Ketuhanan yang Maha Esa

Dalam Tap MPR no. III MPR/1978.(Naskah P4, II, 1) dikatakan bahwa “agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa yang dipercayai dan diyakininya. Maka dikembangkanlah sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya dan tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaannya itu kepada orang lain”.

Dan dalam penjelasan atas bab II, butir 1, P4, ditambahkan bahwa “rumusan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa … tidak berarti bahwa Negara memaksa agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sebab agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu berdasarkan keyakinan, hingga tidak dapat dipaksakan dan memang agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri tidak memaksa setiap manusia untuk memeluk dan menganutnya”. Oleh karena itu arti konkret Ketuhanan Yang Maha Esa tidak ditentukan oleh Negara, melainkan oleh agama, atau lebih tepat lagi oleh orang-orang beriman, para penganut agama. Tuhan memang satu, tetapi pengetahuan tentang Tuhan dan iman kepada-Nya berbeda-beda. Maka tidak cukup bila iman akan Tuhan Yang Mahaesa hanya dinyatakan saja. Perlu juga diterangkan, apa arti “Tuhan” dan apa isi iman kepada-Nya.

Bagi orang Kristen Katolik, Tuhan adalah Bapa yang mahakuasa dan penuh bela rasa, yang mewahyukan diri secara penuh kepada manusia melalui Putra-Nya Yesus Kristus, dan diimani oleh rahmat Roh Kudus. Namun dalam ciptaan-Nya Tuhan sudah menyatakan diri, dan iman akan Tuhan yang mewahyukan diri mengandaikan suatu pengalaman dan pengetahuan mengenai Allah pencipta. Dari satu pihak dikatakan dalam Injil bahwa “tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18). Jadi, hanya melalui pewahyuan Yesus-lah kita mengenal Allah Bapa dengan sesungguhnya. Akan tetapi dari pihak lain dalam Injil yang sama Yesus berkata, “Bapa-Ku memuliakan Aku, Dia yang kamu sebut “Allah kami” (Yoh 8:54). Apa yang diwahyukan oleh Yesus bukanlah arti kata “Allah”, melainkan bahwa Allah adalah Bapa-Nya dan Bapa semua orang. Diandaikan bahwa orang sudah mengalami dan mengetahui, meskipun mungkin kurang sadar dan jelas, siapa Allah. Lalu Yesus mewahyukan bahwa Allah itu Bapa semua manusia, yang ingin menerima manusia sebagai anak-anak-Nya, dalam kesatuan dengan Anak, yaitu Yesus. Maka iman akan Allah mengandaikan pengalaman dan pengetahuan mengenai Allah, dalam hidup orang di tengah-tengah dunia. “Sebab apa yang tidak tampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak pada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan” (Rm 1:18). Bagi orang beriman Kristiani pembicaraan mengenai Allah dimulai dengan pengalaman dan pengakuan akan Allah, yang telah dialami dan diketahui melalui dunia, ciptaan-Nya, dan diimani sebagai Bapa sebagaimana diwahyukan oleh Yesus. Allah itu yang menciptakan kehidupan dunia ini, sebagaimana dikatakan dalam syahadat iman “Aku percaya akan Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi”.

Apa yang anda pikirkan?