Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 1)

Lambang atau ikon Katolik yang paling umum di dunia setelah Salib adalah Maria dan Yesus, Maria bersama Putranya. Terkadang kita sering menemukan gambar atau patung Yesus seorang diri tanpa bersama Maria, tetapi jarang menemukan Maria tanpa bersama Yesus. Dan jika pun kita menemukan Maria sedang sendirian, dia sedang menunjukkan kita kepada Yesus. Itulah yang seluruh hasrat hati Maria. Pihak Protestan khawatir kalau Maria akan mengalihkan perhatian umat Kristen dari Yesus Kristus, namun yang sebenarnya adalah tidak ada hal lain atau seorang pun yang lebih Kristus-sentris (berpusat kepada Kristus) dibandingkan dengan Maria. Dalam salam Elisabet yang diucapkannya kepada Maria, bagian dari salam itu yang menyenangkan hati Maria, dan yang paling diperhatikan adalah “diberkatilah buah rahimmu”; atau dalam doa dasar umat Katolik yaitu Salam Maria  ada pada bagian … “terpujilah  buah tubuh mu Yesus” ..

Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana. (Lukas 1:42-45)

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau diantara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin. (Doa Dasar – Salam Maria)

Oleh karena itu, bagaimana mungkin hal tersebut suatu kesalahan meminta Maria agar mengarahkan kita, menunjukkan untuk mencintai Yesus sebesar cintanya Maria kepada Yesus Putranya, atau meminta Yesus agar mengarahkan kita, menunjukkan untuk mencintai Maria seperti cinta Yesus kepada Ibu-Nya?

Dogma mengenai Maria oleh Gereja Katolik, seperti Konsepsi Tidak Bernoda dan Maria diangkat ke Surga, adalah dogma-dogma yang menjadi batu sandungan yang terbesar dan yang terakhir bagi umat Kristen Protestan yang ingin bersatu kembali ke Gereja Katolik. Bagi umat Katolik hal ini cukup aneh, karena walaupun dogma-dogma tersebut dianggap oleh umat Protestan sebagai “tambahan-tambahan” dari pihak Katolik dan dapat disalahartikan sebagai hal penyebab terganggunya fokus umat kepada Kristus, “menyaingi” Kristus, atau menjadi “pengganti” Kristus; umat Katolik memahami bahwa tidak ada satu hal atau seorang pun yang paling dekat kepada Kristus selain Maria Ibu-Nya (kecuali Allah Bapa-Nya dan Roh Kudus).

Hal-hal alkitabiah yang diutarakan oleh pihak Protestan mengarahkan penegasan Kepenuhan Keilahian Kristus. Pihak Protestan adalah (condong) Kristus-sentris. Tetapi begitu juga dengan Maria, begitu juga doktrin dogma-dogma Gereja mengenai Maria. Satu demi satu dari sekian banyaknya gelar yang diberikan oleh Gereja kepada Maria adalah untuk menjaga dan sebagai pujian dan peng-agung-an terhadap Keilahian Anaknya. Contoh klasiknya adalah “Bunda Allah”. Jika Maria bukanlah “Bunda Allah”, maka begitu juga Kristus bukan Allah (dan hal ini adalah penyangkalan terhadap Keilahian Kristus – bidah ini dikenal sebagai bidah Arian); atau jika Maria bukan Ibu dari Yesus Kritus (dan hal ini adalah penyangkalan terhadap Kemanusiaan Kristus – bidah ini dikenal sebagai bidah Docetis).

Keagungan Maria adalah pengagungan materi, manusia, penciptaan, Gereja, dan alam. Keagungan tersebut adalah konsekuensi yang paling pertama dari Inkarnasi dan “prinsip inkarnasi” dimana Rahmat Allah menyempurnakan Alam. Konsekuensi ini seperti riak air pada suatu kolam, dimana riak tersebut berbentuk lingkaran dan bergelombang menyebar luas ke luar dari pusat lingkarannya; dan penyebab riak air tersebut adalah suatu Batu yang jatuh dari Surga. Riak air yang disebabkan Batu tersebut bergerak meluas ke luar dari Kristus kepada Maria; kemudian kepada bangsa Israel; kemudian kepada Israel yang Baru, yaitu Gereja; kemudian kepada semua umat manusia; kemudian kepada semua alam, kepada semua hal materi, kepada semua ciptaan, yang kesemuanya itu sejak mulanya dipenuhi oleh Allah dengan hidup-Nya, hidup Allah sendiri seperti yang dikatakan dalam Alkitab kepada kita pada Roma 8:18-23.

Malaikat Allah mendatangi dan menyatakan kepada Maria bahwa dia “yang dikaruniai” (lebih jelas dan tegas dalam Alkitab terjemahan versi Douay-Reihms “full of grace”, atau lebih dikenal oleh umat Katolik dengan istilah “penuh rahmat”). Lalu pertanyaanya adalah seberapa besar karunia yang diberikan? seberapa “penuh” rahmat yang diberikan? Ukuran karunia/rahmat bagaimanakah yang dapat diberikan oleh Allah kepada suatu ciptaan belaka? … untuk menjawab pertanyaan itu: Lihatlah kepada Maria, maka akan terjawab. Apakah benar Allah mau berbaik hati, bermurah hati sedemikian rupa? Lihatlah kepada Yesus Kristus untuk menjawab pertanyaan itu.

Yesus sendiri menyerahkan Ibu-Nya, Maria kepada kita, ketika Yesus disalib, ketika dia berkata kepada Yohanes, “Inilah ibumu!”, dan Yesus menyerahkan kita kepada Maria pada waktu yang sama dengan berkata, “Ibu, inilah, anakmu!” (Yohanes 19:26-27). Untuk mengikuti kehendak Yesus Kristus secara penuh adalah menuruti apa yang Yesus minta hingga pada permintaan-Nya yang terakhir sewaktu Dia masih di dunia sebelum Dia wafat.

Yesus Kristus sebenarnya telah memberikan Ibu-Nya, Maria, kepada kita ketika Kristus belum Inkarnasi (pra-Inkarnasi – Logos), atau Sabda (Pikiran) dari Allah; Kristus telah memilih, menentukan sejak awal (mentakdirkan) Maria untuk menjadi Ibu-Nya. Kristus lah satu-satunya dalam sejarah dapat memilih Ibu-Nya sendiri. Kemudian Maria dengan pernyataanya “menerima” (“…; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” [Lukas 1:38]) melahirkan Yesus ke dunia dan kemudian Yesus menjadi Juru Selamat untuk kita. Maria secara harfiah adalah juga “pembawa kebahagiaan kita”, dan juga pembawa keselamatan kita, karena: (1) Maria adalah Ibu dari Yesus Kristus, dan (2) seorang Ibu adalah pembawa, yang mendatangkan Yesus, dan (3) Yesus adalah Kebahagiaan kita dan Keselamatan kita.

..bersambung ke Keilahian Yesus Kristus: Keagungan bagi bunda Maria, bunda Allah. (Bagian 2)..