Kesetiaan Kasih dan Kesejahteraan Anak

Dengan menekankan hubungan pribadi antar-suami-istri, Konsili Vatikan II mengoreksi pandangan dari masa lampau, yang menganggap keturunan sebagai tujuan utama dalam perkawinan:
“Perkawinan diadakan bukan hanya demi adanya keturunan saja.” (GS 50) Hubungan seksual antara suami-istri mempunyai nilai yang tidak hanya berkaitan dengan prokreasi (untuk menurunkan anak). “Tindakan-tindakan, yang secara mesra dan murni menyatukan suami-istri, harus dipandang luhur dan terhormat. Bila dijalankan secara sungguh manusiawi, tindakan-tindakan itu menandakan serta memupuk penyerahan timbal-balik, cara mereka saling memperkaya dengan hati gembira dan rasa syukur” (lih. GS 49). Namun demikian, “anak-anak merupakan karunia perkawinan yang paling luhur …. Oleh karena itu pengembangan kasih suami-istri sejati, begitu pula seluruh tata hidup berkeluarga yang bertumpu padanya … bertujuan supaya suami-istri bersedia penuh keberanian bekerja sama dengan cinta kasih Sang Pencipta dan Penyelamat, yang melalui mereka makin memperluas dan memperkaya keluarga-Nya” (lih. GS 50).
Prokreasi bukan tujuan tunggal atau utama perkawinan, namun tetap merupakan suatu tugas luhur. Maka prokreasi pun bukan peristiwa alam, melainkan peristiwa pribadi, yang dijalankan dengan “tanggung jawab manusiawi dan Kristiani serta penuh hormat dan patuh-taat kepada Allah. Di sini orang perlu berembug dan berusaha bersama guna membentuk pendirian yang sehat, sambil mengindahkan baik kesejahteraan mereka sendiri maupun kesejahteraan anak-anak, baik yang sudah lahir maupun yang diperkirakan masih akan ada. Sementara itu hendaknya mereka mempertimbangkan juga kondisi-kondisi zaman dan status hidup mereka yang bersifat jasmani maupun rohani. Akhirnya mereka perlu memperhitungkan juga kesejahteraan dan kerukunan keluarga, masyarakat serta Gereja sendiri” (GS 50). Dalam mempertimbangkan semua kepentingan itu, mungkin akan timbul konflik lagi antara keinginan mempunyai anak di satu pihak, dan kemampuan ekonomi keluarga, kesehatan dan kekuatan psikis ibu serta keadaan masyarakat di pihak lain. Lebih lagi, dapat timbul konflik antara keinginan mengungkapkan kemesraan kasih dalam perkawinan dan tanggung jawab untuk tidak menambah jumlah anak (bdk. GS 51).
Banyak orang mencari jalan keluar dengan memakai alat atau obat yang mencegah kehamilan. Konsili Vatikan II yakin, bahwa dalam penggunaan alat atau obat kontrasepsi (pencegah kehamilan) masih diperlukan pemikiran dan pengarahan yang baru.

Ensiklik Paus Paulus VI, Humanae Vitae dari tahun 1968, mengajarkan “bahwa setiap tindakan perkawinan (maksudnya terutama sanggama) harus terbuka untuk penurunan hidup”. Berpangkal dari situ, ditolak sterilisasi dan semua alat dan obat, yang mencegah kehamilan. Diusulkan dan dianjurkan cara “Keluarga Berencana Alamiah”. Banyak warga umat mengalami konflik batin dengan metode ini. Maka dalam Penjelasan  Pastoral Tahun 1972, Majelis Agung Waligereja Indonesia memberi nasihat kepada “suami-istri yang bingung karena merasa dari satu pihak harus mengatur kelahiran, tetapi dari pihak lain tidak dapat melaksanakannya dengan cara pantang mutlak atau pantang berkala. Dalam keadaan demikian, mereka bertindak secara bertanggung jawab dan karena itu tidak perlu merasa berdosa, apabila mereka menggunakan cara lain (dari cara yang oleh Humanae Vitae disebut halal), asal cara itu tidak merendahkan martabat istri atau suami, tidak berlawanan dengan hidup manusiawi (misalnya pengguguran dan pemandul-an tetap) dan dapat dipertanggungjawabkan secara medis.” Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II Familiaris Consortia, tahun 1981, berbicara dengan lebih hati-hati daripada Humanae Vitae. Surat Apostolik itu memang menunjuk pada pernyataan Humanae Vitae tersebut tetapi kemudian juga mengutip pendapat Sinode Uskup-uskup Sedunia tahun 1980: “Cinta kasih antara suami dan istri harus bersifat sepenuhnya manusiawi, eksklusif dan terbuka pada hidup yang baru”.

Paus dan para uskup seluruh dunia masih menambahkan banyak pernyataan lain. Hal itu misalnya dapat dilihat dalam Pedoman Pastoral Keluarga tahun 1975 dari Majelis Agung Waligereja Indonesia. Para ahli teologi moral pun memberi banyak keterangan dan nasihat. Semua bicara mengenai hormat terhadap hidup dan mengenai kesetiaan antar-suami-istri, terutama dalam kesatuan mereka yang paling intim, hendaknya dijaga jangan sampai terjadi saling memanipulasi. Dalam Gereja Katolik semua pernyataan dan penjelasan itu belum berhasil membentuk suatu keyakinan bersama mengenai cara dan sarana mengatur kelahiran secara jelas. Sementara itu, masalah pengaturan kelahiran makin mendesak, karena merupakan salah satu unsur dalam tugas raksasa untuk memelihara bumi, untuk menguasai pertambahan penduduk dunia yang makin pesat, untuk mengembangkan tempat hidup bagi setiap orang yang lahir. Maka kesetiaan antar-suami-istri dan kasih antara pria dan wanita itu sebenarnya merupakan suatu usaha yang ter-pokok dan terpenting untuk menghormati hidup.

Apa yang anda pikirkan?