Kenapa Natal pada tanggal 25 Desember?

Ada beberapa pertanyaan sering muncul, baik yang murni berasal dari rasa ingin tahu si-penanya atau yang berkesan si-penanya mencoba menyudutkan dan mencemooh pengetahuan umat kristen.

Pertanyaan yang muncul ada yang terkesan sangat sederhana, namun sebenarnya untuk memberikan jawaban yang memuaskan dengan sederhana dan singkat rasanya tidak mungkin karena pertanyaan sederhana tersebut memerlukan kemauan si-penanya untuk mengikuti semua alur, semua dasar-dasar iman kristen yang menjadi jawaban yang akan memenuhi jawaban sederhana tersebut.

Peringatan Natal yaitu peringatan peristiwa kelahiran Yesus Kristus di Gereja Katolik setiap tahunnya. Gereja Katolik memilih tanggal 25 Desember sebagai momen untuk memperingati peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Gereja Katolik tidak mengklaim bahwa tanggal 25 adalah hari yang sebenarnya waktu Yesus Kristus dilahirkan. Kebenaran fakta bahwa Yesus Kristus pernah dilahirkan oleh perawan bunda Maria adalah benar, namun ketepatan waktunya tidak diketahui. Namun yang menjadi inti dari peringatan tersebut adalah peristiwa kelahiran Yesus Kristus, Anak Allah.

Untuk mendukung peringatan peristiwa tersebut Gereja Katolik mengadakan masa advent bagi Umat Katolik, masa penantian, mempersiapkan batin, mengharapkan lahirnya juru selamat, selama 4 minggu sebelum hari Natal. Pada masa itu Gereja Katolik menekankan agar umat benar-benar sadar kenapa mereka menantikan dan mengharapkan datangnya Yesus Kristus, dan masa itu kemeriahan Natal sebari dipersiapkan namun tidak ditonjolkan, baik lagu, hiasan, ornament dan lain-lain karena yang ditekankan adalah fokus penantian yaitu menunggu dengan harapan. Sehingga yang dimaknai pada perayaan Natal tanggal 25 Desember adalah peristiwa Natal tersebut, bukan tanggal, bukan hari.

Pemilihan tanggal 25 Desember yang pada awalnya adalah salah satu tanggal hari perayaan kepercayaan Pagan sebelum agama Kristen dikenalkan pada penganut pagan tersebut. Ringkasnya Gereja Katolik memilih perayaan peringatan Natal jatuh tanggal 25 Desember juga dengan maksud menggantikan salah satu hari raya pagan yang lama. Gereja melakukan reformasi tanggal tersebut menjadikannya mempunyai makna yang baru yaitu memperingati peristiwa yang telah terjadi dahulu dan sangat penting yaitu kelahiran Yesus Kristus; yang pada masa lalunya ketika para umat setempat masih menganut pagan beralih menjadi Kristen. Maka hal ini merubah hari raya pada tanggal 25 Desember juga bersesuai dengan paradigma ajaran Kristen yaitu Inkarnasi. Sabda menjadi daging. 2000 Tahun lalu Yesus Kristus datang dilahirkan ke dunia pagan dan Yesus mereformasi dan menguduskan dunia ini dengan kehadiran-Nya di tengah-tengah dunia.

Oleh karena itu perlu diluruskan kesalahpahaman yang beredar bahwa bukanlah tanggal mutlak lepas dari maknanya, tetapi yang terpenting adalah suatu kebenaran iman dalam peristiwa yang diperingati pada perayaan yang jatuh pada tanggal tersebut. Penentuan atau pemilihan tanggal lebih mengarah agar terciptanya keseragaman, momentum, keteraturan, dan persiapan yang baik dalam kebersamaan umat secara luas (secara universal) agar makna peristiwa yang ingin diperingati pada hari yang jatuh pada tanggal tersebut dapat dirasakan dan dipahami lebih mendalam.

Beberapa pertanyaan-pertanyaan lanjutan:

  1. Harusnya dalam penepatan hari lahir Yesus Kristus adalah tanggal yang sebenarnya Yesus Kristus lahir?
  2. Sebenarnya kita merayakan natal hari kelahiran dewa agama sebelumnya?

Tanggapan untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut:

  1. Seperti yang sudah ditulis di atas … “Gereja Katolik tidak mengklaim bahwa tanggal 25 adalah hari yang sebenarnya waktu Yesus Kristus dilahirkan.” karena tidak ada tertulis di Kitab Suci mengenai tanggal kelahiran Yesus Kristus lahir. Dan menurut perhitungan oleh umat Kristen pada abad ke-4, yang paling mendekati perkiraan tanggal kelahiran Yesus Kristus adalah 25 Desember.
    Inkarnasi Sabda menjadi Manusia (Yesus Kristus) benar-benar terjadi pada salah satu hari sekitar 2000 tahun yang lalu. Kekurangan data-data bukanlah alasan untuk peniadaan, atau negasi dari karya Keselamatan Allah. Natal harus tetap dirayakan, secara menyeluruh dan bermakna agar Iman umat selalu diperbaharui – Iman akan hadirnya Allah Putra. Dan yang menjadi dasar utama, pondasi niat dan pemilihan tanggal 25 Desember oleh Gereja Katolik adalah Iman akan hadirnya Allah Putra, lahirnya Yesus Kristus.
  2. Pertanyaan kedua sangat menyimpang, dan si-penanya tidak memperdulikan dasar dan pikiran pokok dari Iman umat Kristen.
    Pertanyaan di atas serupa dengan pertanyaan yang nadanya: “Sebenarnya umat Kristen berdoa kepada siapa? Karena jika dilihat dari cara berdoa dengan memejamkan mata dan berkata-kata, sangat mirip dengan cara berdoa agama pagan.” – Pertanyaan yang kurang memahami permasalahan.

    Perayaan Natal sangat diperlukan agar pertanyaan ‘lupa ingatan’ seperti di atas tidak banyak terjadi. Karena Perayaan Natal bagi umat Kristen mempunyai makna yang sangat jelas dan tegas, yaitu Perayaan Kelahiran Yesus Kristus; sehingga jika ada yang mempertanyakan sebaliknya, perlu diselidiki niat dan maksud dari pertanyaan itu.

Berbagai agama pagan yang ada pada saat itu memiliki perayaan-perayaan dalam rentang sepanjang tahun kalender. Bulan atau tanggal apapun yang dipilih oleh umat Kristen awal untuk merayakan Kelahiran Yesus Kristus mungkin masih akan menempatkan Perayaan Natal dekat beberapa perayaan agama pagan, dan pihak-pihak yang bersebrangan dengan Kristen akan membuat klaim yang senada – menyudutkan tidak tepatnya pemilihan tanggal tersebut.

Namun ajaran Gereja telah jelas dan tegas sesuai dengan paradigma ajaran Kristen yaitu Inkarnasi Yesus Kristus yang benar-benar telah terjadi.

Apa yang anda pikirkan?