Liturgi Ekaristi Gereja

Dari Kisah para Rasul (2:42.46; 20:7.11) diketahui bahwa jemaat perdana dengan rajin merayakan Perjamuan Tuhan. Dari kesaksian Paulus (1Kor 11:17-34) dapat ditarik kesimpulan, bahwa mereka merayakannya serupa dengan Perjamuan Terakhir, artinya menurut adat-kebiasaan orang Yahudi. Hal itu tidak mengherankan, karena murid-murid yang pertama kebanyakan berasal dari kalangan Yahudi. Namun dari berita Paulus mungkin kelihatan bahwa perayaan bersama dengan orang lain (yang belum Kristiani) dapat menimbulkan kesulitan.

Bagaimanapun juga, sekitar tahun 200 (barangkali sudah sebelumnya), dalam kerangka perayaan Ekaristi sudah tidak lagi diadakan perjamuan sungguh (artinya, makan besar). Semua terbatas pada doa saja, yakni doa sebelum dan doa sesudah makan. Karena sudah tidak ada makan lagi, maka kedua doa itu tentu menjadi satu. Doa pendek sebelum makan diintegrasikan dalam doa yang disebut birkat ha-mazon menjadi Doa Syukur Agung seperti yang dikenal sampai sekarang.