Kematian

“Di sini kita tidak mempunyai tempat-tinggal yang tetap” (Ibr 13:14). Ini bukan hanya iman Kristen. Semua orang mengetahui itu: “Masa hidup kita tujuh puluh tahun, dan jika kita kuat, delapan puluh” (Mzm 90:10). Cepat atau lambat, hidup kita berakhir dengan kematian. Oleh karena itu, sekarang ini pun, setiap saat kehidupan, kita berada “dalam bahaya maut sepanjang hari” (Mzm 44:23) dan “menjadi incaran maut sejak kecil” (Mzm 88:16). Maut bukanlah sesuatu yang entah kapan akan menimpa kita. Maut itu kenyataan keterbatasan hidup kita. Hidup kita mempunyai awal dan mempunyai akhir. Dengan demikian segala sesuatu yang kita lakukan bersifat terbatas dan fana, tetapi tidak tanpa arti. Dalam hidup di dunia ini hidup rahmat yang abadi sudah dimulai. Kita harus “mempergunakan waktu yang ada” (Ef 5:16), sebab justru dalam waktu ini kita membentuk sikap kita terhadap Tuhan. Di dunia ini kita membuktikan kepercayaan kita, tanpa melihat (bdk. Rm 8:24-25).

Kesadaran akan kefanaan hidup ini dapat menjadi alasan sewaktu-waktu sadar bahwa kita hidup di hadapan Tuhan. Maut membawa ke dalam hidup kita kesadaran akan tujuan hidup yang sejati. Hidup ini memang bersifat sementara, tetapi sikap hidup yang kita ambil sekarang bersifat definitif. “Barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkal dia di depan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 10:33). Arti hidup manusia ditentukan di dunia ini. Kematian berarti penyelesaian “pengembaraan” manusia (lih. Ibr 11:13; 1Ptr 1:1; 2:11).

Itu tidak berarti bahwa manusia mengambil keputusan definitifnya pada saat kematian. Selama seluruh masa “pengembaraan” ia mengambil sikap, lama sebelum kematian. Kematian memang penting dalam hidup manusia, tetapi bukan yang terpenting . Akhir hidup belum tentu sama dengan “penyelesaian hidup”. Bahkan sebaliknya, kalau manusia mulai surut kekuatannya, ia juga sulit mengambil keputusan dengan penuh kesadaran dan ketegasan. Paling-paling boleh diharapkan bahwa ia setia kepada keputusan yang telah diambil. Ia akan menyelesaikan hidupnya menurut arah dan dinamika yang sudah terletak di dalamnya. Tentu saja pelimpahan rahmat pertobatan pada akhir hidup tidak mustahil, tetapi juga bukan yang paling biasa.