Kemalangan

Gereja mengajarkan bahwa Allah menciptakan dunia dan manusia karena kebaikan-Nya dan untuk membagikan kebahagiaan-Nya sendiri. Bagi banyak orang kebenaran ini sulit didamaikan dengan segala kemalangan dan penderitaan yang ada di dunia, sebab kemalangan berarti bahwa kesejahteraan yang seharusnya ada, ternyata tidak ada. Tetapi bagaimana manusia dapat menentukan mana kesejahteraan yang “seharusnya” ada? “Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: Apakah yang kau buat?” (Yes 45:9). Bagaimana manusia mau protes mengenai hidup yang diberikan kepadanya? Pada umumnya ukuran kesejahteraan ditentukan oleh situasi dan kondisi manusia, terutama oleh kemungkinan-kemungkinan yang konkret. Tetapi banyak hal juga tergantung pada manusia sendiri dan lingkungan masyarakat. Ternyata banyak hal yang dari sudut manusia individual dapat disebut kemalangan, sebenarnya harus dikatakan amat normal, kalau dilihat dalam seluruh perkembangan alam semesta. Sering kali “kemalangan” tidak lain daripada situasi “terjepit” dalam pergolakan dunia (mis. banjir atau gempa bumi). Sering kali situasi dunia sebagaimana dibuat oleh manusia, juga menjadi rintangan bagi orang lain dalam perkembangan hidupnya. Masalah ekologi memperlihatkan hal ini dengan jelas sekali.

Di sini manusia individual sungguh ditantang dalam iman pribadinya. Bagaimana ia dapat mengakui kebaikan Tuhan, dalam pengalaman kemalangan yang menghancurkan hidupnya dan oleh karena itu juga mengancam imannya? Iman Kristen tidak memberikan jawaban yang murah, melainkan menunjuk kepada salib Kristus “yang dengan mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia” (Ibr 12:2). Iman Kristen, yang mau mengikuti jejak-Kristus, berusaha menerima hidup seadanya dan tetap menghargainya sebagai anugerah Allah. Keterbatasan hidup dapat menjadi godaan dan ancaman bagi iman. Menerima keterbatasan itu, dalam situasi hidup yang konkret, itulah iman akan Allah Pencipta. Tetapi banyak orang terpaksa berkata: “Aku percaya, Tuhan, tolonglah kekurangpercayaanku” (Mrk 9:24). Sebab “roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mrk 14: 38). Sering orang membutuhkan peneguhan seorang teman supaya bertahan dalam iman. Penderitaan tidak perlu diterangkan namun harus dihadapi, tidak sendirian melainkan bersama-sama. Salib Kristus berarti bahwa Tuhan sendiri ikut menghadapi kemalangan dunia dan kejahatan manusia. Iman mencari dasar kekuatannya dalam solidaritas Allah dengan manusia ini, sebab kemalangan adalah beban yang tidak dapat dimengerti, namun harus dihadapi.