita”. Dengan mengutus Anak-Nya dalam daging, “yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa” (Rm 8:3), Allah membuat Kristus mengalami nasib orang berdosa. Buktinya adalah kematian-Nya. “Sebab upah dosa ialah maut” (Rm 6:23). Bahwa Kristus sungguh sama dengan kita, benar-benar senasib dengan manusia-manusia yang lain, kelihatan dari wafat-Nya, Karena dosa datanglah maut dan “maut telah menjalar kepada semua orang” (Rm 5:12). Kristus pun, karena menjadi manusia, juga dikenai maut.

Perlu diperhatikan bahwa dalam Kitab Suci, khususnya dalam tulisan Paulus, “mati” tidak sama dengan “meninggal dunia”. “Mati” berarti meninggal dunia dalam kegelapan, dan itu akibat dosa. Seharusnya meninggal dunia sama dengan “beralih dari dunia ini kepada Bapa”, seperti yang dikatakan Yohanes mengenai Yesus (Yoh 13:1). Tetapi manusia berdosa sudah tidak mengetahui di mana Bapa. Maka meninggal dunia berarti masuk ke dalam kegelapan penuh kebingungan. Keadaan inilah yang dalam Kitab Suci ditunjuk dengan istilah “mati”.

Kristus mengalami maut, karena senasib dengan manusia berdosa. Dalam arti inilah Ia wafat “karena dosa-dosa kita”, yakni karena senasib dengan orang-orang yang harus mati “karena dosa-dosa”. Kristus mau mengalami nasib itu, karena Ia “mengasihi aku dan menyerahkan diri untuk aku”, sebagaimana dikatakan oleh Paulus (Gal 2:20). Maka dikatakan bahwa “Tuhan Yesus Kristus telah menyerahkan diri karena dosa-dosa kita, guna melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” (Gal 1:4). Sebab, kalau Kristus senasib dengan kita dalam kematian, maka oleh karena itu kita menjadi sehidup dengan Dia dalam kebangkitan. Solidaritas Kristus dengan kita memang mulai dengan kesatuan Kristus dengan kita dalam kematian, tetapi tertuju kepada kesatuan kita dengan Kristus dalam kehidupan. Sebab, walaupun “mengambil rupa seorang hamba, dan secara lahiriah kelihatan seperti manusia” yang lain (Flp 2:7-8), namun Ia “tidak mengenal dosa” (2Kor 5:21). Kesamaan-Nya dengan manusia tidak pernah mengganggu hubungan-Nya yang serba istimewa dengan Allah. Memang di salib Ia tidak merasakan kesatuan itu, sampai berteriak: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk 15:34). Namun benarlah Mzm 16:8 yang diterapkan pada-Nya: “Aku senantiasa memandang kepada Tuhan” (Kis 2:25). Karena kesatuan Yesus dengan Allah inilah maka “tak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut” (Kis 2:24): Allah membangkitkan Dia, dan bersama Dia juga menerima mereka yang sudah menjadi saudara-Nya. Karena Kristus telah menjadi saudara kita dalam kematian, kita pun diterima Allah dalam kebangkitan. “Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Kor 15:20; lih. Rm 8:29).

Ini bukan hanya ajaran Kitab Suci. Dalam abad-abad berikut ajaran mengenai penebusan kurang lebih sama. Ada Bapa Gereja yang tetap memakai “uang tebusan” secara kiasan (sering dengan mengejek setan), tetapi ada juga yang berkeberatan besar terhadap gagasan bahwa Kristus “dibayar” kepada setan. Jarang dikatakan bahwa Kristus memberi silih untuk dosa-dosa kita. Gagasan itu baru dikemukakan mulai abad ke-11, khususnya oleh St. Anselmus dari Canterbury (1033-1109). St. Anselmus menulis buku dengan judul “Mengapa Allah menjadi manusia?”, Ia menjawab bahwa Anak Allah menjadi manusia untuk memberi silih bagi dosa manusia, sebab dosa adalah penghinaan, pelecehan terhadap Allah. Penghinaan itu tak terhingga, karena yang dihina itu Allah. Maka untuk memulihkan kehormatan Allah, perlu silih yang tak terhingga pula. Manusia tidak mampu memberikan silih semacam itu. Maka “Allah menjadi manusia”, supaya silih yang diberikan dengan kematian-Nya tanpa salah sungguh tak terhingga nilainya. Orang masih dapat bertanya: mengapa harus diberi silih kalau Allah tidak menuntutnya (Ia tidak merasa direndahkan oleh penghinaan kita), Tujuannya, supaya dengan demikian tata penciptaan “beres” lagi. Kalau manusia tidak membereskan hubungannya dengan Tuhan, ia tidak dapat merasa “utuh” dan “beres”, Pemberian silih merupakan kebutuhan manusia, bukan tuntutan Allah. Baru di kemudian hari, khususnya mulai abad ke-15, ada orang yang berkata, bahwa Tuhan menuntut silih itu, sebab demi tata keadilan dosa harus dihukum, dan dikatakan (terutama dalam ajaran Protestan) bahwa Kristus dihukum sebagai ganti kita. Ini bukan ajaran Anselmus, dan sama sekali bukan ajaran Kitab Suci.

Kekurangan ajaran Anselmus, lebih-lebih teologi yang dikembangkan kemudian, ialah bahwa ia hanya berbicara mengenai wafat Yesus, bukan mengenai penjelmaan menjadi manusia atau mengenai kebangkitan-Nya. Dengan demikian wafat Kristus tidak lagi dilihat sebagai solidaritas Kristus dengan manusia, melainkan sebagai korban yang diberikan kepada Allah. Allah yang “kejam” dilawankan dengan Yesus yang penuh kasih. Padahal Paulus berkata bahwa “Allah telah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8). Dalam ajaran Anselmus sendiri Allah tidak menuntut kematian Yesus. Yesus sendiri menyerahkan diri sepenuhnya kepada Bapa sebagai tanda taat-hormat.