Kebangkitan

Arti kebangkitan bagi para rasul menjadi jelas dari amanat Petrus kepada orang Yahudi pada hari Pentekosta.

“Seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36)

Kebangkitan tidak hanya berarti bahwa “Allah melepaskan Dia dari sengsara maut” (Kis 2:24). Dengan kebangkitan “Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama” (Flp 2:9). Nama itu gelar kehormatan dan mengungkapkan kebesaran dan keluhuran Yesus yang mulia.

Sebaiknya gelar itu (dalam bahasa Yunani Kyrios) diterjemahkan dengan “Tuan yang mulia” (serupa dengan “Yang dipertuan-agung”). Sesungguhnya tidak ada arti ilahi pada gelar itu. Dalam Septuaginta (terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) kata Kyrios dipakai sebagai ganti nama YaHWeh. Tetapi itu baru ditemukan dalam naskah yang lebih kemudian. Maka praktik menyebut Yesus Kyrios barangkali mendahului pemakaian gelar itu dalam Septuaginta (walaupun di kalangan Yahudi sudah lama ada kebiasaan mengucapkan “Tu(h)an”, di mana sebetulnya dibaca YaHWeh).

Gelar kyrios adalah khas Yunani. Di samping itu juga dipakai gelar yang lain untuk Yesus, yang berasal dari kalangan Yahudi, yaitu khristos. Gelar itu juga bahasa Yunani, tetapi menerjemahkan sebuah gelar Yahudi, yaitu MaSYiaKH (Ibrani) atau MeSYiHa (Aram). Secara harfiah kata itu berarti “(yang) diurapi”, dan dipakai sebagai gelar untuk raja dan imam, sebab di kalangan Yahudi orang dilantik sebagai imam atau raja dengan upacara pengurapan (misalnya Daud, 1Sam 16:13). Tetapi pada zaman Yesus sudah tidak ada raja (bangsa Yahudi dijajah oleh orang Roma, dan Herodes bukan raja Yahudi yang sah). Namun mereka tetap mengharapkan seorang raja, bahkan raja yang ideal. Sebab kepada Daud Tuhan telah menjanjikan, bahwa kerajaannya tidak akan berakhir (bdk. 2Sam 7:11- 16; 1Raj 2:3-4).

Dengan demikian, sejak zaman para nabi, bangsa Yahudi berpegang teguh pada harapan akan seorang raja yang ideal. Maka pada zaman Yesus gelar MaSYiaKH, atau seperti lazim dikatakan Mesias (ataupun dengan rumusan Arab, al-Masih), menjadi gelar untuk raja ideal yang dinanti-nantikan. Ternyata sesudah kebangkitan gelar itu dikenakan pada Yesus. Mengapa?

Tidak ada keterangan yang jelas dalam Kitab Suci sendiri. Perlu diperhatikan bahwa biasanya gelar “Kristus” dihubungkan tidak hanya dengan kebangkitan, tetapi juga dengan wafat Yesus (lih. mis. 1Kor 15:3-5). Menurut Mrk 15:28, “alasan mengapa Ia dihukum, disebutkan pada sebuah tulisan yang terpasang di salib: Raja orang Yahudi”.

Pilatus, sebagai orang asing, memakai kata “Raja” dan “orang Yahudi”, Tetapi dalam ay. 32 berbicaralah orang Yahudi asli, dan berkata “Kristus, Raja Israel”. Maka kiranya pemakaian kata “Kristus” berasal dari tulisan yang dipasang di atas salib. Menurut Mrk 8:29 dsj. Petrus sebetulnya sudah mengakui Yesus sebagai Kristus di Kaisarea Filipi. Tetapi tidak mustahil bahwa Markus, di kemudian hari, mempergunakan gelar Kristus (yang sebetulnya baru dipakai sejak kebangkitan) untuk merumuskan dengan jelas pengakuan iman Petrus.

Pilatus memakai gelar “Raja” barangkali sebagai ejekan untuk seorang “pemberontak”. Sesudah kebangkitan Yesus para murid-Nya mengubah gelar ejekan ini menjadi nama kehormatan, yang mengandung arti keselamatan juga.

Untuk raja Israel tidak hanya dipakai gelar “MaSYiaKH” (Yunani: khristos), melainkan juga kata “Anak Allah”, sebagaimana tampak dalam Yoh 1:49; Luk 4:41; Kis 9:20-22:

Yoh 1:49: Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel.
Luk 4:41 Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak:
“Engkau adalah Anak Allah”.
Lalu Ia menghardik mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.
Kis 9:20 Ia [Paulus] memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.
Saulus … membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias.

Memang orang Yahudi sudah menyebut raja mereka “anak Allah” (lih. mis. 2Sam 7:14; Mzm 2:7; 89:28). Pada zaman Yesus sebutan itu sebetulnya sudah tidak lazim, tetapi dari Kis 13:32-33 kelihatan bagaimana murid-murid Yesus memakai Mzm 2 untuk mengungkapkan kemuliaan Yesus yang telah dibangkitkan.

Kiranya sebutan “Anak Allah” dalam Luk 1:32.35 juga masih mempunyai arti mesianis dan dihubungkan dengan janji-janji kepada Daud. Sama halnya dengan kisah penggodaan Yesus (Mat 4:1-11), yang juga berhubungan langsung dengan kisah pembaptisan, ketika Ia “dilantik” sebagai utusan Allah. Tidak hanya pada penggodaan, juga pada banyak kesempatan lain setan menyapa Yesus dengan sebutan itu (lih. Mrk 3:11 dsj.; 5:7). Pertanyaan imam agung pada waktu pengadilan juga menyangkut kedudukan Yesus sebagai Mesias (lih. Mat 26:63; Mrk 14:61; Luk 22:70), dan ejekan di bawah salib (yang menyalahgunakan Mzm 22) mempunyai latar belakang yang sama.

Dari pengakuan kepala pasukan di bahwa salib (Mrk 15:39 dsj.) kelihatan bahwa bagi Gereja perdana “Anak Allah” tidak tepat sama dengan gelar “Kristus”. Hal itu lebih jelas lagi dari Rm 1:3-4:

“tentang Anak-Nya, yang
menurut daging diperanakan dari keturunan Daud, dan
menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.”

Dari teks di atas tampak bahwa “keturunan Daud” sebagai keadaan “menurut daging” dilawankan dengan “Anak Allah” sebagai hidup “menurut Roh kekudusan”. Kiranya perlu diingat bahwa dalam surat-surat Paulus, Yesus disebut “Anak Allah” kalau Dia dilihat dari sudut Allah. Kata “Anak Allah” bukan hanya gelar, tetapi mengungkapkan hubungan pribadi Allah dengan Yesus, sesuai dengan pembicaraan Yesus sendiri mengenai Allah sebagai Bapa-Nya.

Apa yang anda pikirkan?