Keadilan melalui Pembebasan

Ajaran sosial Gereja itu bukan teori. Keutamaan sosial itu masalah praksis. Untuk memperingati delapan puluh tahun Rerum Novarum Paus Paulus VI dalam Octogesima Adveniens (1971) mendorong pelaksanaan pembaruan sosial. Paus menyapa khususnya orang-orang awam dalam Gereja, supaya secara aktif dan bertanggung jawab menjalankan tugas mereka yang demokratis dan sosial. Pada tahun 1971 itu juga, para wakil konferensi-konferensi uskup yang berkumpul di Roma untuk Sinode Uskup-uskup Sedunia yang ketiga, merangkum hasil perundingan mereka dalam pernyataan mengenai “Keadilan di Dunia” (Justitia in Mundo), “Bagi kami, keterlibatan dalam penegakan keadilan dan partisipasi dalam perubahan dunia merupakan unsur konstitutif pewartaan kabar gembira, yakni perutusan Gereja untuk penebusan umat manusia dan untuk pembebasannya dari segala penindasan.” Gereja dan dunia tidak lagi dilihat sebagai dua bidang tersendiri, yang terpisah satu sama lain. Iman yang diungkapkan dalam Gereja harus diwujudkan dalam dunia. Tapi Sinode juga tidak ingin mengaburkan perbedaan antara Gereja dan dunia. Jadi Sinode mengakui otonomi dunia sepenuhnya dan sekaligus mengingatkan bahwa orang beriman mempunyai tugas konkret – atas dasar iman sendiri- di dalam dunia.

Orang beriman bertugas menegakkan keadilan. Hal itu bisa dicapai hanya dengan perjuangan demi pembebasan. Maka amat mendesaklah tugas membangun suatu budaya pembebasan. Gereja sendiri harus memulainya dengan membina budaya pembebasan dalam lingkungannya sendiri. Sinode Uskup-uskup sedunia yang berikutnya (1974) membicarakan tema pewartaan. Paus Paulus VI merangkum hasil pembicaraan para uskup dalam Himbauan Apostolik Evangelii Nuntiandi (1975), yang membahas tugas pewartaan Injil: “Pusat pewartaan injil” adalah “warta pembebasan”. Allah Penyelamat mau terlibat dalam sejarah manusia dan oleh sebab itu injil harus diwartakan kepada manusia yang bergulat dengan masalah sosial. Orang beriman yang menanggapi panggilan Allah, mesti ikut juga dalam perjuangan pembebasan, karena yakin akan pembebasan dan penebusan oleh Allah. Allah Pembebas itu menantang semua penindasan manusia. Adalah tugas Gereja untuk “mewartakan Injil karena Injil itu adalah ragi untuk pembebasan dan perubahan sosial. Dunia Asia memerlukan nilai-nilai Kerajaan Allah dan nilai-nilai yang berasal dari Kristus, supaya terciptalah perkembangan, keadilan, perdamaian, dan keserasian dengan Tuhan di antara berbagai bangsa dan dengan semua ciptaan. Semuanya itu dirindukan oleh semua bangsa di Asia” (Sidang Paripurna Federasi Konferensi para Uskup Asia, Bandung 1990).