Makna Kebangkitan

Baca juga: Arti dari Kebangkitan

Allah tidak hanya mewahyukan bahwa Yesus hidup. Hidup Kristus yang mulia mempunyai arti keselamatan bagi manusia. Itulah isi pokok pewahyuan Allah dan iman para murid. Paulus berkata bahwa Yesus “oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati dinyatakan Anak Allah yang berkuasa” (Rm 1:4). Dalam khotbah Petrus pada hari Pentekosta tidak dipakai gelar “Anak Allah”, tetapi “Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36). Yang dimaksud kurang lebih sama: Dengan kebangkitan, Allah menyatakan “dukungan”-Nya terhadap Yesus. Dengan kebangkitan menjadi jelas, bahwa Yesus sungguh diutus oleh Allah.

Namun demikian, yang lebih penting ialah bahwa dengan kebangkitan menjadi jelaslah bahwa Yesus diterima oleh Allah. Padahal, wafat Yesus di kayu salib memberi kesan bahwa Yesus ditolak oleh Allah. Kebangkitan tidak hanya mengubah pandangan para murid terhadap diri Yesus sendiri, melainkan juga terhadap wafat-Nya. Bagi orang Yahudi segala kemalangan di dunia ini hukuman untuk dosa (bdk. Yoh 9:1-2), apalagi kematian. Dengan kebangkitan-Nya menjadi jelas bahwa Yesus bukan pendosa. Jadi, wafat-Nya juga bukan hukuman untuk dosa. Bahkan menjadi pertanyaan mengapa Yesus harus mati, kalau ternyata Ia tidak mempunyai dosa (sebagaimana kelihatan dari kebangkitan)? Dan dari pertanyaan ini timbul kesadaran bahwa Yesus memang tidak mati karena dosa-Nya sendiri, tetapi “karena dosa-dosa kita”.

Dasar wafat Kristus adalah solidaritas dengan orang berdosa. Sekarang prinsip solidaritas itu dapat dibalik. Kalau Kristus senasib dengan kita sampai pada kematian, maka kita tetap bersatu dengan Kristus, juga dalam kebangkitan. Karena Kristus sudah “telanjur” bersatu dengan kita, maka dengan menarik Kristus, Allah menarik kita semua bersama Kristus. Keyakinan itu dirumuskan dengan mengatakan bahwa “Kristus dibangkitkan dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal” (1Kor 15:20). Jadi, “Kristus sebagai buah sulung , sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya” (ay. 23). Karena Kristus senasib dengan umat manusia, maka yang diterima oleh Allah bukan hanya Kristus, melainkan semua manusia bersama dengan Dia. ”Yesus diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan demi pembenaran kita” (Rm 4:25). Kebangkitan itu inti pokok keselamatan.

Sebenarnya kita tidak hanya diselamatkan oleh wafat Kristus, melainkan juga oleh kebangkitan-Nya. Atau lebih tepat dikatakan, kita diselamatkan oleh kedua-duanya. Dalam kematian menjadi jelas bahwa Kristus sungguh satu dari kita; dan oleh karena itu kita yakin dalam iman, bahwa kita juga boleh mengambil bagian dalam kebangkitan-Nya. “Oleh karena kamu Ia menjadi miskin,” kata Paulus, “supaya kamu menjadi kaya oleh kemiskinan-Nya” (2Kor 8:9). Yesus tidak hanya wafat “untuk kita”, Ia juga dibangkitkan “untuk kita” (2Kor 5: 15). Maka berulang kali dikatakan, bahwa “Allah yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya” (1Kor 6:14; lih. 2Kor 4:14; Rm 8:11). “Jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa Allah akan – demi Yesus – membawa mereka yang telah meninggal, bersama-sama dengan Dia” (1Tess 4:14). “Kristus disalibkan oleh karena kelemahan (kita), namun Ia hidup karena kuasa Allah. Begitu pula kami adalah lemah dalam Dia (dan mati bersama dengan Dia), tetapi kami akan hidup bersama dengan Dia karena Allah” (2Kor 13:4).

Kebangkitan Kristus tidak hanya merupakan dasar dan awal iman Kristen. Bagi Gereja sekarang Paskah adalah juga perayaan yang paling besar. Berbeda dari perayaan Natal, liturgi Paskah tidak hanya merupakan pengenangan akan kebangkitan Kristus, karena “peristiwa” kebangkitan sebetulnya pengalaman para murid. Selain itu, kebangkitan Kristus sendiri tidak termasuk sejarah manusia, maka juga tidak dapat dikenangkan. Memang pada hari Paskah dirayakan kemuliaan Kristus yang dilambangkan dengan lilin Paskah, yang dinyalakan dengan api baru (lambang kebaruan hidup). Dikenangkan juga peristiwa penampakan, khususnya kepada para wanita, sebagaimana diceritakan dalam Injil.

Dalam kisah Injil yang paling ditonjolkan adalah makam kosong. Wanita-wanita menemukan makam “terbuka”, dan oleh malaikat diterangkan mengapa demikian. Makam kosong sendiri belum menjelaskan bahwa Yesus bangkit. Oleh karena itu penemuan makam kosong juga tidak boleh dipandang sebagai dasar dan awal iman akan kebangkitan. Sebaliknya, dari Mrk 16:6 kelihatan bahwa kekosongan makam meneguhkan iman akan kebangkitan: “Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia”. Atas dasar itu, boleh disimpulkan bahwa iman akan kebangkitan tidak mulai dengan penemuan makam yang kosong, melainkan dengan penampakan. Bahkan harus dikatakan bahwa makam kosong sebetulnya tidak memberi keterangan baru mengenai kebangkitan Yesus (menurut Mat 28:11-15 malah membingungkan sementara orang). Barangkali harus dikatakan bahwa dengan kata-kata malaikat sebenarnya dirumuskan iman Gereja Perdana sendiri akan kebangkitan. Namun seandainya makam itu tidak kosong (sebagaimana pernah dikatakan orang), sulit dapat dipahami bagaimana para murid dapat tetap mempertahankan iman mereka akan kebangkitan Kristus.

Yang terpenting dalam liturgi Paskah adalah liturgi Pembaptisan, dengan pemberkatan air dan pembaruan janji baptis karena, menurut Paulus, pembaptisan berarti partisipasi kita dalam misteri Paskah: “Tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:3-4). Pembaptisan adalah ungkapan dan pengakuan iman kita akan Kristus yang bangkit, maka pembaptisan itulah yang merupakan pusat dan pokok perayaan Paskah dan disusul perayaan syukur (Ekaristi) atas karya keselamatan Allah itu.

Perayaan syukur itu dipersiapkan dengan liturgi sabda yang cukup panjang, sebab sebelum bersyukur mau diingat kembali seluruh sejarah karya keselamatan Tuhan. Dimulai dengan kisah penciptaan, sebagai awal sejarah Allah dengan manusia. Kemudian dibacakan kisah Abraham yang disuruh mengurbankan Ishak, anaknya, lambang Kristus yang diserahkan oleh Bapa yang mahakasih. Menyusul kisah pembebasan Israel dari perbudakan Mesir. Peristiwa itu oleh bangsa Yahudi dikenangkan setiap tahun dengan sebuah pesta besar, yang diberi nama “Paskah”. Maka jelaslah bahwa pembebasan Israel dari perbudakan oleh Gereja dilihat sebagai lambang pembebasan umat manusia dari perbudakan setan. Hal itu selanjutnya juga dijelaskan dengan bacaan-bacaan dari nabi Yesaya dan nabi-nabi yang lain. Perayaan Paskah umat Israel tidak hanya menjadi titik-awal perayaan orang Kristen, tetapi juga menjelaskan makna perayaan kebangkitan Kristus. Yang dirayakan bukanlah pertama-tama kemuliaan dan peninggian Kristus, melainkan pembebasan kita. Seperti dinyanyikan dalam-madah Paskah: “Pada malam ini kegelapan dosa dihalau oleh cahaya tugu api. Pada malam ini umat yang mengimani Kristus, Kau bebaskan dari kejahatan dunia dan kegelapan dosa.” Paskah merupakan perayaan karya keselamatan, yang dinyatakan terutama dengan lilin Paskah dan sakramen Baptis.