Lalu siapa yang diselamatkan?

Kita telah berargumen menjawab pertanyaan “Siapa yang menyelamatkan?”, dan jawabannya adalah hanya Kristus sang Penyelamat. Kita juga telah berargumen bahwa jawaban “hanya Kristus sang Penyelamat” bukanlah menjadi keharusan menyimpulkan bahwa orang lain (atau pun penganut pagan seperti Socrates) tidak dapat diselamatkan. Kemudian sekarang muncul pertanyaan: Apakah Socrates diselamatkan? dan jika benar dia diselamatkan, pengecualian bagaimana yang berlaku untuk dia? Berapa banyak yang diselamatkan?

Jawaban pastinya adalah kita sebenarnya tidak tahu. Kita tidak menghakimi apa yang kita tidak bisa nilai.

Tetapi bukankah Yesus mengatakan bahwa hanya sedikit yang dapat diselamatkan dan jalan yang menuju ke kehidupan kekal adalah sempit, sementara jalan menuju ke kebinasaan sangat terbuka lebar (Matius 7:13-14)?

Ya benar Yesus mengatakan itu, tetapi “sedikit” dan “banyak” yang dimaksudkan di sini adalah bukan persentase matematika. Yesus adalah seorang pengasih, penyayang, bukan seorang matematikawan; Ia seorang pengembala, bukan seorang statistakawan. Pengembala yang baik dapat merasakan dombanya sama halnya orang tua yang baik dapat merasakan anak-anaknya: bahkan kehilangan satu pun adalah terlalu “banyak”, dan bahkan 99 yang terselamatkan dari 100 adalah terlalu “sedikit”. Ketika seorang murid bertanya kepada Yesus tentang perbandingan jumlah statistik yang akan masuk surga dan yang akan masuk neraka (“Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?”), jawab Yesus bukan “ya” atau “tidak”, tetapi “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!” (Luk 13:23-24). Dengan kata lain, “Pikirkan urusanmu sendiri!” Yesus tidak menanggapi atau membenarkan atau menolak pertanyaan itu tapi menekankan bahwa yang dimaksud adalah kita perlu berusaha walaupun sulit untuk masuk ke surga. Yesus tidak mau muridnya mengolah pertanyaan itu untuk mengira-ngira atau mengukur orang lain, karena selain tidak berguna juga berbahaya. Sama halnya mengenai kapan tepatnya hari kiamat terjadi – merupakan salah satu subjek lain yang dengan Kebijaksanaan Allah tidak memberitahukan kepada kita tentang itu (Matius 24:36).

Sehingga dengan demikian kita tidak akan tahu. Tapi kita dapat berusaha, dapat berkerja. Kristus tidak menjawab pertanyaan teori dari kita, tetapi Dia memberikan kita tugas praktek. Tugas yang mengutus kita untuk: mewartakan Injil ke segala makhluk. Apologetik seperti yang saya tulis ini juga merupakan bagian dari tugas saya, tugas kita, menjernihkan jebakan-jebakan intelektual yang menghalangi arah kita untuk beriman.

Cara yang paling efektif untuk mengimplementasikan (melaksanakan) perutusan kita adalah melalui kesucian, kemurnian. Kesucian, kemurnian membuktikan kenyataan dari Injil. “Setiap orang menyukai seorang yang penuh cinta kasih.” Yesus memenangkan banyak jiwa dengan cinta kasih-Nya, bukan dengan “teologi”. Jadi kita harus berkarya dengan kemurnian cinta kasih.

Dan para murid Yesus menuliskan buku-buku, menuliskan kitab-kitab (Kitab Perjanjian Baru) yang memberikan jawaban yang jelas untuk pertanyaan siapa yang menyelamatkan secara umum tetapi tidak memberikan jawaban yang jelas bagi pertanyaan yang tertentu.

Jawaban pertanyaan “Siapakah yang diselamatkan?” adalah jelas: “Dia yang haus” (Wahyu 22:17). Pintu surga selalu terbuka (Wahyu 21:25; 3:7-8; 4:1), dan pintu neraka terkunci dari dalam. Itu karena jika Allah adalah kasih yang murni, maka Keselamatan adalah murni pemberian. Jika Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma, pemberian gratis, maka semua akan menerimanya kecuali mereka yang menolak pemberian itu. Allah tidak menolak siapapun orangnya, tetapi ada orang yang menolak Allah.

(sekian).