Kesatuan Pria-Wanita Diciptakan Allah

Rumus perintah ke-6 dan ke-9 yang lazim dipakai cukup berbeda dengan rumus Dasafirman dalam Kel 20:14.17 dan Ul 5:18.21: “Jangan berzinah! … Jangan mengingini istri sesamamu”. Perjanjian Lama berbicara mengenai zinah, jadi mengenai hak dan kehormatan keluarga. Perintah Gereja “jangan berbuat cabul” dan “jangan menginginkan yang cabul” memperhatikan kemurnian. Perbedaan kata itu mengungkapkan suatu perkembangan dalam pengertian moral mengenai seksualitas. Apa yang di dalam Perjanjian Lama dimaksudkan dengan “zinah”, jelas dari Ul 22:22,

“Apabila seorang laki-laki kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka harus keduanya mati, baik laki-laki yang tidur dengan perempuan maupun perempuan itu.”

Laki-laki dan perempuan bersalah, karena perempuan itu sudah bersuami. Tidak dipermasalahkan apakah laki-laki juga berbuat serong terhadap istrinya. Kalau seorang laki-laki memperkosa seorang gadis yang belum nikah atau bertunangan, ia harus membayar mas kawin pada ayahnya dan menikahi dia (bdk. Ul 22:28-29), lain tidak. Seakan-akan yang pokok adalah mas kawin! Seorang gadis adalah milik ayahnya; istri termasuk “rumah tangga” suaminya (lih, umpamanya Kel 20:17) dan tidak boleh disentuh oleh orang lain (barangkali untuk menjaga sahnya keturunan). Rumah tangga sesama tidak boleh diganggu. Ketertiban atau penyelewengan seksualitas sendiri tidak dipermasalahkan.

Namun dikatakan juga, bahwa zinah adalah “dosa besar” atau “kejahatan besar” (bdk. Kej 20:9; 39:9), sebab zinah langsung menyangkut kehidupan manusia, dan oleh karena itu juga mempunyai arti religius (bdk. Im 18:20). Perkawinan bukan hanya suatu institusi sosial, melainkan mempunyai nilai pribadi dan berhubungan dengan rencana penciptaan Tuhan sendiri. Kesatuan antara laki-laki dan perempuan diciptakan oleh Tuhan. “Tuhan Allah berfirman: Tidak baik kalau manusia tinggal seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kej 2:18). Laki-laki dan perempuan diciptakan satu bagi yang lain, supaya hidup bersama: dalam suaminya dan istrinya, manusia menemukan dirinya, “daging dari dagingnya sendiri” (bdk. Kej 2:23). Perjanjian Lama berbeda dengan banyak pandangan religius lainnya karena yakin bahwa seksualitas bukanlah suatu daya alam yang menguasai manusia ataupun suatu kuasa sakti yang harus kita layani. Seksualitas merupakan bagian dari hidup pribadi manusia, yang mengarahkan pada perjumpaan (bdk. Kej 2:24) dan pemenuhan.

Dalam kisah kelahiran Samuel, Elkana berkata kepada Haria yang semula mandul, “Bukankah aku lebih berharga bagimu daripada sepuluh anak laki-laki?” (1Sam 1:8; lih, Kej 29:20). Perjanjian Lama menampung seks dalam budaya rumah tangga. Poligami makin ditinggalkan. Hubungan suami-istri yang bernilai luhur dapat menjadi lambang bagi hubungan Allah dengan umat-Nya (bdk. Yeh 16:8-14), dan kasih-setia menjadi cita-cita perkawinan yang menggambarkan Allah setia pada umat-Nya. Zinah adalah kekerasaan terhadap perempuan (bdk. Am 2:6-8), terutama kalau orang yang kaya atau berkuasa memakai kedudukannya untuk memperalat sesama manusia. Dengan istri yang terkasih orang dapat menikmati hidup (bdk. Pkh 9:9); pelacuran dipandang sangat jelek (lih. Im 19:29; 21:9; Ul 23:18; Yer 5:7). Istri dan ibu rumah tangga mendapat kedudukan yang amat terhormat (bdk. Ams 31:10 dst.). Namun dalam rumah tangga sendiri berkuasalah bapak keluarga. Dan justru karena hubungan antara laki-laki dan perempuan itu makin mempunyai arti religius, maka hubungan mereka juga dibebani dengan rasa takut melakukan dosa.

Apa yang anda pikirkan?