Iman

Sejauh dilihat dari pihak Allah yang menjumpai dan memberikan Diri kepada manusia, wahyu merupakan pertemuan Allah dan manusia. Dilihat dari pihak manusia yang menanggapi wahyu dan menyerahkan diri kepada Allah, iman adalah pertemuan yang sama. Secara konsekuen Konsili Vatikan II berkata:

“Kepada Allah yang menyampaikan wahyu, manusia wajib menyatakan ketaatan iman. Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan kepatuhan akal budi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan, dan dengan sukarela menerima sebagai kebenaran, wahyu yang dikaruniakan oleh-Nya” (DV5).

Perlu diperhatikan bahwa Konsili mengambil alih rumusan St. Paulus tentang “ketaatan iman” (Rm 1:5; 16:26; lih. juga 2Kor 10:5- 6). Tuhan menyapa manusia sebagai sahabat dan mendekatinya sedekat mungkin, Tetapi Allah tetap Allah, dan di hadapan Allah manusia harus tetap mengaku diri sebagai “hamba yang tak berguna” (Luk 17:10). Sikap ini merupakan pokok iman. Konsili Vatikan II mengatakan “kepatuhan akal budi serta kehendak yang sepenuhnya”. Tekanan ada pada kepatuhan penuh, sebab hanya iman seperti itu dapat menjadi jawaban wajar terhadap wahyu Allah, sebagaimana kelihatan pada contoh Abraham. Iman adalah penyerahan total kepada Allah yang menyatakan diri tidak karena terpaksa, melainkan “dengan sukarela”. Meskipun tidak setingkat, hubungan itu sungguh merupakan hubungan persahabatan. Sebagaimana Allah “dari kelimpahan cinta kasih-Nya menyapa manusia” (DV 2), begitu juga jawaban manusia berasal dari hati yang tulus dan ikhlas. Sudah sejak semula Gereja menekankan bahwa iman bersifat bebas merdeka.

“Salah satu pokok yang amat penting dalam ajaran Katolik, yang tercantum dalam sabda Allah dan terus menerus diwartakan oleh para Bapa Gereja, yakni manusia wajib secara sukarela menjawab Allah dengan beriman; maka dari itu tak seorang pun boleh dipaksa melawan kemauannya sendiri untuk memeluk iman. Sebab pada hakikatnya kita menyatakan iman kita dengan kehendak yang bebas, karena manusia … tidak dapat mematuhi Allah yang mewahyukan diri, kalau ia, sembari ditarik oleh Bapa, tidak dengan bebas menyatakan kepada Allah ketaatan imannya, yang secara rasional dapat dipertanggungjawabkan” . (DH 10).

Kebebasan itu tidak hanya berarti kebebasan fisik, tanpa paksaan dari luar. Bahkan kebebasan itu juga bukan hanya berarti kebebasan berpikir dan kemerdekaan mengambil keputusan menurut keyakinannya sendiri. Malahan kebebasan ini lebih daripada mengikuti suara hati dan menentukan arah hidup sendiri. Dengan bebas manusia memasuki kemerdekaan anak-anak Allah (lih. Rm 8:21),yakni kemerdekaan seseorang yang dibebaskan dari segala rasa takut dan merasa diri aman dalam tangan Tuhan. Maka kebebasan iman berarti keyakinan bahwa lebih baik menyerahkan diri kepada kebaikan Tuhan daripada memusatkan segala perhatian pada diri sendiri. Kasih Allah menembus rasa takut dan bela diri, yang mengurung manusia dalam dirinya sendiri dan membuatnya menjadi budak perasaannya sendiri. Iman membebaskan karena memecahkan belenggu ketakutan dan kecurigaan,

Dalam iman, manusia menyadari dan mengakui bahwa Allah yang tak-terbatas berkenan memasuki hidup manusia yang serba terbatas, menyapa dan memanggilnya. Iman berarti jawaban atas panggilan Allah, penyerahan pribadi kepada Allah yang menjumpai manusia secara pribadi juga. Dalam iman manusia menyerahkan diri kepada Sang Pemberi Hidup. Pengalaman religius memang merupakan pengalaman dasar, kendati belum berarti pertemuan dengan Allah dalam arti penuh. Di atas pengalaman dasar itulah dibangun iman, penyerahan kepada Allah, pertemuan dengan Allah. Manusia dari dirinya sendiri tak mungkin mengenal Allah. Umat Kristen mengenal Allah secara pribadi sebagai Bapa, melalui Yesus. “Tidak seorang pun mengenal Bapa, selain Anak dan orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakan-Nya” (Mat 11:27).

Iman merupakan hubungan pribadi dengan Allah, yang hanya mungkin karena rahmat Allah. Akan tetapi iman tidaklah buta. Orang beriman mengetahui kepada siapa ia percaya (lih. 2Tim 1:12). Unsur pengetahuan ini, yang berakar dalam pengalaman hidup manusia, sungguh-sungguh bersifat insani. Oleh karena itu, pengalaman religius perlu dibedakan (bukan dipisahkan!) dari iman sendiri. Mengenai hal ini tradisi Katolik dan tradisi Protestan berbeda pendapat. Protestantisme sangat menekankan ketidakmampuan manusia (karena dosanya) untuk mengenal, bahkan mengetahui Allah. Sebaliknya tradisi Katolik mengajarkan bahwa tanpa pengetahuan yang sungguh manusiawi, (artinya, yang berakar dalam pengalaman hidup manusia) iman kurang “kena” pada manusia. Tanpa pengetahuan yang sungguh manusiawi mengenai Allah, iman kurang rasional dan dalam arti itu juga kurang manusiawi. Tetapi dalam hal ini mungkin rumusan ajaran Katolik kadang-kadang juga sedikit berat sebelah,

Dalam Rm 1:20 Paulus mengatakan bahwa “apa yang tidak tampak dari Allah, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat menjadi tampak pada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan”, Mengenai orang yang tidak sampai pada pengetahuan itu, ia menarik kesimpulan bahwa “mereka tidak dapat berdalih”. Rm 1:20 dikutip oleh Konsili Vatikan I (1870) sebagai bukti bahwa “Allah dapat dimengerti dengan terang kodrati budi manusia” (DS 3004; lih. 3015). Konsili Vatikan II (1962-65) melengkapi pernyataan itu dengan mengatakan bahwa pengetahuan itu tidak boleh dilepaskan dari iman dan wahyu. Memang, kalau seseorang tidak mengakui bahwa Tuhan itu ada, ia juga tidak terbuka lagi bagi wahyu Tuhan. Tetapi pengetahuan manusia bukanlah dasar iman. Konsili Vatikan I melihat soal ini pada latar-belakang rasionalisme zamannya. Konsili Vatikan II memberikan rumusan yang lebih biblis-teologis. Namun Konsili Vatikan II (yang mengutip Konsili Vatikan 1) tetap mempertahankan bahwa dalam iman juga ada unsur pengetahuan yang sungguh rasional dan oleh karena itu berakar dalam pengalaman hidup manusia.

Pengalaman religius, iman, dan pengetahuan merupakan aspek-aspek dalam hidup orang beriman. Orang yang beriman tahu lebih mendalam mengenai Allah justru dalam penyerahan iman. Tidak mungkin mengenal seseorang tanpa mengetahui apa-apa mengenai dirinya. Begitu juga, orang tidak dapat menyerahkan diri kepada Allah, kalau ia tidak mengetahui siapakah Allah itu. Supaya dapat beriman dengan sungguh-sungguh, manusia harus mengetahui kepada siapa ia menyerahkan diri. Selanjutnya dalam penyerahan itu orang memasuki pengetahuan lebih mendalam.